The Fifth Wonder World

Perjalanan wisata ke candi borobudur yang merupakan keajaiban dunia yang ke 5

Borobudur Temple

Nice viewer for enjoying time

Indrayanto Beach

One of a lot beautiful beach in jogja

Jogja APKOM

At jogja Computer exhibition day

Deep Struggle

One of Indonesian Struggle

Kamis, 15 Maret 2012

Keunggulan dan kelemahan sistem kamera DSLR : Canon, Nikon, Sony, Pentax dan Olympus

Banyak yang menanyakan apa keunggulan dan kelemahan suatu sistem kamera DSLR. Pada umumnya, semua kamera DSLR hampir sama: memiliki sensor berukuran besar lebih besar dari kamera saku/ponsel, memiliki fungsi manual dan otomatis. Yang membedakan biasanya adalah desain, fitur dan koleksi lensa dan aksesorisnya.
Sulit mengatakan sistem mana yang terbaik karena masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Selain itu juga tiap model berbeda-beda dan punya keunggulan-kelemahan sendiri pula.
Menurut pengamatan saya selama dua tiga terakhir ini, saya akan ulas secara singkat beberapa keunikan sistem kamera DSLR yang populer.
canon-1000d
Canon 1000D, salah satu kamera pemula termurah saat ini
Canon: Salah satu sistem kamera DSLR kamera yang paling populer di dunia. Canon memiliki koleksi lensa yang lengkap dari yang berkualitas rendah sampai tinggi. Kamera-kameranya juga lengkap dari untuk pemula sampai yang sangat canggih untuk profesional kelas atas.
Saya menyukai kamera-kamera pemula merek Canon dibandingkan dengan merek lainnya karena kamera pemula Canon seperti 1000D, 500D dan 550D saya pikir mudah digunakan, antar muka dan menunya juga sangat rapi dan terorganisasi dengan baik. Kekurangan kamera pemula Canon yaitu bahannya agak murahan dan tidak begitu enak gengamannya.
Satu-dua tahun terakhir ini, Canon lebih fokus dalam pengembangan kamera DSLR yang bisa merekam video clip. Sampai saat ini, hampir semua kamera DSLR Canon melampaui pesaingnya dalam urusan merekam video.

Nikon D3S, kamera canggih idaman fotografer, terutama yang untuk 
event atau photojournalistik
Nikon D3S, kamera canggih idaman fotografer, terutama yang untuk event atau photojournalistik
Nikon: Sama seperti Canon, sistem Nikon bisa dibilang cukup komplit. Banyak lensa Nikon yang berkualitas tinggi dan lebih mahal dari Canon. Saya menyukai kamera Nikon terutama yang canggih (D300s, D700, D3) karena auto fokusnya bekerja sangat baik, mungkin yang terbaik dibandingkan merek lain. Pengendalian noise di ISO tinggi juga sekelas diatas merek lain, sehingga cocok digunakan untuk foto di kondisi ruangan yang gelap.
Tidak seperti Canon, saya tidak begitu menyukai kamera pemula Nikon (D40, D60, D3000, D3100) karena antar mukanya saya pikir kurang baik. Contohnya menu yang susunannya kurang rapi dan juga tombol-tombol yang tersedia kurang untuk mengakses settingan yang sering dipakai. Selain itu, kamera pemula Nikon tidak memiliki motor auto fokus sehingga untuk beberapa lensa lama, tidak bisa mengunakan auto fokus (hanya manual).
Sony: Sony adalah pendatang yang relatif baru, tapi teknologinya mengunakan teknologi Konica Minolta yang di akuisisi Sony beberapa tahun yang lalu. Sony cukup agresif dan banyak mengeluarkan model-model baru setiap tahunnya, tapi model-model kamera tersebut mirip-mirip. Sony juga memiliki deretan model kamera dari yang untuk pemula sampai untuk yang profesional, meski yang untuk profesional tidak secanggih dan sebanyak Canon & Nikon.
sony-nex-5
Sony NEX-5, kamera mirip SLR yang dikembangkan Sony satu tahun terakhir ini
Ada beberapa keunikan di kamera-kamera Sony dibanding Canon dan Nikon. Misalnya kamera-kameranya ada fitur built-in steady shot yang membantu mencegah foto blur karena getaran tangan kita (kalau Canon & Nikon fitur ini terletak di lensa). Lalu banyak kamera Sony juga memiliki dua sensor auto fokus sehingga auto fokus saat mode live view (seperti kamera saku) jauh lebih cepat daripada kamera merek lain. Selain itu, banyak model kamera Sony yang memiliki layar LCD yang bisa di putar sehingga memudahkan komposisi foto diatas kepala atau dibawah kaki.
Dalam perkembangannya, kamera pemula Sony tidak begitu berubah dalam fiturnya, paling hanya desain yang sedikit berubah. Untuk pilihan kamera canggihnya, Sony tidak menawarkan banyak, A700 dan A900 sudah cukup lama belum di perbaharui.
Di pihak lain, Sony gencar dalam memproduksi kamera-kamera mirip DSLR seperti Sony A55, A33, dan Sony NEX-5, NEX-3.
Pentax: Pentax bisa dibilang pemain kecil di kancah kamera DSLR, tapi desain kamera Pentax sebenarnya cukup baik. Fokus Pentax dalam beberapa tahun terakhir adalah tampil beda (Be Different). Kamera DSLR Pentax seperti km, kx kecil tapi kokoh dengan fitur yang cukup bersaing. Keunikan kamera ini adalah memakai batere AAA universal, sehingga kalau kehabisan batere, bisa langsung membeli di toko terdekat. Pentax k-x juga tersedia dalam berbagai warna seperti putih dan merah.
Warna warni Pentax k-x hanya tersedia di Jepang
Warna warni Pentax k-x. Sebagian besar hanya tersedia di Jepang
Lalu Pentax juga memiliki K7 dan K5, yaitu kamera SLR canggih yang berukuran tidak begitu besar, tapi tahan di cuaca yang buruk, termasuk di kondisi sangat dingin. Secara sistem, koleksi lensa Pentax tidak sebanyak the big three (Canon, Nikon, Sony) tapi Pentax memiliki lensa – lensa prime/fixed yang sangat kecil dan berkualitas tinggi seperti Pentax 70mm f/2.4, 31mm f/1.4 dan sebagainya. Seperti Sony, semua model kamera Pentax juga terdapat built-in peredam getar.
Olympus: Keunikan sistem DSLR Olympus terletak pada ukuran kamera dan lensa yang relatif lebih kecil dan kurus. Hal ini karena Olympus memakai sensor 4:3 (four thirds), yang lebih kecil dari DSLR yang ada diatas. Akibatnya kualitas foto maksimal dari sensor 4:3 ini agak kurang terutama di ISO tinggi. Namun demikian, kualitas foto Olympus jauh lebih baik dari kamera saku. Meski kecil, kamera Olympus kecuali model E-420, juga terdapat fitur built-in peredam getar.
Olympus E-620 termasuk salah satu kamera DSLR termungil
Olympus E-620 termasuk salah satu kamera DSLR termungil
Tahun lalu adalah tahun yang kurang menggembirakan dalam perkembangan sistem DSLR Olympus. Di tahun itu, Olympus mengumumkan akan mengkonsentrasikan diri ke pengembangan micro four thirds (kamera mirip DSLR yang berukuran lebih kecil) dan menghentikan pembaharuan lensa untuk DSLR.
Demikianlah sekilas pandang sistem kamera yang ada di pasaran saat ini, semoga bisa jelas dan membantu.

Street Photography


Bapak Street Photographer
Henri Cartier Bresson - Bapak Street Photographer
Street Photography atau fotografi jalanan adalah aliran fotografi yang menarik.  Sedikit berbeda dengan fotojurnalistik yang fokusnya mengabadikan momen puncak/klimaks . Street photography bertujuan untuk merekam kegiatan sehari-hari .  Foto biasanya diambil dari jarak dekat dan fotografer berada disekitar objek daripada dari jarak jauh.
Fotografer harus dapat mengambil gambar dengan diam-diam tapi bukan sembunyi dan melakukannya dengan cepat dan lugas.
Peralatan fotograferjuga harus menunjang. Kamera klasik yang sering digunakan adalah kamera film buatan Leica. Saat ini, kamera SLR digital pun sudah sering dipakai. Lensa yang dipakai biasanya lensa pendek atau wide angle. 28mm, 35mm and 50mm biasanya adalah favorit fotografer jenis ini.
Memilih kamera digital SLR untuk fotografi jalanan cukup menantang, pertama kita memerlukan kamera berukuran kecil, tapi enak digenggam dan cukup responsif dalam auto fokus maupun saat mengambil gambar. Kamera saku kurang ideal dalam fotografi jenis ini karena kamera ini memiliki jeda dalam pengambilan gambar/ shutter lag.  Kamera berukuran kecil penting karena kita tidak ingin orang-orang di jalan memperhatikan kamera kita.
Gaya street photografi dan fotojurnalisme sering dipadukan dalam meliput acara seperti pernikahan. Contoh legenda street photographer adalah Henri Cartier-Bresson.
Merekam momen kehidupan - Cartier Bresson
Merekam momen kehidupan - Cartier Bresson

Sifat yang diperlukan untuk menjadi fotografer yang sukses

Saat saya membaca kisah fotografer sukses, saya sering bertanya kepada diri sendiri, apakah ada sifat-sifat tertentu yang dimiliki seseorang yang bisa membuat mereka menjadi sukses? Setelah berpikir beberapa minggu terakhir ini, saya merasa ada tiga sifat utama yang menentukan kesuksesan seorang fotografer.
Sebelum lanjut, saya perlu menyampaikan definisi sukses versi saya. Kesuksesan seorang fotografer bukan karena fotografernya terkenal, atau kaya, tapi bagaimana karya-karyanya mampu membuat orang banyak terinspirasi dan bahkan bisa mengubah dunia.
Sifat pertama adalah keberanian
Keberanian penting sekali dan membedakan antara foto yang biasa-biasa saja dengan foto yang luar biasa. Keberanian bukan cuma berarti keberanian mengambil foto di daerah konflik / perang, demonstrasi dan tempat-tempat yang membahayakan jiwa. Tapi juga keberanian terhadap banyak hal yang lain.
Misalnya, keberanian untuk foto dari jarak dekat. Robert Capa, seorang fotojurnalis perang mengatakan bila foto Anda kurang bagus, berarti Anda kurang dekat. Misalnya banyak fotografer pemula malu-malu (terutama foto manusia) dan hanya mengambil foto dengan telephoto zoom dari jarak jauh.
Lalu, fotografer yang sukses juga harus berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh fotografer lainnya, seperti mengambil sudut pandang dari berbeda, mencoba komposisi dan eksposur yang baru, dan sebagainya. Karena takut akan hasil yang buruk, maka banyak fotografer meniru teknik foto fotografer lainnya, sehingga pemirsa menjadi bosan karena telah melihat foto semacam itu berulang kali.
Bila tertarik dengan subjek manusia, maka kita juga harus berani untuk meminta ijin orang untuk difoto. Sebagian besar fotografer pemula malu-malu untuk mendekati orang yang menarik untuk difoto karena takut ditolak. Karena itu banyak kesempatan foto bagus yang terlewatkan.
Terakhir, berani untuk melawan kepercayaan konvensional tentang profesi fotografer tidak bisa kaya dan dianggap kelas bawah dibanding dengan profesi lainnya seperti dokter, pengacara, bankir dan lain lain. Untuk menjadi fotografer yang sukses, memang awalnya dibutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. 
Sifat yang kedua adalah rasa keingintahuan (curiosity)
Memiliki keberanian dalam menekuni bidang fotografi ini tidak cukup, tapi seorang fotografer sukses harus selalu dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Misalnya selalu ingin tahu bagaimana bisa membuat hasil karya menjadi lebih baik lagi dengan membaca artikel baik di media cetak atau elektronik. Ingin mengetahui sepak terjang fotografer lainnya. Ingin mengetahui dan belajar dengan fitur-fitur baru kamera digital modern sehingga bisa memanfaatkan teknologi untuk mencetak hasil karya yang lebih baik lagi. Intinya sebagai fotografer yang sukses, kita tidak boleh ignorant (mengabaikan) perkembangan teknologi dan zaman.
Sifat yang ketiga adalah disiplin dan kegigihan
Meskipun seorang fotografer memiliki keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi, tapi bila tidak memiliki disiplin dan kegigihan, maka semua menjadi sia-sia. Fotografer yang berdisiplin akan memacu dirinya untuk belajar, praktek foto secara rutin, sehingga bisa mencapai kemajuan yang berarti.
Bagaimanapun hebatnya seorang fotografer dalam berteori, tanpa praktek, maka fotografer tersebut tidak akan sukses menelurkan karya-karya yang luar biasa. Dengan praktek, maka fotografer akan menemukan banyak wawasan baru yang tidak dapat dipelajari dari membaca buku atau belajar dari fotografer lain. Misalnya dengan memakai kamera dan lensa tertentu dalam waktu lama, maka seorang fotografer mengetahui benar bagaimana karakteristik kamera tersebut dan bisa mengoperasikannya dengan efektif dan efisien.
Kegigihan seorang fotografer juga penting, terutama sifat pantang menyerah. Membuat karya foto yang baik terkadang memerlukan waktu yang banyak, kadang juga ada faktor luck (untung). Fotografer perlu di tempat yang tepat untuk mengeksekusi foto yang luar biasa. Maka dari itu, jangan cepat menyerah apabila setelah berusaha sekian lama, ternyata karya foto masih kurang diapresiasi oleh teman atau khalayak ramai.
Disiplin dan kegigihan merupakan sifat pelengkap yang bila digabungkan dengan sifat-sifat diatas dapat membuat fotografer menjadi sukses.
Tanpa salah satu sifat diatas, saya sulit membayangkan bagaimana seorang fotografer bisa sukses.

Tips foto Potret untuk pemula

Foto potret adalah salah satu jenis fotografi yang paling diminati oleh fotografer setelah foto pemandangan. Dalam kehidupan sehari-hari, foto potret mungkin lebih populer daripada foto jenis apapun. Kalau kita melihat jejaring sosial seperti facebook dan myspace, kita akan melihat jutaan foto potret beredar dan terus bertambah dengan kecepatan eksponensial.
Maka itu, mengetahui foto potret yang baik  menurut saya sangat penting, terutama untuk mengabadikan momen-momen penting.
Inilah beberapa foto potret dengan berbagai tips and trik
1.

Masalah dengan foto diatas adalah kekuatan cahaya dari belakang yang jauh melebihi cahaya dari depan model. Maka dari wajah orang tersebut terlihat gelap, sedangkan latar belakang sangat terang.
2.

Solusi praktisnya adalah mengunakan lampu kilat / flash untuk menerangi bagian wajah. Kalau Anda memakai kamera saku, cari dan aktifkan fill in flash atau force flash. Kalau di kamera DSLR, biasanya Anda tinggal membuka lampu kilat tersebut.
3.

Selain mengunakan lampu kilat, mengubah rentang focal lensa (zoom length) juga sangat berpengaruh dalam foto potret. Di foto diatas, saya mengunakan Nikon D3000 dengan lensa 18-55mm, di posisi 35mm atau ekuivalen di 52mm di kamera film. Rentang lensa mendekati 50mm ini memiliki perspektif yang hampir sama seperti yang kita liat dengan mata kita.
4.

Foto diatas mengunakan rentang lensa 24mm (ekuivalen dengan 35mm). rentang lensa yang lebih lebar ini menimbulkan efek distorsi pada wajah.
5.

Foto diatas diambil dengan rentang lensa 24mm (ekuivalen dengan 35mm). Kita bisa melihat sedikit distorsi pada wajah, selain itu, ada masalah dengan cahaya terutama bagian kiri wajah. Bayangan sangat kasar. Solusi dari masalah diatas adalah dengan mencari posisi lain atau mengunakan reflektor untuk menerangi bayangan di sisi kiri wajah.
6.

Foto diatas masih memiliki masalah dengan bayangan yang kasar, hanya kini saya mengunakan rentang fokal 55mm (ekuivalen 82mm) dengan zoom sampai mentok lensa 18-55mm yang saya gunakan. Wajah model terlihat lebih menarik dengan rentang lensa ini karena efek kompresi wajah sehingga wajah tidak terdistorsi.
Selain itu, latar belakang juga menjadi lebih kabur dan objek di latar belakang terlihat lebih dekat dari yang sebenarnya.
7.

Di foto diatas diambil dengan lensa 85mm f/1.4. Dengan mengunakan bukaan maksimal di 1.4, saya bisa membuat latar belakang menjadi sangat kabur. Rentang lensa 85mm (ekuivalen dengan 135mm) menurut saya ideal untuk foto potret, terutama dengan tujuan keindahan (beauty shot).
8.

Seringkali foto candid seperti diatas lebih menarik daripada foto model yang melihat langsung ke lensa. Selain itu, saya juga menunjukkan bagaimana penyuntingan foto (photo editing) bisa secara signifikan mengganti suasana, warna, intensitas foto. Dengan foto editing, Anda dapat mengkomunikasikan dengan pemirsa bagaimana Anda melihat dunia.
9.

Sama dengan foto no.8 diatas, dengan mengunakan alat penyuntingan foto, Anda bisa mengubah foto biasa menjadi foto klasik. Foto potret tidak perlu selalu tajam sampai ke pori-pori, terutama foto wanita.
Semoga panduan dan contoh-contoh diatas dapat membantu Anda untuk menghasilkan karya foto potret yang baik, untuk keperluan profesional, hobi atau keluarga.

Belajar fotografi : Melihat cahaya


Fotografi pada dasarnya adalah proses membuat gambar dengan merekam cahaya, tapi banyak yang mengaku menguasai fotografi, tapi tidak peka dan tidak mengetahui bagaimana mengunakan cahaya. Fenomena ini ibaratnya seperti pelukis yang tidak bisa mencampur cat minyak dan menuangkannya kedalam kanvas saat dia melukis.
Hal ini tidak terlepas karena kemajuan teknologi kamera digital. Kamera di jaman sekarang hampir semua yang ada memiliki mode auto atau semi auto. Dimana kita membiarkan kamera untuk memutuskan berapa cahaya yang masuk. Saya tidak menyalahkan penggunaan teknologi yang membuat pengambilan foto menjadi lebih praktis dan akurat sesuai realitas yang ada, tapi bila Anda ingin foto Anda dapat menginspirasi banyak orang, maka Anda perlu belajar melihat cahaya.
Tanda-tanda bila Anda telah bisa melihat cahaya antara lain: Mampu melihat kontras (perbedaan intensitas cahaya dan warna) dan Mampu melihat arah cahaya (depan, belakang, samping, atas, bawah).
Sekilas, ini sederhana, tapi tanpa latihan, sulit menguasai ilmu ini. Saran saya adalah letakkan kamera Anda, dan pergilah jalan-jalan, amati baik-baik lingkungan Anda dari segi kontras dan arah cahaya. Coba visualisasikan foto yang ingin Anda ambil.
Selanjutnya, ambillah kamera Anda (yang ada mode manualnya). Set kamera itu ke manual (M) mode dan ambillah foto secara mengevaluasi cahaya yang ada. Mengapa mengunakan mode manual ? karena di mode ini Andalah yang membuat keputusan berapa besar dan berapa lama cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera.
Selanjutnya, ubahlah foto Anda ke foto hitam putih. Dan dari sana, coba perhatikan apakah foto itu menarik? bila foto tersebut memiliki kontras yang rendah, atau arah cahaya yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada, maka besar kemungkinan Anda belum berhasil dalam memgunakan cahaya dengan baik.
Selamat belajar!

Rabu, 14 Maret 2012

Fotografer profesi yang buruk?

Baru baru ini Koran Wall Street Journal mengeluarkan laporan tentang 200 profesi di Amerika dari yang  terbaik sampai terburuk. Kriteria penilaian tergantung kepada beberapa hal, antara lain lingkungan kerja, pendapatan, tingkat stres dan penggunaan kekuatan fisik.
Dari laporan tersebut, saya menemukan bahwa profesi fotografer ternyata berada di posisi ke-126 dan wartawan foto / fotojurnalis berada di posisi yang cukup menggenaskan yaitu ke-189. Ini berarti profesi fotojurnalis hanya lebih baik 1 tingkat dari profesi tukang jagal.
Sedangkan profesi populer seperti akunting atau aktuaris (penghitung resiko untuk perusahaan ansuransi / bank) menduduki posisi top 10.
Lalu pertanyaan yang saya lontarkan kepada diri sendiri adalah, apakah memang profesi fotografi begitu buruknya?
Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Pada umumnya, manusia bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, dan budaya dunia sekarang ini menilai bahwa pekerjaan yang terbaik adalah yang menghasilkan banyak uang, dan yang tidak memerlukan banyak tenaga fisik dan rendah stres.
Benar, bahwa hidup kita bisa lebih nyaman bila kita memiliki pekerjaan yang tidak memerlukan banyak tenaga fisik dan menghasilkan banyak uang, tapi uang tidak bisa membeli atau meningkatkan kualitas kehidupan di jangka panjang. Sebenarnya, manusia paling bahagia ketika mereka berkesempatan meningkatkan ilmu dan ketrampilan dan juga menjalani hidup yang cukup menantang.
Bila tidak ada tantangan, dan tidak ada peningkatan ilmu, maka hidup akan menjadi bosan. Meski kebosanan bisa dihentikan sementara dengan menghabiskan uang untuk membeli barang yang disukai atau untuk hiburan lainnya, tapi kesenangan tersebut tidak akan bertahan lama. Orang tersebut tidak akan mencapai kebahagiaan dalam hidup dan pekerjaannya, yang ada cuma rutinitas yang membosankan.
Profesi fotografer dan fotojurnalis adalah profesi memerlukan ketrampilan yang cukup kompleks dan tinggi. Biarpun demikian, setiap orang bisa belajar langkah demi langkah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan meningkatknya pengetahuan dan ketrampilan fotografi dan bisnis, orang tersebut merasakan kebahagiaan dalam setiap langkah dalam hidupnya.
Fotografer dan terutama fotojurnalis juga sering dituntut untuk memiliki fisik dan prima dan tidak jarang menerima stres/tekanan karena harus menepati tenggat waktu (deadline). Tuntutan-tuntutan tersebut adalah tantangan yang positif. Dengan adanya tantangan, kita bisa lebih maju dan bahagia. Tanpa tantangan, kita malas meningkatkan diri dan cepat bosan.
Oleh karena itu, profesi fotografer dan fotojurnalis seharusnya menempati posisi yang lebih tinggi di laporan tersebut. Sayangnya, budaya hedonistik (mementingkan kesenangan indra sesaat) mendikte manusia jaman sekarang memilih pekerjaan yang mudah dan yang berpotensi menghasilkan uang banyak. Tapi sayangnya, pilihan tersebut mungkin tidak akan membawa kebahagiaan dalam hidup.
ROUSTABOUT

Selasa, 06 Maret 2012

Alasan untuk pindah sistem digital SLR

Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.
Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali mempelajari dan membiasakan diri untuk memakai sistem yang baru ini. Kadang-kadang bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar terbiasa.
Lantas, banyak fotografer dari amatir sampai profesional pindah dari satu merek yang satu ke merek yang lain, tentunya masing-masing memiliki alasan sendiri sendiri. Ada alasan yang saya kira tepat, ada yang saya rasa kurang tepat.

Alasan yang saya kira tepat antara lain

  1. Bila tidak ada ada produk yang di tawarkan merek tersebut yang memenuhi syarat yang kita butuhkan padahal waktu mendesak
  2. Saat itu, saya memiliki kamera Canon 40D dan cukup banyak lensa dan aksesoris bermerek sama. Tapi akan ditugaskan untuk foto di keadaan yang gelap seperti foto tarian, foto candle lighting dan olahraga indoor dan lainnya yang tidak memperbolehkan penggunaan lampu kilat. Alhasil saya sempat melirik kamera Canon 5D mark II dan Nikon D700. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih kamera Nikon D700 karena auto fokusnya yang cepat dan juga kemampuannya di cahaya ruangan yang temaram. Selain itu Canon 5D mark II lebih mahal karena saat itu baru diluncurkan dan menurut tes, auto fokusnya tidak begitu baik. Kalau dihitung-hitung, akibat perpindahan ini, saya menderita kerugian sekitar $1500 (13.5 juta rupiah) . Kalau saya ada waktu untuk menunggu, saya tentu saja menunggu kamera Canon yang seperti Canon EOS 7D atau 1d mark IV.
  3. Sulit mencari pelayanan purna jual, lensa dan aksesoris
    Terkadang, Anda sulit menemukan aksesoris atau layanan purna jual di dekat tempat tinggal Anda. Hal ini tentu bisa mengesalkan terutama saat kamera Anda rusak atau ketika Anda ingin membeli lensa tertentu tapi tidak tersedia di daerah. Maka dari itu pertimbangkanlah untuk pindah ke merek yang memberikan layanan dan ketersediaan lensa dan aksesoris yang memadai
  4. Sistem yang Anda pakai sekarang sudah tidak sesuai dengan visi atau gaya fotografi Anda.
  5. Ada merek / system fotografi yang sasaran utamanya adalah mengembangkan produk untuk fotografer pemula dan amatir seperti Panasonic, Samsung, Pentax, dan Olympus sehingga bila Anda bertujuan untuk menjadi fotografer professional, terutama untuk fotojurnalistik, mungkin kurang tepat untuk memakai merek tersebut. Disisi lain, bila Anda mencari system yang ramah dengan pemula, memberikan nilai lebih dengan harga yang lebih murah, pertimbangkan untuk mencari merk-merk yang perhatian utamanya adalah pemula dan amatir. Salah satu contohnya adalah kini banyak sistem kamera yang berukuran kecil, seperti Panasonic GF1 dan Olympus PEN E-P1, bila gaya fotografi Anda lebih ideal mengunakan sistem seperti ini, mengapa tidak pindah?
  6. Sponsor
  7. Produsen kamera selalu mencari fotografer berbakat untuk disponsori, bila Anda merupakan salah satu fotografer yang beruntung itu, kenapa tidak menerimanya? Namun sebaiknya Anda sudah mencoba merek tersebut dan produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda, sehingga tetap bisa berkarya dengan baik dan tidak dicap munafik oleh fans dan khalayak umum.

Alasan yang kurang tepat untuk pindah sistem

  1. Merk lain lebih popular
  2. Kadang kita merasa minder karena banyak teman-teman atau khayalak ramai mengunakan merek kamera yang lebih populer. Hal ini kadang membuat kita ingin pindah. Tapi renungkan terlebih dahulu apakah memang merek yang anda punya tidak bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda? Dengan memakai system kamera yang berbeda, justru bisa membuat karya Anda menjadi unik. Jangan kuatir tampil beda.
  3. Fotografer atau teman yang dikagumi pindah sistem
  4. Kadang-kadang ada fotografer terkenal yang ganti merek dari satu ke yang lain. Jangan jadikan ini alasan kenapa pindah, karena kita seringkali tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka pindah. Seringkali fotografer terkenal dan berpengaruh di incar oleh produsen alat fotografer untuk memakai produk mereka secara gratis dan mempromosikan produk mereka. Oleh sebab itu jangan menjadi korban iklan dan tidak perlu tergesa-gesa untuk pindah ke merek lain. Selain itu, mungkin mereka memiliki dana yang besar sehingga ongkos perpindahan tidak menjadi masalah untuk mereka. Dan lagi, kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan kebutuhan Anda.
  5. Produk merk lain lebih baik
  6. Seperti kata pepatah yaitu rumput tetangga selalu lebih hijau. Seringkali kita melihat keunggulan kamera atau lensa merek lain dan hanya melihat kekurangan kamera kita sendiri. Hal ini menjebak kita untuk berpikiran tidak objektif. Kita juga kadang tidak sabar untuk menunggu model baru dari merek yang kita pakai dalam mengeluarkan produk yang memiliki fitur yang tidak dimiliki model saat ini, tapi dimiliki oleh produk merek lain. Contohnya beberapa tahun yang lalu kamera Nikon tidak memiliki sensor full frame sedangkan Canon telah memiliki Canon 5D, tapi beberapa tahun kemudian Nikon mengeluarkan Nikon D3 dan selanjutnya D700, yang merupakan full frame dengan kualitas yang lebih baik terutama di foto di kondisi pencahayaan yang kurang bersahabat. Selanjutnya, Canon berhasil meningkatkan kualitas perekaman video ke full HD, tapi kamera Nikon masih di HD 720p. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan Nikon mengungguli Canon dalam hal ini. Oleh sebab itu, daripada buru-buru pindah merek dan kehilangan banyak uang, maka lebih baik sabar menunggu.

Wedding foto videografi – dulu dan sekarang

Beberapa saat yang lalu, saya mengikuti dan mengamati fotografi dan videografi liputan di hari pernikahan (hari H). Terus terang saya cukup terkejut dengan perkembangan fotografi pernikahan saat ini khususnya di Jakarta, Indonesia untuk masyarakat golongan ekonomi menengah.
Dulu, crew liputan wedding itu hanya sekitar 2-3 orang, tapi sekarang, tidak terlalu mengherankan bila ada 4-5 orang crew video dan foto. Biasanya 2 orang mengambil foto, 2 orang video dan satu asisten untuk membantu fotografer/videografer dalam urusan peralatan dan lampu. Jumlah ini belum termasuk bila ada anggota keluarga, teman atau staf dari wedding organizer yang juga ikut mengabadikan momen pernikahaan ini.

Menurut pandangan saya, hal ini dipacu oleh beberapa faktor

Karena dibayar cukup mahal (yang biasanya tidak kurang dari puluhan juta per paket foto-video), jadi para crew juga dengan semangat memberikan yang terbaik, dengan meningkatnya jumlah crew foto video, diharapkan maka liputan akan menjadi lengkap dan komplit, gak ada secuil pun detil yang terlewatkan. Selain itu, jumlah crew yang banyak mungkin juga memenuhi harapan pengantin, karena merasa sudah membayar jasa dengan harga yang tinggi.
Kedua, karena peningkatan teknologi digital dalam foto video, yang mana banyak kamera digital SLR yang mampu merekam video, membuka peluang untuk meliput acara pernikahaan tersebut dalam bentuk foto fusion atau video clip. Hal ini bisa terbilang baru populer dalam beberapa tahun terakhir dan otomatis menambah jumlah crew. Biaya mengambil foto juga relatif lebih murah dengan jatuhnya harga digital SLR dibandingkan jaman kamera analog yang memerlukan biaya film dan cuci cetak. Kini, kita bisa mengambil ribuan foto tanpa takut akan biaya cuci cetak yang menggunung.

Intrusif

Dengan banyaknya jumlah crew yang terlibat, tidak bisa dihindari kalau acara pernikahan menjadi mirip acara pembuatan film, dimana banyaknya moncong lensa mengarah ke pengantin, keluarga dan para tamu. Bila pengantin terbiasa menjadi sorotan, misalnya adalah seorang selebriti atau model mungkin ini tidak ada masalah, tapi bila pengantin dan keluarga tidak terbiasa dengan kehadiran foto-videografer dengan peralatan-peralatannya, maka ini menjadi suatu kendala. Mereka menjadi tegang dan curiga kepada kita. Hal ini diperparah bila lokasi pernikahan di ruangan tertutup yang sempit.
Akibatnya adalah, gaya-gaya dan ekpresi yang tidak alami tidak hanya pengantin, tapi juga anggota keluarga yang lain, karena merasa seperti di “paparazzi.” Hal ini semakin parah bila anggota crew tidak menjalin suatu hubungan baik dan kepercayaan antara pengantin dan anggota keluarga lainnya.
Sebuah scene pernikahaan, terlihat 2 kamera, 1 video dan 1 lampu kilat mengarah ke pengantin yang sedang wedding dance. 2 kamera lainnya (termasuk yang mengambil foto) tidak terlihat. Total: 5 kamera dan 1 lampu kilat
Sebuah scene pernikahaan, terlihat 2 kamera, 1 video dan 1 lampu kilat mengarah ke pengantin yang sedang wedding dance. 2 kamera lainnya (termasuk yang mengambil foto) tidak terlihat. Total: 5 kamera dan 1 lampu kilat

Yang ideal?

Tidak ada pendekatan yang sempurna, seperti yang diulas diatas, banyak crew membuat suasana menjadi tidak begitu enak, tapi kalau kurang crew, bagaimana jika ada detil yang tidak terekam (miss the moment)? Adakah situasi yang ideal?
Menurut pandangan saya adalah kualitas lebih penting dari kuantitas, maka itu saya cenderung setuju dengan konsep “less in more” dalam fotografi pernikahaan. Daripada “capture it all (menangkap semua momen)” lebih baik menangkap “the defining moment (saat saat yang menentukan).” Tentunya untuk menangkap the defining moment, diperlukan latihan, pengalaman, dan keinginan untuk belajar mengembangkan diri secara terus menerus.
Dan lagi, semakin rileks dan enjoy pengantin, keluarga dan tamu-tamu, semakin percaya dengan kita, tentunya semakin banyak foto yang bagus. Bagaimana pendapat teman-teman yang lain?
www.infofotografi.com

Bagaimana cara menjadi fotografer profesional

Bagi yang hobi fotografi, tentunya kadang berpikir bagaimana memanfaatkan hobi dan ketrampilan foto ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bahkan ada yang bercita-cita ingin menjadi fotografer profesional.
Apa saja sih yang dibutuhkan untuk menjadi fotografer profesional?

SEBAGAI FOTOGRAFER

Setiap usaha perlu modal, tak terkecuali menjadi fotografer profesional. Pertama-tama kita perlu alat foto. Alat foto bisa berarti kamera lensa, dan aksesoris lain yang mendukung. Karena jenis fotografi dan gaya tiap orang cukup beragam, maka alat foto juga beragam.
Secara umum, semakin mahal kamera atau lensa, semakin baik performa dan kualitasnya. Maka dari itu, tentukan anggaran yang cukup untuk pembelian peralatan yang sesuai untuk jenis fotografi yang ditekuni. Tapi jangan mengeluarkan semua uang Anda untuk membeli yang paling canggih dan paling mahal, karena masih akan ada biaya yang tidak sedikit untuk menjalani bisnis fotografi.
Salah satu alternatif bagi yang anggarannya sedikit adalah dengan cara menyewa kamera dan lensa berdasarkan pekerjaan yang didapat.
Modal tidak berarti uang saja, tapi yang penting juga penguasaan teori, praktek, kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah. Peralatan yang bagus saja tidak menjamin bisa menghasilkan karya yang baik dan layak jual.
Memiliki peralatan yang sesuai dan menguasai pengunaan peralatan fotografi hanya 1/3 dari ketrampilan yang diperlukan untuk menjadi fotografer profesional yang sukses. Lalu, apa yang dibutuhkan lagi?

SEBAGAI MANAGER

Sebagai pemilik usaha fotografi, kita harus mempelajari dan menguasai aspek manajerial yang baik. Aspek manejerial antara lain seperti pembukuan/akuntansi, kontrol kualitas , organize jadwal dan juga masalah berkaitan dengan SDM bila memiliki pegawai.
Dengan memiliki sistem pembukuan yang baik, kita memiliki acuan apakah bisnis kita menghasilkan atau merugi, bagaimana posisi keuntungan dibanding dengan periode yang lampau. Dengan mendapatkan informasi ini, kita bisa merancang rencana kedepannya.
Selain itu, kualitas kontrol juga sangat penting tapi ini cukup sulit karena fotografi ini bersifat seni. Walaupun sulit, kita juga harus mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas foto kita.

SEBAGAI ENTREPRENEUR (WIRAUSAHA)

Ketrampilan lain yang dibutuhkan yaitu kemampuan wirausaha. Ketrampilan wirausaha ini mencakupi kemampuan memiliki visi, kemampuan melihat peluang-peluang baru, dan kreatifitas di dalam pemasaran.
Bila salah satu pilar diatas tidak ada atau kurang, maka sulit bagi seorang fotografer untuk sukses di bisnis yang penuh persaingan ini. Tapi jangan terlalu kuatir bila Anda hanya punya salah satu dari keahlian diatas, Anda bisa mencari partner usaha yang bisa mengisi kekurangan Anda.
Pilihan lain adalah untuk mempelajari aspek lain yang kita belum kuasai. Contohnya bila menguasai aspek fotografer dengan baik, tapi tidak mengenal aspek manajerial dan wirausaha, kita bisa belajar aspek tersebut dari teman atau kuliah formal/informal.
Atau, bila Anda tidak memiliki dan tidak mau belajar, Anda bisa bekerja untuk pengusaha di bidang fotografi daripada membuka usaha sendiri tapi akhirnya rugi dan gagal.
Maka dari itu penting bagi tiap orang untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Setelah mengetahui, kita bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita.
Mudah-mudahan posting ini bisa memberikan info bagi pada para fotografer amatir yang ingin menjelajah ke wilayah bisnis foto.

Kamis, 01 Maret 2012

Peran kamera ponsel dalam perkembangan fotografi

Smartphone, atau ponsel pintar, semakin lama semakin populer sebagai alat untuk fotografi terutama untuk 1-2 tahun terakhir ini. Hampir semua ponsel cerdas memiliki kamera, dari 2 MP sampai 12 MP. Semakin lama, kualitas foto pun sudah semakin tinggi dan ada yang sudah melampaui kamera saku, misalnya kamera Nikon N8.
Kamera seperti Nokia N8, kualitas fotonya sudah melebih banyak 
kamera saku dipasaran tahun 2010 ini
Kamera seperti Nokia N8, kualitas fotonya sudah melebih banyak kamera saku dipasaran tahun 2010 ini
Selain kualitas foto yang semakin meningkat, ponsel pintar juga jauh lebih praktis daripada membawa kamera saku secara terpisah. Ponsel cerdas bisa digunakan untuk merias foto, bisa juga langsung diunggah ke jejaring sosial seperti Facebook untuk dibagikan kepada teman-teman lain. Tentunya ponsel cerdas ini bisa melakukan hal-hal lain seperti menelepon, chatting, browsing dan sebagainya.
Dengan mengunakan aplikasi instagr.am di ponsel cerdas iPhone, 
Anda bisa mengubah nuansa foto menjadi klasik dengan mudah
Dengan mengunakan aplikasi instagr.am di ponsel cerdas iPhone, Anda bisa mengubah nuansa foto menjadi klasik dengan mudah
Dibandingkan dengan kamera saku biasa, kamera ponsel cerdas memang masih memiliki kekurangan-kekurangan. Tapi diantaranya malah merupakan kelebihan yang terselubung.
Misalnya kamera ponsel tidak memiliki lensa zoom seperti kamera saku, tapi justru karena tidak ada zoom, maka kita “dipaksa” untuk mengunakan kaki kita untuk zoom, akibatnya sudut pengambilan foto akan lebih baik.
Selain itu, banyak mengeluhkan kualitas foto yang dihasilkan oleh ponsel, tapi seperti yang disebut diatas, ponsel cerdas keluaran tahun 2010 ini, seperti Apple iPhone 4 dan Nokia N8, sudah bisa disejajarkan atau bahkan melebihi kualitas kamera saku. Dan lagi, untuk keperluan online seperti Facebook, sebenarnya foto berukuran 0.3 MB saja sudah cukup besar.
Yang terakhir yaitu kamera saku memiliki fungsi atau kontrol yang terbatas, seperti tidak memiliki fungsi manual. Tapi karena kesederhanaan fungsi tersebutlah yang membuat kita terfokus dengan komposisi dan aspek estetika lainnya.
best-cameraMaka dari itu, kamera cerdas saat ini lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kamera saku untuk membuat foto. Bahkan banyak fotografer profesional yang mengunakan kamera ponsel untuk kegiatan kesehariannya seperti Chase Jarvis dan bukunya yang berjudul “The Best Camera is the one that’s with you

www.infofotografi.com

Tips dalam memilih acara untuk memperdalam ilmu fotografi

Belakangan ini saya perhatikan banyak sekali yang sangat peduli dengan peralatan fotografi seperti kamera, lensa dan aksesoris. Misalnya lensa mana yang bagus buat pemandangan, potret atau wedding. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemilihan alat yang tepat merupakan hal yang penting. Tapi jangan abaikan meningkatkan ilmu dan pengalaman juga.
Banyak orang membeli alat foto berjuta-juta untuk membeli kamera yang lebih canggih, lensa yang lebih berkualitas, tapi hanya sedikit yang bersedia menginvestasikan uang dan waktu untuk belajar ilmu fotografi itu sendiri. Padahal, banyak alat fotografi bisa rusak dan tidak bisa dipakai lagi dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan. Tapi ilmu fotografi tidak. Dalam kurun 100 tahun lebih, dasar ilmu fotografi tetap sama.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, alat fotografi itu sebenarnya murah, karena bisa langsung beli, sedangkan untuk belajar fotografi, selain biaya, kita perlu waktu, dan bagi sebagian besar orang, waktu itu sangat berharga.
Untuk itu, ada beberapa tips yang saya ingin bagikan tentang memilih kursus/seminar/workshop yang cocok untuk Anda sekalian.

1. Sesuaikan tingkat ilmu Anda dengan bahan/topik seminar

Misalnya Anda baru saja membeli kamera digital dan awam terhadap dasar fotografi, maka sebaiknya mengambil kursus pemula, bukan advanced. Ada baiknya juga menanyakan kepada penyelenggara atau instruktur tentang materinya terlebih dahulu karena judul saja biasanya tidak pas dengan tingkat ilmu Anda.
Contohnya, dulu saya pernah ikut kursus yang diberi judul “Basic Lighting“, materinya tentang lighting (indoor studio), produk, fashion, interior dan beberapa yang lain. Ada beberapa yang ikut baru membeli kamera, dan sepertinya tidak ada “clue” tentang dasar fotografi sehingga kebingungan sepanjang kursus. Alhasil, waktu dan uang terbuang percuma.

2. Lihat karya instrukturnya

Bila karyanya sesuai dengan apa yang ingin Anda capai dan raih, tentunya ikuti acaranya, sebaliknya bila gaya instrukturnya tidak sesuai dengan apa yang Anda ingin capai, sebaiknya mencari lagi acara yang sesuai dengan tujuan fotografi Anda.
Setelah menemukan instruktur yang karyanya Anda suka, siapkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana proses pembuatan fotonya. Instruktur yang baik biasanya akan senang hati  membagikan proses pembuatan fotonya.

3. Harga murah vs mahal

Acara yang  murah dan mahal ada positif negatifnya. Acara yang harganya murah biasanya diikuti oleh banyak orang, yang gratis bisa ratusan. Sedangkan yang mahal biasanya kelasnya cukup kecil (dibawah 10 orang), tapi yang mahal memberikan kesempatan interaksi yang lebih besar dengan instruktur, sehingga penyerapan ilmu lebih tinggi. Kesempatan untuk praktek juga lebih tersedia. Kalau yang murah, biasanya objek dan alat-alat fotonya terbatas dan harus gantian dan keroyokan, sehingga hasil kurang maksimal.
Ada pula acara pelatihan yang disponsori oleh perusahaan tertentu. Biasanya harganya murah, tapi di dalam acaranya diselipkan pesan-pesan dari sponsor. Acara ini cukup baik sebenarnya untuk meningkatkan wawasan, tapi jangan telan bulat-bulat pendapat instrukturnya. Kita harus bersikap kritis dan bisa membedakan mana yang mengandung promosi mana yang tidak. Misalnya, bila acaranya disponsori oleh merek Nikon, dan di dalam acaranya instrukturnya mengatakan hasil kamera Nikon lebih tajam dan bagus, jangan dipercaya sebelum meneliti terlebih dahulu.
Acara foto gratis dengan model ini untuk mempromosikan Toyota 
Yaris. Makin murah acaranya makin rame, tapi makin sedikit ilmu dan 
pengalaman yang bisa didapatkan di acara model seperti ini.
Acara foto gratis dengan model ini untuk mempromosikan Toyota Yaris. Makin murah acaranya makin rame, tapi makin sedikit ilmu dan pengalaman yang bisa didapatkan di acara model seperti ini.

4. Sertifikat

Ada kursus yang bersertifikat, ada yang tidak. Ada yang harus menyelesaikan beberapa tugas / PR sebelum diberikan sertifikat, ada yang langsung diberikan ketika acara usai. Saya pikir jangan mengikuti suatu acara berbasiskan ada sertifikat atau tidak, yang penting kita dapat ilmunya. Kecuali memang bila sertifikat itu suatu syarat untuk naik jabatan di perusahaan tertentu.
Demikian lah tips-tips saya sebelum memilih acara fotografi. Semoga membantu dan tetap semangat!

www.infofotografi.com