Steve Jobs, legenda teknologi pendiri Apple dan arsitek dari produk-produk legendaris seperti IMac, Ipod, Iphone dan Ipad telah tiada pada tanggal 6 Oktober 2011.
Sebenarnya, saya sendiri tidak pernah memiliki produk Apple. Saya pernah mengunakan iMac saat saya aktif di koran kampus, tapi saya lebih menyukai memakai PC untuk kesehariannya. Saya juga tidak pernah dan tidak tertarik untuk memiliki Ipod, Iphone atau Ipad.
Mungkin kalian bertanya-tanya, lalu apa pentingnya Steve Jobs bagi saya? Ngapain saya menulis tentang dia di blog fotografi?
Saya mengenal lebih dekat tentang filosofi Steve Jobs saat saya tidak sengaja menonton video clip di YouTube tentang pidato Steve Jobs di Stanford University. Pidato ini dialamatkan ke mahasiswa/i yang baru di wisuda. Di pidato yang sangat inspiratif itu. Steve Jobs bercerita tentang hidupnya dan juga bagaimana dia lolos dari maut di tahun 2004.
Steve Jobs didiagnosa menderita kanker pankreas yang langka tahun 2004. Dokternya mengatakan dia hanya bisa bertahan hidup 3-6 bulan lagi. Tapi karena keajaiban, hidup Steve Jobs bisa diperpanjang melalui operasi.
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart. … Stay hungry. Stay foolish.”Steve mengingatkan kita bahwa saat kita akan mati, semua harapan dari lingkungan, kebanggaan, ketakutan akan malu dan gagal akan hilang. Yang tinggal hanya yang paling penting dalam hidup kita.
Sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mengikuti hati, hanya sibuk mencari uang yang tidak ada akhirnya atau mengikut rutinitas yang tidak disukai. Tidak terasa, kematian sudah di depan mata.
Steve Jobs beruntung karena sejak dia menderita kanker pankreas, dia mengetahui kematiannya tidak akan lama lagi, maka dari itu tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mengambil langkah-langkah besar.
Beberapa saat yang lalu, saya diwawancara oleh sebuah majalah tentang fotografi. Salah satu pertanyaannya adalah sebagai berikut:
“Bisa dipromosikan keunggulan Anda sehingga ketika baru kembali di Indonesia Anda nekad berani langsung membuka kursus fotografi, bahkan mengeluarkan buku belajar fotografi?”Sebagian besar dari kita tidak mengetahui kapan kita mati? mengapa kita melakukan apa kata hati kita? Meski saya tidak terkenal, karya saya tidak banyak, ilmu saya masih dangkal, tapi kenapa saya harus menunggu sampai hari itu tiba? Saya tidak tahu kapan saya mati, dan saya tidak mau menyia-nyiakan hidup saya untuk melakukan apa yang saya sukai, fotografi dan mengajar.
Terima kasih atas inspirasinya Steven Paul Jobs, Rest in Peace!
www.infofotografi.com






0 komentar:
Posting Komentar