The Fifth Wonder World

Perjalanan wisata ke candi borobudur yang merupakan keajaiban dunia yang ke 5

Borobudur Temple

Nice viewer for enjoying time

Indrayanto Beach

One of a lot beautiful beach in jogja

Jogja APKOM

At jogja Computer exhibition day

Deep Struggle

One of Indonesian Struggle

Rabu, 29 Februari 2012

Hasrat (Desire)

Sebagai manusia, kita punya banyak hasrat (keinginan yang kuat), demikian juga di dalam bidang fotografi. Pada dasarnya kita ingin bisa membuat foto yang bagus. Tapi banyak orang yang mengira mengunakan kamera yang mahal berarti meningkatkan kualitas foto dan otomatis membuat kita menjadi seorang fotografer yang lebih handal.
Pemikiran tersebut sayang sekali sangat keliru.
P1080475
Iklan kamera baru di media cetak: Murni hasrat untuk meningkatkan fotografi atau sebagai mainan baru saja?
Memang benar kamera yang canggih, lensa yang mahal akan membuat foto kita lebih tajam, kontras, dengan banyak detil meskipun di zoom sampai berulang-ulang kali. Atau foto lebih jelas dan terang saat mengunakan ISO tinggi di dalam ruangan. Tetapi masalahnya itu semua tergantung dari visi sang fotografer itu sendiri. Misalnya bila jenis foto yang disukai seperti hasil kamera Polaroid yang sketchy, maka kamera DSLR canggih sepertinya kurang pas. Kamera iPhone (dengan apps instamatic) atau toy camera mungkin lebih pas.
Ada juga bahayanya mengunakan kamera yang terlampau canggih ketika kita baru belajar fotografi. Karena kamera canggih memiliki fungsi otomatis yang sudah cukup baik. Fungsi-fungsi tersebut membuat kita cenderung mengandalkan kamera untuk membuat foto. Kemudian lensa-lensa mahal yang canggih bila dipakai oleh pemula, malah bisa menjadi bumerang. Lensa mahal yang tajam, malah bisa menonjolkan kesalahan kita, atau menyembunyikan kesalahan kita. Misalnya lensa berbukaan besar membuat latar belakang menjadi kabur, sedemikian kaburnya sehingga kesalahan kita memilih latar belakang tertutupi.

Ditambah lagi dengan fungsi-fungsi perbaikan seperti active d-lighting, crop, filter effects dan ditambah dengan kehandalan Photoshop atau software lainnya dalam memoles foto berupaya menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita.
Secanggih apapun fungsi otomatis kamera, kamera tidak tahu foto seperti apa yang kita inginkan. Kamera juga tidak bisa mengkomposisikan (mengatur elemen-elemen visual dalam foto) sehingga foto kita bercerita dengan efektif. Orang-orang yang baru membeli kamera dan lensa mahal lalu pun sering bingung, mengapa foto-fotonya tidak menarik seperti yang dia harapkan sebelum membeli kamera dan lensa tersebut.
Untuk menghasilkan foto-foto yang lebih baik dan artistik, intinya tetap tergantung pada fotografernya sendiri. Penting bagi kita untuk memahami dasar fotografi dan memiliki visi artistik. Lalu mengambil kendali atas kamera kita (bukan dikendalikan fungsi auto atau mengandalkan photoshop), kemudian baru menentukan alat yang paling cocok untuk jenis fotografi tersebut.
Maka dari itu, sebelum membeli kamera dan lensa yang terbaru dan termahal, penting menanyakan kepada diri sendiri, foto seperti apa yang saya ingin hasilkan? Kalau belum yakin, cobalah beberapa jenis fotografi dengan kamera yang kita punyai. Investasikan diri sendiri dengan belajar melalui membaca buku, blog, atau menghadiri kursus, seminar, workshop dan tentunya banyak latihan.

www.infofotogtrafi.com

Tips membuat foto yang indah dan cantik

Sebagian besar dari kita bertujuan membuat foto yang indah dan cantik. Jika kita lihat foto-foto yang beredar di internet seperti foto model, fashion, wedding, dan iklan, biasanya terfokus pada keindahan atau kecantikan.
Lalu bagaimana kita bisa membuat foto yang indah? Tentunya kita harus mempelajari apa yang dipersepsikan indah dan cantik oleh orang-orang kebanyakan.
beauty-01-chris-willis
Cantik = Model yang berawajah cantik dan berkulit putih mulus - Foto oleh Chris Willis, Creative Commons
Dalam sebuah riset di bidang psikologi, didapatkan bahwa orang-orang cenderung menyukai foto yang  terang dan kontrasnya tinggi. Selain itu biasanya orang-orang menyukai foto yang kaya warna, seperti pemandangan alam, sunset dan sunrise.
Orang-orang juga menyukai foto yang terlihat tajam, sehingga perdebatan antara lensa atau merek kamera yang mana yang membuat foto lebih tajam selalu ramai di forum-forum fotografi.
Di dalam foto portrait (foto orang), sebagian orang pun menyukai foto model yang cantik. Wajah yang cantik biasanya memiliki bentuk yang simetri dan proporsional. Wajah yang cantik juga memiliki kulit yang bebas jerawat atau bintik-bintik pada wajah dan tentunya mulus. Maka dari itu, banyak fotografer mengunakan pengolah gambar untuk memuluskan wajah manusia yang biasanya tidak sempurna.
Di foto portrait wanita, biasanya orang-orang menyukai model yang tinggi semampai dengan kaki yang panjang, pinggang yang ramping tapi berukuran dada yang besar. Sedangkan untuk pria, orang-orang menyukai dada dan perut yang berotot, tinggi dan berbahu lebar.
Tapi hati-hati juga karena setiap daerah dan budaya berbeda-beda. Misalnya saja, di Indonesia, wanita cantik itu berkulit putih seperti bule, sedangkan di negeri barat, malah kulit yang kecoklat-coklatan atau sawo matang justru lebih cantik daripada kulit pucat. Maka dari itu bule-bule suka ke pantai untuk “menggosongkan kulit mereka.”

Membuat foto cantik itu gak sesukar yang dibayangkan:

1. Komposisi foto yang baik
2. Pengunaan / penempatan sumber cahaya/lighting yang tepat untuk menonjolkan hal-hal yang indah dan menutupi hal yang kurang indah
3. Penguasaan digital imaging untuk membuat gambar lebih cantik lagi (tapi awas berlebihan!)
4. Less is more : Fokus ke yang cantik & indah saja
5. Cari pemandangan atau orang yang cantik untuk di foto
6. Kuasai dasar fotografi dan pengunaan lensa yang tepat
7. Perhatikan harmoni dan keseimbangan : Warna, tekstur dan hubungan antara subjek dan latar belakang perlu dipertimbangkan.
Indah = Pemandangan alam yang kaya warna - foto oleh Kevin Cole - 
Creative Commons
Indah = Pemandangan alam yang kaya warna - foto oleh Kevin Cole - Creative Commons
Nah gampang kan membuat foto yang cantik dan indah? Tapi fotografi bukan terbatas hanya membuat foto yang cantik dan indah saja. Fotojurnalisme misalnya, justru sengaja menghindari yang cantik-cantik dan indah-indah. Malahan mencari kondisi kehidupan yang kurang baik, misalnya korban perang, gempa bumi dan lain-lain.
Ada pula human interest yang fokus kepada adegan-adegan dan realita kehidupan yang  alami.  Selain itu ada fotografer yang memfokuskan untuk mengabadikan hal-hal yang sering dijumpai sekitar rumah. Meski bagi sebagian orang akan menganggap fotografi yang tidak indah dan tidak cantik membosankan, tapi dengan komposisi dan pencahayaan tertentu, foto bisa terlihat lebih menarik.

www.infofotografi.com

Q&A Rasio foto yang bagus dan jelek

Ada pertanyaan dari peserta kusus, Terry yang sebagai berikut:
Pak ini saya dari 200an gambar yg saya ambil hanya ada 20 gambar yang saya nilai baik. Dari 200an gambar hanya ada 5 yang No edit + No crop. Langsung dari kamera format JPEG. Apa setiap fotografer memang seperti ini (hanya 10% dari jepretan yg terpakai)?
Jawabannya adalah tergantung pada fotografernya dan jenis fotografi yang digeluti. Misalnya kalau kita foto subjek yang terus-menerus bergerak, seperti satwa liar, acara olahraga, maka memang rasio gambar yang diambil dan gambar yang bagus bisa sangat ekstrim. Misalnya dalam 100 foto, mungkin hanya ada 5-10 foto yang dikategorikan sangat baik.
Pengalaman saya sendiri, foto liputan acara, bila saya mengambil 100 kali, biasanya ada 25 yang baik. Tapi kalau still life (foto benda mati yang menarik dan ditata sedemikian rupa), rasio foto yang baik mungkin lebih tinggi lagi, misalnya dalam 10 jepretan, ada 7-8 yang baik.
Sebenarnya tidak perlu terlalu dipusingkan dengan rasio ini, dan ini tidak menentukan fotografer itu jago atau tidak. Yang penting kita berusaha sebaik mungkin saat menjepret. Tidak ada gunanya menjepret berulang-ulang kali dengan sudut yang sama, setting yang sama, karena hasilnya sama aja. Jadi jangan menjepret seperti machine gun (senapan mesin) terus menerus, sebaiknya setiap menjepret 2-3 foto kita evaluasi apa yang diperlukan supaya foto yang kita ambil lebih baik lagi.

www.infofotografi

Belajar melihat, merasakan dan berpikir

Ketika kita kecil, kita belajar dengan meniru orang. Dengan meniru perkataan orang tua kita, kita belajar bicara. Dengan meniru gambar kartun, kita belajar menggambar Mickey Mouse atau tokoh kartun idola kita yang lain. Lama-lama, kita merasa meniru itu merupakan suatu cara yang efektif atau cara pintas untuk belajar sesuatu.
Di dalam fotografi, pemula banyak yang menganggap kegiatan meniru ini bisa membuat foto kita tambah bagus. Salah satu contohnya, saya pernah disarankan untuk menyertakan info teknis pembuatan foto di buku yang akan terbit akhir bulan Maret 2011 ini:
Mas enche, mohon disertakan terus contoh – contoh foto beserta spesifikasinya (merek kamera & ukuran lensa, speed, ISO, dan bukaan, waktu pengambilan gambar). Kadang saya belajar manual settingnya ngintip dari hasil tersebut.
Informasi setting kamera, merek kamera, lensa, waktu pengambilan gambar dll sebenarnya memberikan informasi yang sangat sedikit, dan malah bisa menyesatkan.
Pertama, pemula tersebut akan berpikir bahwa dengan meniru setting tersebut, maka dia akan mendapatkan hasil yang sama dengan foto tersebut. Kedua, pemula akan berpikir bahwa dengan menggunakan kamera dan lensa merek dan jenis tertentu akan menghasilkan hasil foto yang baik.
Apa yang diberitahukan setting kamera (ISO, bukaan, shutter speed) adalah tentang ukuran pencahayaan yang ada pada keadaan sekejab. Keadaan cahaya terutama di luar ruangan selalu berubah, jadi bila kita meniru setting tersebut, akan terjadi masalah dengan gelap terangnya (eksposur) foto. Selain itu, kita tidak mengetahui posisi fotografer dengan subjek utama dan latar belakang, kita juga tidak mengetahui alat-alat lain yang digunakan untuk pembuatan foto (seperti tripod, filter). Kita juga tidak tahu kalau foto itu sudah mengalami pengeditan dalam pengolah foto tidak, dan apa saja yang di ubah dalam proses tersebut.
Informasi jenis kamera, lensa yang dipakai juga akan menyesatkan. Misalnya, pemula bisa beranggapan bahwa harus mengunakan kamera yang canggih dan lensa yang mahal-mahal untuk membuat foto tersebut. Setelah membeli alat-alat sesuai dengan spesifikasi, bila tidak menghasilkan foto yang diinginkan bisa kecewa berat.
Daripada meniru setting di foto tertentu, jenis kamera dan lensa yang dipakai, lebih baik belajar memahami dengan benar tentang segitiga emas fotografi dan teknik-teknik dasar lainnya terlebih dahulu.
Nikon D40, Lensa 16-85mm VR, ISO 200, 85mm, f8, 1/125 detik : 
Apakah info ini membantu? Saya rasa tidak.. hmm.. tunggu dulu, mungkin 
kita belajar satu hal, kamera murah dan hanya 6 megapiksel bisa membuat 
foto sebagus ini. Foto oleh Camella Kusumo
Nikon D40, Lensa 16-85mm VR, ISO 200, 85mm, f8, 1/125 detik : Apakah info ini membantu? Saya rasa tidak.. hmm.. tunggu dulu, mungkin kita belajar satu hal, kamera murah keluaran 5 tahun lalu yang hanya beresolusi gambar 6 megapiksel bisa membuat foto sebagus ini. Foto oleh Camella Kusumo
Daripada sibuk menerjemahkan dan belajar dari spesifikasi foto yang ada, mendingan kita belajar melihat (to see) Melihat itu tidak sama dengan memandang atau menengok (to look). Saat kita melihat, kita memberikan waktu kepada mata dan pikiran kita untuk memperhatikan detail-detail yang tidak pernah kita lihat sebelumnya dengan hanya memandang sekilas.
Lalu kita harus belajar merasakan (to feel). Dengan bisa merasakan suasana pemandangan yang kita lihat, baru kita bisa mengkomunikasikan dengan efektif suasana (mood) atau atmosfer yang ada kepada orang yang melihat foto kita.
Setelah kita melihat dan merasakan, saatnya kita berpikir, (to think) berpikir kamera, lensa, setting kamera, pengolahan foto yang bagaimana yang bisa membantu kita membuat kita bisa meneruskan, mengkomunikasikan suasana yang kita lihat ke pemirsa foto secara efektif.

www.infofotografi.com

Mengapa saat ini saat yang oke masuk ke bisnis fotografi?

Saat sekarang adalah saat yang tepat untuk masuk ke bisnis fotografi, mengapa?
  • Untuk memasuki bisnis fotografi tidak sulit, tidak seperti bisnis lain yang perlu harus punya modal relatif besar, tidak harus punya izin khusus atau punya sumber daya tertentu. Pokoknya kalau menguasai fotografi, bisa langsung terjun di bisnis ini (peralatan bisa disewa).
  • Belajar fotografi kini juga sangat mudah, banyak kursus betebaran di kota-kota, dan juga banyak buku-buku, internet (video dan tulisan) dan juga ada komunitas-komunitas tempat menggali ilmu. Dahulu, tidak begitu mudah untuk mendapatkan ilmu fotografi karena masih ekslusif dan peralatannya masih primitif dan lebih sulit dikuasai.
  • Belajar fotografi juga tidak memerlukan waktu yang lama, asal intensif dan serius, fotografi dapat di pelajari dalam waktu beberapa bulan sampai satu tahun. Tidak seperti karir lain yang memerlukan kuliah sampai 4-7 tahun atau memerlukan bakat yang luar biasa di bidangnya untuk bisa sukses.
  • Beberapa jenis fotografi tidak terancam resesi, misalnya foto portrait, wisuda, acara-acara liputan pernikahan, ulang tahun, dan fotografi komersial (iklan), fashion dan sebagainya.
  • Fotografi merupakan karir yang kreatif yang lebih menyenangkan bagi banyak orang daripada kerja kantoran biasa yang membosankan.
  • Di bisnis fotografi, kita mengontrol nasib kita sendiri, menjadi bos bagi diri sendiri daripada ditentukan oleh orang lain/perusahaan.
  • Fotografi merupakan bisnis yang fleksibel, mau kerja akhir pekan saja, bisa, mau kerja setiap hari, bisa, mau kerja 10 hari setahun, juga bisa. Intinya bisa jadi pekerjaan full time atau part time.
Nah untuk memasuki bisnis fotografi, kita mempunyai dua pilihan / dua jalan utama. Jalan pertama yang paling sering ditempuh fotografer pemula adalah menjadi fotografer lepas atau freelance.
evolusi-fotografer-profesional
Evolusi fotografer
Mengapa bekerja sebagai fotografer lepas itu relatif mudah?
Jawabannya sederhana sih, yaitu karena kita bisa fokus ke fotografi saja, dan tidak direpotkan dengan ngurusin sisi bisnis seperti: mendapatkan pelanggan, mengurusi jadwal, membayar gaji dan ongkos, mengurusi marketing, manajemen, akuntansi, sales dan sebagainya. Pokoknya muncul di jadwal yang sudah ditentukan dan kemudian kerja, setelah selesai di kasih bayaran sesuai dengan kesepakatan.
Meski terdengar enak, tapi masalahnya menjadi fotografer lepas juga banyak kekurangannya
  • Pertama, orang lain mendapatkan keuntungan yang tidak jarang lebih besar dengan menjual jasa kita
  • Seringkali, kita kehilangan hak atas foto-foto, misalnya tidak boleh dijual ke pihak lain, dan batasan lainnya
  • Kita tidak mendapatkan pemasukan tambahan dari foto-foto tersebut karena kita sudah menjual kepada Bos / perusahaan
  • Insentif untuk melakukan yang terbaik tidak terlalu kuat, karena bayaran kita kurang lebih sudah tetap berdasarkan kesepakatan awal.
  • Biasanya kita bekerja mengikuti aturan atau gaya perusahaan tertentu yang kadang kala tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
  • dan yang terakhir, dan mungkin paling penting adalah, kita kemungkinan tidak akan menjadi kaya dengan hanya bekerja untuk orang lain.
Jadi, masing-masing jalan entah menjadi fotografer bebas atau mengelola bisnis fotografi sendiri memang ada positif negatifnya, tinggal kita pilih saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Semoga sukses!
Artikel yang berhubungan dengan bisnis fotografi: Bagaimana menjadi fotografer profesional
www.infofotografi.com

Perbedaan tukang foto dengan fotografer

Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini.
Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya.
Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.
Lalu apa beda tukang foto dengan fotografer?
Kalau tukang foto lebih bersifat reaktif terhadap suatu keadaan, fotografer pendekatannya lebih berbeda. Seorang fotografer menghabiskan banyak waktunya tidak di dalam sesi pemotretan saja, tetapi sebagian besar lebih ke pembuatan konsep & ide, perencanaan, persiapan, dan setelah selesai foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan.
Banyak yang harus dipikirkan untuk menjadi fotografer, apalagi fotografer profesional yang bertarif tinggi. Ide kreatif, eksekusi dan hasil foto lah yang membuat seorang fotografer dibayar jauh lebih tinggi nilainya daripada aksi motret itu sendiri.

www.infofotografi.com

Tips untuk memperoleh kamera dan lensa idaman

Seringkali, untuk mendapatkan kamera, lensa atau peralatan kamera yang kita inginkan, kita merasa sulit sekali mendapatkannya, terutama karena dana kita yang terbatas. Sebenarnya, tidak perlu jadi orang kaya untuk bisa memperoleh kamera dan lensa idaman kita. Tips-tips dibawah ini mungkin bisa membantu.
Penghasilan tambahan
Pertama-tama, kita perlu mendapatkan penghasilan yang lebih dari pengeluaran kita, bila tidak, maka kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar kita dan selalu tidak ada dana untuk membeli peralatan fotografi baru.
Mencari penghasilan tambahan merupakan salah satu solusi yang baik. Pekerjaan tersebut tidak perlu dari fotografi. Lebih baikmelalui hal-hal lain yang lebih Anda lebih kuasai. Contohnya, bila Anda seorang guru, Anda bisa memberikan les privat.
Hidup hemat
Kecenderungan manusia bila memiliki penghasilan berlebih yaitu pengeluarannya juga biasanya meningkat seiring dengan penghasilan. Untuk itu memiliki gaya hidup hemat itu penting. Hemat bisa berarti banyak hal, tapi menurut versi saya, hemat adalah mengeluarkan biaya sedikit mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Namun.. jangan terjebak dengan harga yang terlalu murah. Biasanya harga yang terlalu murah dari pasaran itu memiliki resiko tinggi, misalnya mungkin itu penipuan, atau barang second yang sudah agak rusak.
Ganti sistem
Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau, tapi jangan tergiur untuk cepat-cepat upgrade dan pindah sistem/merek kamera sebelum memang benar-benar membutuhkannya. Bukan karena biaya pindah dan upgrade mahal, tapi juga otomatis kita perlu belajar ulang tata letak dari kamera baru tersebut. Butuh waktu yang lumayan lama untuk beradaptasi dengan mulus dengan sistem atau kamera baru.
Lensa lebih tahan lama daripada kamera
Dalam membeli lensa, membeli lensa second atau bekas biasanya termasuk keputusan yang cukup baik, asal memang kita bisa menguji lensa atau lensanya telah diuji oleh pihak yang berpengalaman. Beberapa lensa saya adalah lensa bekas dan saya cukup senang karena mendapatkan lensa yang nyaris baru tapi harganya berbeda hampir 1.5 juta Rupiah dari yang baru.
Membeli lensa yang berkualitas tinggi lebih baik daripada yang tanggung-tanggung, karena kualitas lensa yang tinggi itu jarang turun harganya, sebagian besar naik mengikuti inflasi dan juga kelangkaan barang.
Beli kamera model lama
Kamera DSLR dirilis cukup sering, dalam satu-dua tahun, biasanya model kamera DSLR baru beredar. Nah, biasanya kamera yang baru dirilis itu akan membuat kamera model yang lama menjadi turun harganya, karena toko-toko ingin menghabiskan stok lama dan mengisinya dengan kamera model baru. Kalau memang kamera model lama mencukupi kebutuhan kita, kenapa tidak memanfaatkan keadaan ini?
Awas akan tawaran bonus atau paket
Hati-hati dengan salesman yang membujuk-bujuk kita membeli paket bundel, misalnya kamera dengan lensa tertentu atau bonus-bonus seperti tas kamera, kartu memori atau batere tambahan. Biasanya bonus-bonus yang diberikan kualitasnya kurang baik dan sudah termasuk di dalam harganya. Jangan terbujuk karena bonusnya saja.
Jual yang lama sebelum beli baru
Kalau memang kita memang membutuhkan peratalan baru, tidak ada salahnya juga menjual peralatan lama yang fungsinya mirip atau memang jarang sekali kita gunakan (misalnya selama ½ tahun tidak pernah memakainya). Nah, dengan penjualan barang lama, bisa membuat dana kita lebih besar untuk membeli peralatan baru yang lebih berkualitas.
Kerja di bidang fotografi
Bekerja di bidang fotografi juga bisa memberikan kesempatan kita untuk memakai dan mengunakan peralatan fotografi baru. Misalnya fotojurnalisme atau fotografer wedding, tinggal pesan dari kantor saja, beres deh.
Semoga berhasil mendapatkan apa yang diidamkan.
www.infofotografi.com

Beli lensa atau beli lampu kilat / flash?

Salah satu pertanyaan menarik yang saya dapat dari komentar di blog ini adalah apakah lebih baik membeli flash dulu atau membeli lensa yang lebih baik kualitasnya daripada lensa kit (lensa bawaan saat membeli kamera untuk pertama kali).
Apa yang saya baca dari laman InfoFotografi di facebook, jauh lebih banyak yang memprioritaskan lensa daripada lampu kilat. Saya sendiri pada awalnya juga begitu. Dahulu, saya sering ditugaskan sebagai fotografer dokumentasi acara. Saya pikir lensa yang berkualitas tinggi dan berbukaan besar akan bisa memecahkan masalah saya. Tapi lensa sendiri, baik yang kualitasnya tinggi sekalipun, gagal memecahkan masalah saya dalam pencahayaan.
Seringkali di ruangan, cahaya lingkungan bercampur baur dari cahaya dari lampu di dalam ruangan yang kadang berwarna tidak sama, dan matahari dari luar yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela. Selain itu, cahaya di dalam ruangan biasanya sangat sedikit, sehingga meski saya mengunakan lensa dengan bukaan sangat besar pun masih harus menaikkan ISO cukup tinggi, akibatnya kualitas foto menurun karena noise yang tinggi dan saturasi warna yang hilang.
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan 
investasi yang sangat baik
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan investasi yang sangat baik
Setelah menghabiskan puluhan juta untuk membeli lensa, akhirnya saya membeli lampu kilat pertama saya yang seharga dua jutaan. Dengan lampu kilat ini, kualitas foto saya secara konsisten meningkat dari acara ke acara.
Dari sini saya menyadari bahwa, mengandalkan lensa dan cahaya lingkungan semata, sering sekali sulit mendapatkan hasil foto sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, lampu kilat merupakan suatu investasi yang sangat baik untuk saya.
Beberapa tahun belakangan ini, saya semakin menyadari bahwa dengan mengunakan lampu kilat, saya bisa belajar banyak tentang pencahayaan (salah satu pilar utama fotografi) dan saya berharap membeli lampu kilat jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu kenapa sebagian besar dari kita berbondong-bondong memilih lensa berkualitas tinggi daripada lampu kilat? Ada beberapa asumsi yang terbersit di benak saya diantaranya:
  • Lampu kilat apalagi lampu studio itu mahal
  • Lampu kilat susah dipakai (tekniknya sulit dipelajari)
  • Sulit mendapatkan foto yang alami dengan lampu kilat

Sebenarnya asumsi itu tidak semuanya benar, misalnya lampu kilat itu sebenarnya tidak begitu mahal relatif dibandingkan dengan lensa dengan kualitas tinggi yang lebih dari 10 juta rupiah. Dengan 10 juta, Anda bisa mendapatkan 2 set lampu studio lengkap dengan payung, tas, dan sebagainya (buatan Cina tentunya hehe). Lampu kilat portable (yang bisa dipasang di atas kamera) rata-rata hanya dua jutaan per lampu.
Lalu, apakah lampu kilat susah dipakai? Nah untuk yang ini saya rasa ada benarnya. Bila kita mengunakan lampu kilat, eksposur cahaya tidak hanya bergantung pada bukaan, shutter speed dan ISO saja, tapi sudah ada variabel baru yaitu kekuatan flash, jarak flash terhadap subjek dan overlap antara cahaya flash dan cahaya lingkungan.
Dan apakah memakai flash membuat foto kelihatan tidak alami? Nah ini tergantung, flash bisa merusak foto bila tidak digunakan dengan baik, tapi akan menjadi luar biasa bila digunakan dengan benar. Untuk ini memang harus di pelajari tekniknya (lihat poin diatas).
Balik ke topik utama
Siapa yang memerlukan lensa, siapa memerlukan flash? Saya pikir ini balik lagi ke kepribadian dan jenis foto yang disukai:
  • Bila Anda menyukai suka foto di luar ruangan secara alami seperti pemandangan/landscape, street photography maka kemungkinan besar flash bukan aksesoris yang penting. Aksesoris seperti tripod yang kokoh, atau filter yang berkualitas mungkin lebih penting.
  • Bila Anda menyukai bekerja di dalam ruangan (studio) sehingga bisa bekerja kapan saja baik siang, malam, subuh, dan menyukai kemampuan mengendalikan pencahayaan secara total maka investasi ke sistem lampu kilat lah yang lebih penting daripada lensa.
  • Ada juga yang suka-dua-duanya atau campuran, yaitu fotografer yang menyukai mengunakan cahaya alami dan dipadu dengan lampu kilat. Untuk golongan ini, saya sarankan untuk mengatur dana yang cukup seimbang untuk lensa dan lampu kilat.

www.infofotografi.com

Segitiga emas fotografi

Kunci dari mendapatkan foto yang ideal tergantung dari segitiga emas fotografi. Segitiga emas fotografi adalah bukaan (aperture), kecepatan rana (shutter speed) dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan gelap terangnya sebuah foto.

BUKAAN / APERTURE

Aperture adalah bukaan lensa kamera dimana cahaya masuk. Bila bukaan besar, akan banyak cahaya yang masuk dibandingkan dengan bukaan kecil. Selain merupakan salah satu cara mengendalikan cahaya yang masuk, bukaan di gunakan juga untuk mengendalikan kedalaman ruang (depth of field / dof).
Dalam prakteknya, jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.
Bukaan juga bisa digunakan untuk mengendalikan kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.
Hal yang unik dan sering membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil. Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya
Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti f/3.5-5.6 berarti makimum bukaan bervariasi antara f/3.5 sampai f/ 5.6.

SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera bukan dari lensa.
Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:
  1. Kecepatan rana yang cepat membekukan (freeze) objek yang bergerak.
  2. Kecepatan rana yang lama menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.
Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.
ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.
Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.
Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Anda akan bisa membuat foto Anda menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Anda.
www.infofotografi.com

Mengendalikan Eksposur

Kadang saya mendapatkan pertanyaan dari murid saya, bagaimana cara memulai untuk setting bukaan, shutter speed dan ISO? nah tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang memiliki gaya dan kebiasaan yang berbeda-beda apalagi di jaman sekarang, dimana setiap kamera sudah punya banyak mode-mode otomatis dan semi otomatis yang canggih.
Nah, bagaimanakah gaya jaman orang dulu? sebelum kamera digital yang serba otomatis ini dibuat?
Pertama-tama adalah dengan menentukan ISO. Di jaman dulu, ISO disebut juga dengan ASA, yaitu tingkat kepekaan film. Nah, kita pertama-tama memilih film dengan ASA sesuai dengan kondisi cahaya tempat kita memotret. Di keadaan yang terang, kita memakai film dengan ASA 100 atau 200. Di kondisi yang agak gelap, kita memakai ISO 400 atau 800. Di tempat yang gelap sekali, kita memakai ISO 1600.
Hal ini bisa diaplikasikan juga di era fotografi digital. Kamera mode yang kita pakai adalah manual, supaya bisa mengendalikan nilai-nilai bukaan, shutter speed dan ISO.
Pertama-tama kita menetapkan ISO berdasarkan kondisi cahaya yang ada. Kemudian, tinggal mengatur bukaan yang dikehendaki sesuai dengan seberapa blur latar belakang yang diinginkan. Terakhir, kita tinggal mengatur shutter speed sesuai dengan kondisi cahaya yang ada.
Cara lain yang saya pakai dengan kamera Nikon adalah memanfaatkan fungsi auto ISO.
Kamera Nikon yang saya pakai D90 dan D700, dan sepertinya hampir semua kamera DSLR Nikon memiliki fungsi auto-ISO yang canggih. Ini bisa sangat membantu bila dimanfaatkan dengan baik.
auto-iso-nikonPertama-tama kita mengatur batas maksimum ISO yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai ISOnya, fotonya akan semakin buruk, tapi ISO tinggi penting juga untuk mencegah foto terlalu gelap atau shutter speed menjadi terlalu rendah sehingga gambar blur. Biasanya saya set ISO minimum ke 200 dan maksimum ke ISO 1600. Hal ini karena ISO 3200 kualitas fotonya sudah terlalu buruk menurut saya untuk kamera Nikon D90. Untuk kamera full frame seperti Nikon D700, saya berani memakai sampai ISO 4000.
Kemudian saya mengatur minimum shutter speed minimum. Nah nilai ini tergantung dari lensa yang dipakai. Kalau lensanya panjang atau saya foto benda yang bergerak, saya set minimumnya agak cepat misalnya 1/250 detik supaya foto tidak blur.
Setelah itu, saya tinggal memakai mode kamera A/Av alias aperture priority untuk mengatur bukaan, kamera akan secara otomatis mencari nilai shutter speed dan ISO yang dikehendaki.
Keuntungan memakai cara ini dibanding cara tradisional adalah kita tidak usah repot mengubah setting shutter speed dan ISO dan juga tidak takut foto menjadi blur. Lalu keuntungan lainnya  adalah kita mendapatkan foto dengan nilai ISO yang lebih optimal daripada tetap di satu nilai saja.
Selamat berkreasi. Kalau bingung, silahkan baca-baca Segitiga emas fotografi atau ikuti kursus kilat fotografi untuk pemula.
www.infofotografi.com

Fashion Photography vs Portrait Photography

Sekilas, fashion photography dan portrait photography terlihat memiliki persamaan, sama-sama subjek fotonya adalah orang, dan kedua jenis foto berusaha membuat fotonya terlihat menarik. Kesuksesan sebuah foto juga tergantung pada keterampilan fotografer, pengetahuan fotografer atas gaya pakaian, make-up dan juga tim yang menunjang, seperti make-up artist, hair stylist, koreografer dan sebagainya.
Tapi banyak perbedaan mendasar antara fotografi portrait dengan fotografi fashion:
Fashion photography bertujuan untuk membuat baju yang di desain terlihat menarik sehingga orang ingin membelinya, sedangkan portrait fotografer bertujuan untuk menonjolkan karakter dan kepribadian dari subjek foto. Dalam upayanya, pengetahuan fotografer akan pencahayaan menjadi penting. Misalnya untuk menonjolkan tekstur sebuah baju, fotografer mengunakan cahaya yang cukup keras dengan kontras yang cukup tinggi. Sedangkan untuk memunculkan karakter lembut dari subjek foto portrait, fotografer mengunakan cahaya yang lembut. [ Baca: Beda cahaya keras dan lembut ]
Foto fashion oleh Javier Valhonrat. Fotografer ini mengunakan 
cahaya dan warna dengan baik sehingga pakaian model terlihat menarik
Foto fashion oleh Javier Valhonrat. Fotografer ini mengunakan cahaya dan warna dengan baik sehingga pakaian model terlihat menarik
Fashion fotografer biasanya berganti-ganti gaya mengikuti tren, karena fashion sendiri merupakan sesuatu yang sangat trendy, yaitu berubah-ubah dengan cepat. Sulit bagi seorang fotografer fashion yang tidak mengikuti trend, karena bila gayanya sama terus, maka kemungkinan fotografer fashion tidak akan dipakai oleh sebagian besar desainer.  Sedangkan sebagai portrait fotografer gayanya cenderung lebih sama, dan biasanya justru seorang fotografer portrait mendapat pekerjaan karena gayanya yang unik dan konsisten.
Untuk model fashion, pose pose ditujukan lebih untuk menonjolkan fitur pakaian yang dikenakan, tapi di portrait photography, pose-pose yang alami yang bisa memunculkan kepribadian subjek foto yang lebih penting.
Potret pelukis Henri Matisse oleh Henri Cartier-Bresson. Pose-pose
 alami lebih mudah didapatkan bila subjek foto berada di lingkungan yang
 nyaman dan familiar
Potret pelukis Henri Matisse oleh Henri Cartier-Bresson. Pose-pose alami lebih mudah didapatkan bila subjek foto berada di lingkungan yang nyaman dan familiar. Gaya fotografi Bresson juga tidak banyak berubah seiring waktu berjalan.
Ada juga fotografer yang menggabungkan kedua teknik fashion dan portrait, contohnya foto glamor, dimana fotografer berusaha membuat subjek foto terlihat cantik dan juga berusaha menonjolkan kepribadiannya.
Annie Leibovitz, fotografer portrait untuk majalah Vogue, memiliki
 gaya yang pencahayaan yang khas dan foto-foto potraitnya terkenal 
memunculkan kepribadian dan jiwa dari subjek fotonya
Annie Leibovitz, fotografer portrait untuk majalah Vogue, memiliki gaya yang pencahayaan yang khas dan foto-foto potraitnya terkenal memunculkan kepribadian dan jiwa dari subjek fotonya
Nah dari perbedaan-perbedaan diatas, saya tarik kesimpulan bahwa masing-masing jenis fotografi membutuhkan skill/keterampilan yang sedikit berbeda. Untuk menjadi fotografer portrait maupun fashion yang baik, dibutuhkan wawasan dan ketrampilan. Kemampuan menjalin hubungan yang baik dan membuat subjek foto nyaman dan mengambil momen yang tepat menjadi suatu yang sangat penting bagi fotografer portrait, dan pengetahuan akan gaya pakaian, tren fashion, penguasaan pencahayaan alami+buatan dan fleksibilitas dalam berganti gaya foto merupakan kemampuan yang penting bagi fotografer fashion.
www.infofotografi.com

Foto editing bagaimana yang bagus?

Sebagian foto yang tersebar di internet sudah melalui proses edit foto, biasanya melalui software pengolah foto seperti Adobe Photoshop. Lalu bagaimana edit foto yang baik dan benar? Karena foto editing ini seni, maka gak ada yang benar dan salah. Tapi tentunya ada juga editing yang lebih enak dilihat dan ada yang melewati batas kewajaran dan tidak begitu enak di pandang.
Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk mengedit foto. Bagi saya editing itu bertujuan untuk :
  1. Memperbaiki foto yang ada mungkin karena kamera dan lensa kita tidak bisa menangkap foto dengan baik. Misalnya lensa foto kita kurang tajam, atau perbedaan terang-gelap yang terlalu ekstrim sehingga tidak bisa ditangkap dengan baik oleh sensor kamera
  2. Membuat suasana/mood yang berbeda, misalnya membuat mood terkesan tua, suram, atau sebaliknya, semangat, antusias, heboh dan lain lain
  3. Membuat orang yang melihat foto kita fokus ke satu subjek daripada subjek yang lain atau latar belakang
Soal batasan, setiap jenis fotografi memiliki batasan-batasan tertentu, ada yang longgar, ada yang cukup ketat.
Jenis fotografi yang memiliki aturan ketat adalah fotojurnalisme, dimana seorang fotografer harus menampilkan foto apa adanya sesuai realitas yang ada. Tapi ada juga jenis fotografi komersial yang justru mengunakan editing dan manipulasi foto untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Fotografi komersial seperti untuk iklan. Manipulasi foto justru dianjurkan karena efisiensinya.
Contohnya daripada harus membawa model ke pantai, atau lokasi tertentu, maka fotografer komersial akan foto subjek tersebut di studio dan kemudian di gabungkan dengan foto pantai sebagai latar belakangnya. Hal ini menghemat ongkos, tenaga dan waktu.
Untuk foto travel / jalan-jalan, editing yang sukses adalah bisa memberikan kesan suasana atau mood tertentu. Misalnya foto bangunan kuno biasanya lebih bagus dan dramatis bila saturasi warnanya rendah atau monokrom. Bila kita foto acara budaya dengan pakaian tradisional yang berwarna-warni, maka editan dengan saturasi tinggi tentunya lebih cocok.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna 
monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Untuk foto portrait/model, editan yang bagus mempertimbangkan karakter subjek yang difoto, dan keseluruhan suasana foto baik subjek maupun latar belakangnya.
Sebenarnya bebas-bebas saja dalam mengedit foto, yang penting editan kita harus bisa memperkuat foto kita dan mengambarkan suasana/mood yang sesuai. Bila tidak, foto yang sudah baik malah menjadi tidak begitu baik dan membingungkan.
Setiap foto juga membutuhkan perlakuan yang berbeda, kita tidak bisa memaksakan perlakuan yang sama untuk semua foto dan mengharapkan mendapatkan foto yang bagus. Bagi fotografer pemula yang kurang pede, yang penting jangan terjebak dengan tren edit gaya tertentu dan ikut-ikutan. Kita punya pilihan untuk mengedit sesuai indentitas kita dan mengembangkan gaya sendiri.
Oke, daripada saya berteori ria terus, mari kita lihat contoh-contoh editan hehe
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak 
detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang 
bolong
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang bolong
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, 
menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi
 warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuannya
 adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana 
adem dan kesan tua.
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuan editing untuk foto ini adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana adem dan kesan tua.
Editing foto memberikan kesan yang berbeda pada foto portrait, perhatikan kedua foto dibawah ini
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi
 warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model 
yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga
 membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan 
tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Mungkin itu yang 
ingin disampaikan Harianto
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Yang kurang dari foto ini mungkin sayapnya aja. Mungkin itulah kesan yang ingin disampaikan Harianto
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, 
Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini 
relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan 
agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol 
merepresentasikan jiwa pemberontak. Hanya yang disayangkan, bila warna 
bajunya merah, tentuya lebih melengkapi suasana foto yang ingin 
disampaikan Hendra
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol merepresentasikan jiwa pemberontak. Komposisi foto satu badan menonjolkan keseksian daripada karakter/kepribadian. Hanya yang disayangkan, bila warna bajunya merah, tentunya lebih melengkapi suasana foto yang ingin disampaikan Hendra
Dari contoh diatas, kita bisa melihat dari satu foto model yang sama di komposisikan berbeda dan di edit dengan gaya yang berbeda. Yang mana yang terbaik tergantung dari apa yang ingin disampaikan fotografernya.
www.infofotografi.com

8 kunci dalam perjalanan fotografi saya

Dari 2007 sampai 2011, saya merasakan banyak perkembangan dalam dunia fotografi saya. Dari banyak belajar, praktik, inilah 8 hal utama yang saya anggap penting untuk meningkatkan diri kita dan pada akhirnya, karya kita. Saya berharap saya mengetahui hal-hal ini di tahun-tahun awal saya belajar fotografi. Hal-hal tersebut adalah:
1. Belajar teori fotografi terlebih dahulu akan menghemat banyak waktu
Belajar fotografi sebaiknya diawali oleh mempelajari teori fotografi sebelum praktik. Meskipun seringkali kurang menyenangkan dan membosankan bagi sebagian orang, tapi belajar teori akan mempercepat proses belajar dan meningkatkan kualitas foto kita. Keuntungan utama dari menguasai teori adalah kita bisa “membuat” foto yang kita mau dan bisa membuat hasil yang serupa kapan saja kita inginkan. Belajar teori bisa didapat dengan berbagai cara, antara lain dengan membaca buku, menonton video, dan mengikuti kursus fotografi.
2. Alat itu bagus, tapi visi yang baik lebih bagus
Dulu saya menganggap bahwa alat yang mahal akan membuat hasil foto kita menjadi bagus. Memang benar alat fotografi seperti kamera dan lensa berkontribusi atas ketajaman gambar, keindahan warna dan detail. Tapi mengunakan alat fotografi yang terbaik saja tidak cukup untuk menghasilkan foto yang bagus. Komposisi gambar, kemampuan melihat dan memanipulasi cahaya, dan ilmu-ilmu lainnya masih sangat penting untuk di pelajari. Meski alat fotografi kita sederhana, tapi kita bisa menciptakan karya yang baik bila kita fokus dalam meningkatkan visi kreatif kita.
3. Ilmu fotografi bisa dipelajari dan dikuasai siapa saja
Fotografer yang berhasil membuat karya-karya besar dari kerja keras dan hasil belajar bertahun-tahun, bukan hanya sekedar bakat. Menurut Thomas Alva Edision, sukses berasal dari 1% inspirasi dan 99% dari kerja keras. Jadi jangan kuatir bila kita merasa tidak berbakat atau lamban dalam belajar fototografi. Bila memiliki kemauan belajar dan kerja keras kita bisa mencapai bahkan melampaui fotografer yang lebih sukses dari kita.
4. Kembangkan gaya fotografimu
Setiap orang memiliki kesukaan sendiri atas jenis fotografi. Ada yang mungkin suka fotojurnalisme / candid, ada yang suka fotografi hitam putih dan sebagainya. Bila apa yang kita sukai tidak sesuai tren yang ada, kadang kita menerima tekanan karena foto kita tidak begitu dihargai oleh masyarakat luas. Daripada mengubah gaya fotografi kita dan mengikuti tren yang ada, lebih baik bila mengembangkan kualitas dan gaya foto kita. Selain lebih menyenangkan, kita juga akan lebih cepat berkembang karena fokus ke hal yang kita sukai. [Baca Gaya fotografi]
5. Fotografi sebagai hobi dan karir itu berbeda
Hobi dan kerja adalah hal yang sangat berlainan. Bila kita menganggap fotografi sebagai hobi, maka kita tidak memiliki tuntutan untuk mendapatkan uang dari fotografi. Sebagai penghobi, kita juga tidak perlu mengurusi klien. Karena murni untuk kepuasan sendiri. karena tidak ada tuntutan ROI (return on investment), maka investasi sebesar apapun tidak menjadi masalah. Di lain pihak sebagai profesional, kita harus mempertimbangkan banyak hal. Dan sebagai pro, seringkali kerjaan utama kita bukan fotografi lagi, tapi lebih ke manajemen dan marketing. Oleh sebab itu, pertimbangkan matang-matang bila kita ingin mengubah hobi kita menjadi karir.
6. Lighting itu rumit, tapi penting untuk dipelajari
Pencahayaan itu penting untuk dipelajari, baik yang alami maupun buatan. Ketika saya masih pemula, saya menyepelekan lighting dan hanya mengandalkan kamera canggih dan lensa mahal. Tapi ternyata kedua hal tersebut tidak bisa menyelesaikan masalah saya. Foto foto saya semuanya biasa-biasa saja dan tidak setajam yang saya inginkan. Setelah belajar lighting, saya bisa mendapatkan foto yang lebih tajam dan bisa mengendalikan saturasi warna dan sifat cahaya dengan lebih baik. [Baca Beli lensa atau lampu kilat]
7. Foto subjek yang bagus
Meski fotografer yang ahli mampu membuat foto yang unik di lingkungan yang jelek atau lingkungan turis yang sudah sering di foto, hasil foto yang terbaik terjadi saat kita berada di depan lingkungan yang unik dan fotogenik. Demikian juga bila kita foto model/fashion. Model yang cantik dan pintar bergaya akan memudahkan kerja kita dan membuat hasil foto menjadi jauh lebih baik daripada orang biasa. Hal ini juga berlaku dalam foto still life, makanan dan sebagainya. Pemilihan makanan atau subjek foto yang bagus sangat penting dan sangat mempengaruhi hasil foto.
8. Berbagi
Setelah menguasai ilmu fotografi, ada baiknya kita berbagi melalui karya foto kita, mengajar, menulis, berbicara di seminar dan lain-lain. Sebagian besar orang enggan berbagi karena tidak melihat manfaatnya secara langsung, padahal dengan berbagi, kita akan menerima pahala yang besar.
Saya sendiri merasakan selama mengajar dan menulis blog, saya sering mendapatkan inspirasi dan ide-ide kreatif, selain itu saya terpacu untuk meningkatkan kualitas foto saya. Dari proses ini, saya juga mendapatkan banyak teman-teman baru yang sering membantu saya ketika saya menghadapi kesulitan. [Baca: Mengapa mengajar?]
Pantai Cermin, Sumut foto dibuat sebelum matahari terbit
Pantai Cermin, Sumut foto dibuat sebelum matahari terbit
www.infofotografi.com

Extovert dan Intovert

Kepribadian manusia bermacam-macam. Kepribadian yang populer adalah extrovert dan introvert. Kaum extrovert suka bersosialisasi, bergairah bila dilingkungan banyak orang. Sedangkan kaum introvert terkesan pendiam dan tak begitu suka keramaian seperti pesta.
Extrovert mendapatkan energi mental dari lingkungan diluar dirinya, sedangkan introvert mendapatkan energi dari dalam diri, saat melakukan aktivitas sendiri. Ibaratnya, extrovert seperti panel surya sedangkan introvert seperti baterai atau aki.
Tiap kepribadian memiliki kelebihan sendiri sendiri. Extrovert suka bersosialisasi, karena ilmu sosialnya sering terasah, maka fotografi yang cocok adalah fotografi yang membutuhkan interaksi dengan orang-orang, seperti foto portrait atau wedding, yang membutuhkan interaksi yang banyak supaya bisa menghasilkan foto yang baik. Lalu kaum ekstrovert juga lebih suka berada dalam satu tim daripada kerja sendirian. Maka dari itu ekstrovert suka hunting ramai ramai daripada sendiri.
Sebaliknya, kaum introvert lebih suka kerja sendiri atau hanya bersama satu-dua teman dekat saja. Bekerja dengan banyak orang, apalagi yang baru kenal bisa menguras energi kaum introvert. Meski menjadi seorang introvert sepertinya kurang bisa maju. Tapi seorang introvert juga memiliki kelebihan seperti memiliki sifat yang lebih tenang dan pengamatannya juga lebih rinci.
Saya merasa fotografi sangat membantu introvert untuk bisa menikmati acara acara sosial. Sebagai seorang introvert, biasanya saya sangat malas untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara sosial seperti pesta. Namun dengan adanya kamera dan fotografi, saya punya alasan kuat untuk hadir. Kamera akan sebagai tembok imajiner antara saya dan lingkungan sehingga ada yang bisa saya kerjakan di pesta tidak hanya canggung di tempat yang ramai.
Jenis fotografi yang cocok untuk introvert antara lain fotojurnalisme meliputi candid, olahraga, satwa liar, travel, pemandangan, acara sosial, still life dan produk. Sedangkan jenis fotografi yang cocok untuk extrovert antara lain adalah foto portrait, foto wedding dan prewed, foto komersial, foto human interest.
Nah bagaimana pengalaman Anda sendiri?
www.infofotografi.com

Selasa, 28 Februari 2012

Steve Jobs – Pelajaran tentang hidup dan mati

Steve Jobs, legenda teknologi pendiri Apple dan arsitek dari produk-produk legendaris seperti IMac, Ipod, Iphone dan Ipad telah tiada pada tanggal 6 Oktober 2011.
Sebenarnya, saya sendiri tidak pernah memiliki produk Apple. Saya pernah mengunakan iMac saat saya aktif di koran kampus, tapi saya lebih menyukai memakai PC untuk kesehariannya. Saya juga tidak pernah dan tidak tertarik untuk memiliki Ipod, Iphone atau Ipad.
Mungkin kalian bertanya-tanya, lalu apa pentingnya Steve Jobs bagi saya? Ngapain saya menulis tentang dia di blog fotografi?
Saya mengenal lebih dekat tentang filosofi Steve Jobs saat saya tidak sengaja menonton video clip di YouTube tentang pidato Steve Jobs di Stanford University. Pidato ini dialamatkan ke mahasiswa/i yang baru di wisuda. Di pidato yang sangat inspiratif itu. Steve Jobs bercerita tentang hidupnya dan juga bagaimana dia lolos dari maut di tahun 2004.
Steve Jobs didiagnosa menderita kanker pankreas yang langka tahun 2004. Dokternya mengatakan dia hanya bisa bertahan hidup 3-6 bulan lagi. Tapi karena keajaiban, hidup Steve Jobs bisa diperpanjang melalui operasi.
steve-jobs
Ini kutipan yang paling saya suka di dalam pidato itu:
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart. … Stay hungry. Stay foolish.”
Steve mengingatkan kita bahwa saat kita akan mati, semua harapan dari lingkungan, kebanggaan, ketakutan akan malu dan gagal akan hilang. Yang tinggal hanya yang paling penting dalam hidup kita.
Sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mengikuti hati, hanya sibuk mencari uang yang tidak ada akhirnya atau mengikut rutinitas yang tidak disukai. Tidak terasa, kematian sudah di depan mata.
Steve Jobs beruntung karena sejak dia menderita kanker pankreas, dia mengetahui kematiannya tidak akan lama lagi, maka dari itu tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mengambil langkah-langkah besar.
Beberapa saat yang lalu, saya diwawancara oleh sebuah majalah tentang fotografi. Salah satu pertanyaannya adalah sebagai berikut:
“Bisa dipromosikan keunggulan Anda sehingga ketika baru kembali di Indonesia Anda nekad berani langsung membuka kursus fotografi, bahkan mengeluarkan buku belajar fotografi?”
Sebagian besar dari kita tidak mengetahui kapan kita mati? mengapa kita melakukan apa kata hati kita? Meski saya tidak terkenal, karya saya tidak banyak, ilmu saya masih dangkal, tapi kenapa saya harus menunggu sampai hari itu tiba? Saya tidak tahu kapan saya mati, dan saya tidak mau menyia-nyiakan hidup saya untuk melakukan apa yang saya sukai, fotografi dan mengajar.
Terima kasih atas inspirasinya Steven Paul Jobs, Rest in Peace!
 www.infofotografi.com

Canon EOS 1D Mark IV



Menawarkan kombinasi yang komprehensif dari kualitas kecepatan, akurasi dan gambar, EOS-1D Mark IV adalah pilihan yang sempurna untuk fotografer profesional dan subyek bergerak. Dengan sistem 45-titik AF sepenuhnya didesain ulang termasuk 39 cross-type poin, AI baru Servo AF II fokus sistem pelacakan dengan algoritma ditingkatkan dikombinasikan dengan 10 fps continuous shooting, EOS-1D Mark IV bahkan dapat menangani situasi berkecepatan tinggi dengan mudah . Sebuah APS-H berukuran 16,1 Megapixel CMOS Sensor, Dual Prosesor DIGIC 4 Image, berbagai ISO spektakuler dari 100-12800 (sampai 102.400 dalam modus H3) dengan sistem pengurangan kebisingan canggih akan membantu memastikan tajam, kebisingan rendah-gambar bahkan di negara- situasi cahaya. Tambahkan View rekaman penembakan maju Live, Kendali film HD dengan frame rate yang dipilih dan pengaturan manual ditambah sejumlah fitur baru yang meningkatkan setiap aspek dari proses pengambilan gambar. EOS-1D Mark IV adalah pilihan profesional mencari yang paling dalam kinerja SLR.
Fitur:

Baru 45-titik sensor AF Daerah termasuk 39 cross-type titik AF dengan dukungan f/2.8 ditambah baru AI Servo AF II dengan algoritma ditingkatkan.

ISO 100 - (dapat ditingkatkan menjadi L: 50, H1: 25600, H2: 51200, H3: 102400) 12800 untuk menembak dari terang ke cahaya redup dengan tingkat kebisingan rendah.

EOS HD film dengan kontrol manual exposure dan frame rate beberapa (1080: 30p (29,97) / 24p (23.976) / 25p, 720: 60p (59,94) / 50p, 480: 60p (59,94) / 50p).

16,1 Megapixel APS-H CMOS sensor dan Dual DIGIC Prosesor Gambar 4 untuk kualitas gambar yang tinggi dan kecepatan.

10,0 fps terus menembak sampai dengan 121 JPEGs Besar atau 28 RAW menggunakan kartu UDMA CF.

3.0-inch Clearview II monitor LCD, 160 ° sudut pandang, 920.000-dot VGA, refleksi perlawanan dengan lapisan multi dan tinggi transparansi bahan untuk melihat terang dan jelas.

Magnesium paduan tubuh dengan daya tahan shutter sampai 300.000 siklus dan debu-dan eksklusif cuaca perlawanan.

Sepenuhnya kompatibel dengan lebih dari 50 lensa EF dan berbagai aksesoris Sistem EOS.

Profesional Terbukti, Kecepatan Tinggi AF.
Baru 45-titik sensor AF Daerah termasuk 39 cross-type titik AF dengan dukungan f/2.8 ditambah baru AI Servo AF II dengan algoritma ditingkatkan.


EOS-1D Mark IV memiliki, baru dikembangkan presisi tinggi Luas sensor AF dengan 45 poin secara manual dipilih termasuk 39 cross-type, presisi tinggi titik AF untuk menuntut dan cepat fokus tidak peduli subjek. Baru AI Servo AF pelacakan fokus II fitur algoritma ditingkatkan yang membantu meningkatkan stabilitas, kehandalan dan fokus tidak peduli situasi. Apakah penembakan pertandingan sepak bola cepat atau menembak close-up dari lebah di bunga tertiup angin selama fotografi makro, AI Servo AF II membantu memastikan fokus yang tajam setiap waktu. AF titik seleksi telah diperbaiki juga. Fotografer dapat memilih titik mereka sendiri baik melalui Dial kamera Multi-controller atau Utama / Quick Control Dial. Seleksi otomatis yang sederhana seperti menekan sebuah tombol. Dengan fungsi Custom, fotografer dapat memilih sendiri standar titik fokus untuk secara otomatis beralih antara pengambilan gambar horizontal dan vertikal dan bahkan dapat memilih untuk memiliki fokus utama didukung oleh titik-titik fokus yang berdekatan untuk akurasi yang lebih dengan subyek bergerak.
Keterangan:

Jenis
Jenis
Digital AF / AE SLR
Media perekaman
CF Card Tipe I dan II, SD / SDHC Memory Card (1 slot masing-masing), Mode UDMA 6 kartu CF dan / atau media eksternal (USB v.2.0 hard drive, melalui opsional Transmitter Berkas Canon Wireless WFT-E2/E2A atau File Wireless Transmitter WFT-E2 * IIA)
Image Sensor Size
1,098 x 0,73 in / 27,9 x 18,6 mm (APS-H sensor ukuran)
Kompatibel Lensa
Canon EF
Lensa Gunung
Canon EF gunung
Image Sensor
Jenis
Sensitivitas tinggi, resolusi tinggi, satu-piring, sensor CMOS
Pixel
Approx. 16,10 Megapixels
Jumlah Piksel
Approx. 17.00 Megapixels
Rasio Aspek
3:2 (horizontal: vertikal)
Warna Filter Sistem
RGB filter warna dasar
Low-pass Filter
Tetap posisi di depan sensor gambar
Debu Penghapusan fitur
(1) Cukup Membersihkan Sensor Satuan
- Membantu menghilangkan debu berpegang pada low-pass filter.
- Pembersihan otomatis saat dihidupkan dan dimatikan, dan pembersihan manual.
- Low-pass filter memiliki lapisan fluor.
(2) Debu Hapus Data akuisisi dan menambahkan
- Koordinat debu berpegang pada low-pass filter dideteksi dengan tes menembak dan ditambahkan ke gambar berikutnya
- Data koordinat debu ditambahkan ke foto tersebut digunakan oleh perangkat lunak yang disediakan untuk secara otomatis meminimalkan bintik-bintik debu
(3) Pedoman pembersihan
Rekaman Sistem
Recording Format
DCF 2.0 (Exif 2.21): JPEG, RAW dan RAW + JPEG perekaman simultan mungkin. Beberapa pilihan untuk merekam gambar di dua kartu memori, dan kompatibel ke drive USB eksternal hard (melalui Transmitter file opsional Wireless WFT-E2/2A, E2 IIA *)
Tipe Gambar
JPEG, RAW, M-RAW, S-RAW (Canon. CR2) MOV
File Name
Nama file dapat diatur untuk salah satu dari tiga format:
1. Pabrik-default, empat karakter alfanumerik nama
2. Setiap empat karakter (Pengguna pengaturan 1)
3. Setiap tiga karakter ditambah ukuran gambar (Pengguna pengaturan 2). Jika 3 diatur dan gambar M-RAW diambil, karakter keempat akan `` M. Ketiga atas pengaturan juga berlaku untuk nama file untuk film. Jika 3 diatur, karakter sebagainya akan `_` (underscore).
Ukuran File
JPEG
1) Besar: Approx. 16,00 megapixel (4896 x 3264)
2) Sedang 1: Approx. 12,40 megapixel (4320 x 2880)
3) Sedang 2: Approx. 8,40 megapixel (3552 x 2368)
4) Kecil: Approx. 4,00 megapixel (2448 x 1632)

Lossless RAW
1) RAW: Approx. 16,00 megapixel (4896 x 3264)
2) M-RAW: Approx. 9,00 megapixel (3672 x 2448)
3) S-RAW: Approx. 4,00 megapixel (2448 x 1632)
Folder Pengaturan
Folder penciptaan / seleksi diaktifkan
Perekaman Fungsi
(1) Standar
- Tidak ada switching otomatis dari media rekaman
(2) Peralihan otomatis media rekaman
- Ketika media rekaman saat ini penuh, itu beralih ke media lain merekam secara otomatis dan terus rekaman
(3) Pisahkan rekaman
- Mengatur ukuran gambar yang diinginkan (L, M1, M2, S, RAW, M-RAW, S-RAW) untuk setiap media perekaman sebelum menembak
- Ukuran gambar ditetapkan untuk satu gambar yang diambil akan diterapkan ke semua media rekaman
(4) Rekaman gambar yang identik
- Gambar yang sama dicatat untuk semua media rekaman. (Juga mungkin dengan JPEG + RAW.)
- Film tidak dapat direkam secara bersamaan untuk beberapa media perekaman
- Jika rekaman simultan telah ditetapkan, film akan disimpan ke media rekaman diatur dengan [Play] pada [Recording fungsi + media / folder sel.] Layar.
- Jika masih foto diambil saat syuting film dan (3) atau (4) telah ditetapkan, masih foto akan disimpan ke setiap media perekaman dalam ukuran gambar yang ditetapkan.
Backup Rekaman
Diaktifkan
- Dengan media perekaman eksternal terhubung melalui WFT-E2 IIA * dan WFT-E2/E2A (Firmware Ver 2.0.0 atau lebih tinggi.).
- Dua pilihan: 1. Cepat backup (Backup folder dibuat secara otomatis dan nama folder diatur secara otomatis.), 2. Cadangan (Backup folder dibuat secara manual dan nama folder dapat dimasukkan secara manual.)
- Gambar dalam kartu yang didukung di direktori root media perekaman eksternal `s berdasarkan kartu` struktur folder DCIM s.
* Perangkat ini belum resmi seperti yang dipersyaratkan oleh aturan Federal Communications Commission. Perangkat ini tidak, dan mungkin tidak ditawarkan untuk dijual atau sewa, atau dijual atau disewakan, sampai kesepakatan yang diperoleh.
File Numbering
(1) Kontinyu penomoran (2) Auto ulang (3) manual reset (gambar penomoran diatur ulang ke 0001, folder baru dibuat secara otomatis)
Salin image
Gambar menyalin antara media rekaman diaktifkan (gambar dengan checkmarks atau semua gambar dalam folder atau kartu)
Warna Ruang
sRGB, Adobe RGB
Gambar Gaya
Standar, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful, Monokrom, Def Pengguna. 1-3
Pengolahan Citra
Auto White Balance
Keseimbangan putih otomatis, diambil dari sensor pencitraan
Suhu Warna Kompensasi
White balance bracketing: Tiga gambar berturut-turut, Sampai + / - 3 tingkatan dalam 1-berhenti koreksi Putih keseimbangan bertahap: (. Dikoreksi dalam referensi untuk temperatur warna Bank Dunia saat ini modus `s) biru / kuning bias dan / atau magenta / bias yang hijau + / - 9 tingkat; manual yang ditetapkan oleh pengguna.
Ketika biru / kuning bias dan magenta / Bias hijau diatur dengan koreksi white balance, bracketing white balance tidak dapat ditetapkan bersama selama koreksi white balance
Suhu Warna Informasi Transmisi
Diperoleh
Viewfinder
Jenis
Setinggi mata SLR dengan pentaprism tetap
Liputan
Approx. 100% horisontal dan vertikal
Pembesaran
Approx. 0.76x (dengan lensa 50mm di tak terhingga, -1 m-1)
Sudut pandang: Approx. 28,3 °
Eyepoint
20mm (di-1m-1, dari pusat lensa lensa mata)
Built-in Penyesuaian Dioptric
Disesuaikan dari -3,0 ke +1.0 m-1 (dpt)
Cermin
Cepat-kembali setengah cermin (Transmisi: refleksi rasio 37:63)
Kedalaman-of-Field Preview
Diaktifkan dengan kedalaman-medan-tombol preview
Lensa mata Shutter
Built-in
Autofocus
Jenis
TTL-AREA-SIR AF-dedicated sensor CMOS
AF Poin
Area AF dengan 45 titik AF
- 8 mm (H) x 15 mm (W)
- Semua 45 titik AF yang horisontal-line sensitif pada f/5.6 (vertikal). Tiga puluh sembilan dari 45 titik AF yang vertikal garis sensitif di f/2.8 untuk cross-type fokus. Untuk pemilihan titik AF otomatis, cross-type fokus dengan 19 titik AF yang digunakan. (The 39 cross-type AF poin digunakan hanya selama pemilihan titik AF manual.)
- Bila menggunakan beberapa f / 4 lensa (termasuk lensa ketika menggunakan f/2.8 + Extender 1,4 x), cross-type fokus dengan 39 titik AF mungkin.
Rentang Metering
EV -1-18 (pada 23 ° C/73 ° F dengan lensa 50mm f/1.4 pada ISO 100)
Fokus Mode
Autofocus
1) One-Shot AF
2) prediksi AI Servo AF
- Berikut ini dapat diatur: C.Fn III -2: Fokus pelacakan sensitivitas, C.Fn III -3:
Servo operasi metode dan shutter-release waktu, C.Fn III -4: operasi metode Servo dalam kasus benda lebih dekat memasuki pusat fokus selama subjek-pelacakan.
(2) fokus manual
Titik AF Seleksi
1) The 45 titik AF dapat dipilih secara otomatis atau salah satu dari mereka dapat dipilih secara manual. Untuk memilih titik AF, tekan tombol AF titik seleksi, kemudian gunakan Multi-controller, Dial Utama, atau Quick Control Dial. Dengan C.FN III -8-3, 18 titik AF diperluas malah digunakan untuk mencari subjek.
2) Selama pemilihan titik AF manual, enam titik AF (AF atau 26 poin selama seleksi titik AF otomatis) selain 39 cross-type titik AF akan bekerja sebagai horisontal line-sensitif sensor di f/5.6. Dua titik AF di bagian atas langsung dan bawah titik AF pusat telah meningkatkan kinerja deteksi dan presisi karena peningkatan jumlah baris ke dua untuk sensor f/5.6. (The 39 cross-type AF poin digunakan hanya selama pemilihan titik AF manual.)
Terpilih Titik AF Tampilan
Ditumpangkan di viewfinder dan pada LCD panel
AF-assist Beam
Tidak ada
- Ketika sebuah, eksternal EOS-dedicated Speedlite terpasang ke kamera, AF-assist balok dari Speedlite akan dikeluarkan saat diperlukan.
- Kompatibel dengan balok `270EX AF-assist s (serangkaian berkedip kecil)
Paparan Kontrol
Metering Mode
63-zona TTL metering penuh aperture
(1) evaluatif metering (terhubung ke semua titik AF)
(2) Partial metering (sekitar 13,5% dari layar, di pusat)
(3) Spot metering (sekitar 3,8% dari layar, di pusat)

* Pusat spot metering
* AF titik-linked spot metering
* Multi-spot metering (maks. 8 entri titik metering)

(4) Pusat-rata tertimbang metering
Rentang Metering
EV 0-20 (pada 23 ° C/73 ° F dengan lensa 50mm f/1.4 pada ISO 100)
Paparan Kontrol
Program AE (shiftable), Kecepatan rana prioritas AE, Aperture-priority AE, E-TTL II Program AE (flash metering evaluatif, rata-rata flash metering), Manual
Kecepatan ISO (Index Eksposur Direkomendasikan)
Auto, ISO 100-12800 (1/3-stop atau 1-berhenti bertahap: C.Fn saya -2), diupgrade
- Auto ISO ditetapkan secara default. Dengan semua C.Fn ke pengaturan standar, secara otomatis ditetapkan dalam ISO 100-12800.
- Dengan C.Fn saya -3 (ISO rentang kecepatan), yang settable tertinggi dan terendah ISO kecepatan dapat diatur. Dengan menetapkan L (ISO 50) untuk kecepatan terendah dan H1 (ISO 25600), H2 (ISO 51200), H3 (ISO 102400) [TD] untuk yang tertinggi, ekspansi Kecepatan ISO adalah mungkin.
- Dalam setting ISO manual, jika batas atas kecepatan ISO diatur ke H1, H2, H3 [TD], dan ISO yang lebih rendah kecepatan batas untuk L dengan C.Fn I-3, kisaran kecepatan ISO akan settable ISO 100 - 12800.
- Pada Auto ISO, bahkan jika batas atas kecepatan ISO diatur ke H1, H2, H3 [TD], dan ISO yang lebih rendah kecepatan batas untuk L dengan C.Fn I-3, ISO Auto rentang kecepatan akan ISO 100-12800 . Namun, jika ISO rendah dan lebih tinggi batas kecepatan telah ditetapkan untuk berbagai sempit, kecepatan ISO akan secara otomatis ditetapkan dalam kisaran tersebut.
- Pada mode P, Tv, Av dan C.Fn saya -8-2 (Tv / Av pergeseran keamanan) diatur, C.Fn saya -3 `s ISO batas jangkauan akan dibatalkan bila eksposur standar tidak dapat diperoleh, bahkan jika C.Fn I-3 telah mengatur kecepatan settable terendah dan tertinggi ISO ke berbagai sempit. Ini akan secara otomatis dikontrol dalam kisaran ISO100-12800.
- Dalam ISO Auto dan C.Fn saya-8-1 (Tv / Av keselamatan shift) diatur, C.Fn I-12 `s kecepatan rana berbagai batas dan C.Fn saya-13` s batas rentang aperture akan dibatalkan pada saat eksposur standar tidak dapat diperoleh. C.Fn I-3 `s atas dan batas bawah akan diterapkan untuk mengontrol rentang kecepatan ISO. Dengan C.Fn II-3 (Sorot prioritas nada) yang ditetapkan, bahkan jika C.Fn I-3 telah menetapkan batas kecepatan ISO yang lebih rendah untuk L dan batas atas kecepatan ISO untuk H1, H2, H3, Auto ISO jangkauan dan manual rentang ISO akan ISO 200-12800. Namun, jika ISO rendah dan lebih tinggi batas kecepatan telah ditetapkan untuk berbagai sempit dengan C.Fn I-3, kisaran settable akan ISO 200 ke set batas kecepatan yang lebih tinggi.
- Ketika memeriksa kecepatan ISO masih foto atau film ditembak H3 (ISO 102400) dalam perangkat lunak yang tersedia secara komersial, nilai kecepatan ISO yang benar mungkin tidak ditampilkan (standar informasi EXIF ​​tidak dapat merekam ISO 102400 pengaturan).
- Ketika pencetakan informasi pengambilan gambar untuk gambar hasil bidikannya di H2, H3 ISO kecepatan selama ekspansi jangkauan kecepatan ISO, pengaturan kecepatan ISO mungkin tidak benar dicetak.
Kompensasi Eksposur
Kompensasi Eksposur (user-set): + / -3 berhenti secara bertahap 1/3- atau 1/2-stop.
Auto Bracketing (AEB): 3 tembakan, sampai + / - 3 stop, dalam 1/3 atau 1/2 bertahap stop, dalam semua mode eksposur. Dapat diubah melalui C.Fn I-6 ke 2,, 5 atau 7 tembakan. Rangka Bracketing dapat diubah melalui C.Fn I-5.
* Kecuali saat terpapar manual film.
AE Lock
Otomatis: Terapan dalam mode AF Satu-Shot dengan metering evaluatif bila fokus sudah tercapai
Manual (user-set): Dengan tombol kunci AE dalam semua mode metering
Shutter
Jenis
Vertikal-perjalanan, mekanik, focal-plane shutter dengan semua kecepatan dikontrol secara elektronik
Kecepatan rana
1/8000 to 30 detik. (1/3-, 1/2-, atau 1-berhenti bertahap: C.Fn saya -1), X-sync di 1/300 detik.
- Batasan kecepatan rana dapat dibatasi dengan C.Fn saya -12 dan rentang aperture terbatas dengan C.Fn saya -13
Shutter Rilis
-Sentuhan lembut elektromagnetik rilis
Self-timer
10-detik. menunda, 2-detik. menunda
Remote Control
Canon N3-tipe terminal
Speedlite eksternal
EOS Dedicated Speedlite
E-TTL II autoflash dengan semua Speedlites Seri EX
Zooming untuk Match Panjang Fokus
Diperoleh
Kompatibel flash
Kompatibel dengan semua seri EX Speedlites. Kompatibel dengan AF-assist berkedip dipecat oleh Speedlite 270EX
Flash Metering
E-TTL II autoflash
Flash Kompensasi Eksposur
± 3 stop secara bertahap 1/3- atau 1/2-stop
FE Lock
Diperoleh
Eksternal flash Pengaturan
Pengaturan fungsi Flash, Flash C.Fn pengaturan / Hapus semua Speedlite C.Fn `s
PC Terminal
Diperoleh; menerima pihak ketiga unit flash dengan garis sinkron tegangan sampai 250V maksimum
Drive Sistem
Hard Mode
Single, diam, kecepatan tinggi terus menerus (sekitar 10 fps), kecepatan rendah terus menerus (sekitar 3 fps), 10 - atau 2-detik. timer otomatis
Kontinyu Menembak Kecepatan
Approx. 10 fps (pada kecepatan rana 1/500 detik atau lebih cepat dalam semua mode perekaman.); Kecepatan tercepat bisa diturunkan jika diinginkan melalui Fungsi Kustom III-16
Maksimum Burst
Ledakan maksimum selama pengambilan gambar terus menerus adalah sebagai berikut:
JPEG Besar (Kompresi tingkat 8): Approx. 85 tembakan, RAW: Approx. 26 tembakan, RAW + JPEG Besar (Kompresi tingkat 8): Approx. 20 tembakan
Meskipun ukuran file lebih besar dari EOS-1D Mark III karena peningkatan piksel, proses internal ditingkatkan memungkinkan bebas stres pengambilan gambar terus menerus.
Fungsi Live View
Shooting Mode
(1) Jauh penembakan Live View (dengan komputer pribadi dipasang dengan EOS Utility)
(2) Live menembak View
Fokus
1) fokus manual
2) Autofocus (One-Shot AF)
- AF diaktifkan dengan menekan tombol rana atau menekan tombol AF-ON.
1. Live modus
- Satu titik, AF kontras. Beralih ke jalur AF mungkin.
2. (Deteksi wajah) Live modus
- Deteksi wajah, AF Kontras. Ketika beberapa wajah yang terdeteksi, seleksi wajah yang mungkin dengan controller multi-.
- Diperbesar melihat tidak mungkin.
3. Cepat modus
- 45-point, fase-perbedaan AF (Sama seperti penembakan jendela bidik), Satu-shot AF.
- Manual seleksi titik AF diaktifkan.
Metering Mode
Evaluatif dengan metering sensor gambar
Rentang Metering
EV 0-20 (pada 23 ° C/73 ° F dengan EF 50mm f/1.4 USM lensa, ISO 100)
Diperbesar View
Magnifiable dengan 5x atau 10x AF pada titik
Grid Tampilan
Diperoleh
Paparan Simulasi
Diperoleh
Monitor LCD
Jenis
TFT warna, kristal cair Monitor
Monitor Ukuran
3,0 inci
Titik-titik
Approx. 920.000 titik (VGA)
Liputan
Approx. 100%
Brightness Penyesuaian
Disesuaikan dengan salah satu dari tujuh tingkat kecerahan
- Selama pemutaran, pencahayaan dapat diatur dengan menekan tombol iluminasi.
Gambar Pemutaran
Tampilan Format
Gambar tunggal, 4-gambar indeks, 9-gambar indeks, Navigasi, zoom diperbesar (sekitar 1.5x untuk 10x), Histogram, Rotasi otomatis, Putar
Live melihat: melihat gambar sebelum penembakan pada LCD monitor; hidup histogram dan simulasi langsung dari tingkat pemaparan mungkin dengan C.Fn IV-16-1
Gambar Perlindungan dan Erase
Melindungi
Satu Gambar, semua gambar dalam folder, atau semua gambar dalam kartu memori dapat dilindungi atau membatalkan perlindungan citra
Menghapus
Satu Gambar, semua gambar dalam folder, semua gambar dalam kartu memori atau check-ditandai gambar bisa dihapus atau tidak dilindungi
Langsung Percetakan
Kompatibel Printer
Printer yang kompatibel dengan PictBridge
Cetak Gambar
RAW / M-RAW / S-RAW dan JPEG gambar mematuhi aturan untuk Desain Sistem File Kamera
- Mengenai RAW / M-RAW / S-RAW gambar, hanya mereka ditangkap oleh EOS-1D Mark IV dapat dicetak.
- Film tidak dapat dicetak.
DPOF: Digital Print Order Format
DPOF
Versi 1.1 yang kompatibel
Kustomisasi
Fungsi kustom
Sebanyak 62 Fungsi Custom dari C.Fn I sampai IV dapat diatur dengan kamera
Saya Buka Menu Pendaftaran
Diperoleh
Simpan Pengaturan Kamera
Diperoleh
Daftar Pengaturan Dasar Kamera
Diperoleh
C.Fn Pendaftaran Pengaturan
Diperoleh
Antarmuka
USB Terminal
Untuk komunikasi komputer pribadi dan pencetakan langsung (Hi-Speed ​​USB)
Video Out Terminal
NTSC / PAL dipilih
Fitur Baru
Pencatatan Waktu
Max. 30 detik. per klip suara / memo suara
Menu
Menu Kategori
(1) Menembak (2) Putar (3) Pengaturan, (4) fungsi kustom / My Menu
Monitor LCD Bahasa
25: Inggris, Jerman, Perancis, Polandia Belanda, Denmark, Portugis, Finlandia, Italia, Norwegia, Swedia, Spanyol, Yunani, Rusia, Ceko, Hungaria, Rumania, Ukraina, Turki, Arab, Thai, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Korea dan Jepang
Sumber Listrik
Baterai
Battery Pack LP-E4 x 1
* Dengan AC Adapter Kit ACK-E4, listrik AC adalah mungkin.
Battery Life
Viewfinder Menembak
- Pada 73 ° F/23 ° C: Approx. 1500
- Pada 32 ° F / 0 ° C: Approx. 1200
Live View Shooting
- Pada 73 ° F/23 ° C: Approx. 270
- Pada 32 ° F / 0 ° C: Approx. 230
* Berdasarkan sepenuhnya bermuatan LP-E4 dan CIPA (Camera & Imaging Products Association) standar pengujian.
Baterai Centang
Baterai otomatis memeriksa ketika saklar daya AKTIF Ditampilkan di salah satu dari enam tingkat
* Tampilkan pada panel LCD, di jendela bidik, dan layar informasi baterai.
Power Saving
Disediakan. Daya mati setelah 1, 2, 4, 8, 15, 30 min.
Tanggal / Waktu Baterai
Satu baterai lithium CR2025 x 1
Start-up Waktu
Approx. 0,1 detik. (Berdasarkan standar CIPA pengujian)
* Approx. 0,2 detik. berdasarkan standar spesifikasi sebelumnya.
Dimensi dan Berat
Dimensi (WxHxD)
6,1 x 6,2 x 3,1 x 156,6 x in./156 79.9mm
Berat
Approx. 1180 g / 41,6 oz.
Operasi Lingkungan
Bekerja Kisaran Suhu
32-113 ° F/0-45 ° C
Bekerja Kelembaban Rentang
85% atau kurang
Paket Baterai
Jenis
Untuk LP-E4
Rechargeable lithium ion
Rated Voltage
11,1 V DC
Baterai Kapasitas
2300mHh
Dimensi (WxHxD)
68,4 x 34,2 x 1,3 x 92.8mm/2.7 x 3,7 in
Berat
180g/6.3 oz. (Tidak termasuk tutup pelindung)
Charger Baterai
Jenis
Untuk LC-E4
Charger yang didedikasikan untuk Baterai LP-E4
Waktu Isi Ulang
Approx. 120 menit. (Untuk 1 pack)
Masukan dinilai
100-240 V AC (50/60 Hz)
12 V/24 V DC
Rated output
12,6 V DC, 1,55 A
Bekerja Kisaran Suhu
0 ° C-40 ° C/32 ° F - 104 ° F
Bekerja Kelembaban Rentang
85% atau kurang
Dimensi (WxHxD)
155 x 52,3 x 95mm/6.1 x 2,1 x 3,7 in
Berat
340g/12.0 oz. (Tidak termasuk kabel listrik dan cover pelindung)
AC Adapter
Jenis
Untuk ACK-E4
* Mobil Baterai Kabel CB-570 dapat dihubungkan.
Masukan dinilai
12,6 V DC
Rated output
11,1 V DC
Kabel Panjang
Approx. 2,3 m/7.5 ft
Bekerja Suhu
0 ° C-45 ° C/32 ° F-113 ° F
Bekerja Kelembaban
85% atau kurang
Dimensi (WxHxD)
68,4 x 34,2 x 1,3 x 92.8mm/2.7 x 3,7 in
Berat (Kira-kira)
165g/5.8 oz. (Tidak termasuk tutup pelindung)
Urungkan pengeditan
Baru! Klik kata di

Percaya akan foto sendiri

Tujuan fotografi kita salah satunya adalah untuk berbagi kepada orang lain. Perkembangan media sosial seperti facebook, google+, flickr, dll membuat acara sharing ini menjadi mudah.
Meskipun demikian, banyak fotografer masih mengurungkan niatnya untuk berbagi karena kurang percaya dengan kualitas foto sendiri. Media sosial membuat fotografer berpikir berulang-ulang dan takut apakah fotonya akan diterima dengan baik oleh teman-temannya dan masyarakat luas. Karena takut respon negatif, atau kurang direspon, maka fotografer tersebut menjadi ragu untuk menampilkan foto apa adanya.
Untuk mengkompensasikan kekurang-percayaan atas fotonya sendiri, banyak orang yang mengunakan editing yang hasilnya seringkali membuat lebih buruk dan tidak jujur. Sebenarnya, foto yang di edit secara berlebihan membuat masyarakat yang melihat foto tersebut malah ikut tidak mempercayai foto tersebut.
Contohnya adalah teknik pengeditan seperti HDR, instagram (aplikasi Iphone), filter / action photoshop dan sebagainya. Dengan pengeditan ini, fotografer merasa lebih nyaman dengan hasil fotonya. Tapi dengan pengeditan berlebihan dan “hantam kromo” semacam ini, maka foto yang tadinya bagus, jujur dan jelas menjadi kabur tertutup dengan tirai “make-up” editan.
Contoh lain, di foto iklan dan foto di majalah-majalah. Banyak yang telah mengalami pengeditan sehingga tidak alami lagi. Misalnya selebriti yang kulitnya sangat mulus dan pinggangnya sangat ramping. Dengan banyaknya foto yang diedit secara berlebihan, masyarakat menjadi tidak percaya lagi dengan fotografi. Akhirnya terbentuk lingkaran ketidakpercayaan yang tidak berakhir.
Pinggang, lengan dan paha semuanya di-photoshop menjadi ramping
Selain itu, fotografer yang kurang pede juga biasanya memberikan deskripsi yang terlalu berlebihan di judul atau keterangan di fotonya. Padahal foto yang bagus akan bercerita dengan sendirinya dan tidak membutuhkan terlalu banyak keterangan.
Ada dua jenis fotografer yang bermasalah berkaitan dengan kepercayaan:
  • Fotografernya percaya dengan hasil karyanya, tapi teknik fotonya memang belum bagus saat pemotretan.
  • Fotonya sudah bagus, cuma yang moto senantiasa kurang pede dengan hasilnya.

















Solusi untuk yg fotografer pertama relatif mudah, belajar dan foto lagi teknik yang lebih baik. Dengan rajin belajar foto dan latihan melihat, maka tidak terasa kualitas foto kita akan meningkat.
Kualitas foto kita meningkat karena kita sudah menguasai teknik-teknik foto, semakin mengenal peralatan kita (kamera, lensa, flash, dll) sehingga semakin mudah mengekspresikan maksud kita. Secara otomatis masyarakat yang melihat foto tersebut akan dapat memahami apa yang ingin kita sampaikan.
Untuk yang kedua, menumbuhkan kepercayaan diri dari dalam diri sendiri seringkali malah lebih sulit. Solusinya adalah mencari mentor yang bisa membimbing dan mengarahkan ke arah yang positif. Dengan menguasai ilmu fotografi dan seni, maka seseorang akan menjadi lebih pede dengan hasil karyanya.

Ilusi Alat Fotography

Untuk menghasilkan hasil foto yang bagus, seringkali tidak dibutuhkan alat yang terlampau canggih. Tapi anggapan sebagian besar orang adalah untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dibutuhkan kamera dan lensa yang mahal dan canggih.
Sebenarnya, untuk menghasilkan foto yang bagus membutuhkan ketrampilan dan kreatifitas. Masalahnya adalah, tidak ada hubungan antara kreatifitas dan pemakaian alat yang mahal. Sebagian besar fotografer (terutama fotografer amatir) menjadi kreatif justru karena keterbatasan alat yang dimiliki. Misalnya dengan membuat aksesoris lighting sendiri.
Semakin berpengalaman dan semakin sukses, alat yang digunakan biasanya semakin sedikit dan spesifik. Contohnya, Henri Cartier Bresson, salah satu bapak photojournalism seringkali hanya mengunakan kamera film dan lensa 50mm.
Alex Majoli, anggota fotografi Magnum, menyatakan dalam sebuah wawancara:
Kamu tidak selalu membutuhkan kamera dengan fitur yang banyak. Pada akhirnya kamu tidak membutuhkannya (macam-macam fitur kamera)  untuk membuat foto yang bagus.
Sedangkan semakin naif seorang fotografer, semakin banyak dan mewah alat-alat yang dibawa dan digunakan. Semakin banyak alat yang kita miliki seringkali membebani kita dalam perjalanan dan membuat pusing kita dalam urusan menentukan alat yang dipakai.
Lebih parahnya, kamera dan lensa yang mahal bisa memberikan ilusi bahwa kita adalah fotografer yang jago dan bernilai jual tinggi. Makanya itu banyak sekali fotografer yang mampu membeli alat-alat yang mahal dan studio yang mewah, tapi kualitas fotonya biasa-biasa saja dan jasanya kurang laku atau tidak sebanding dengan apa yang diinvestasikan.
Peralatan yang mewah seringkali tidak membantu, tapi malah bisa menghalangi kemajuan. Semakin mewah, semakin lama kita makin tergantung secara psikologi kepadanya. Dan ketika foto kita masih kurang bagus, kita akan membeli alat baru yang lebih mahal lagi dengan harapan alat tersebut bisa membantu kita.
Fotografer memang membutuhkan alat yang cocok, tapi sebagian besar dari kita tidak membutuhkan alat yang mewah. Kemampuan dalam mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan (hasrat) akan membedakan antara fotografer yang sukses atau tidak.
Saran saya adalah sebelum mengganti lensa, kamera, flash atau peralatan lainnya, tanyakan kepada diri kita apakah kita sudah memanfaatkan secara optimal peralatan yang kita pakai?  Jika jawabannya adalah belum, lebih baik kita kembali belajar & berlatih mengunakan alat yang kita punya terlebih dahulu sebelum mencari peralatan yang lebih mahal.
Ujung-ujungnya, kesuksesan tergantung kualitas karya kita, bukan apa yang kita miliki.

Kapan memakai ISO tinggi?

Bila memungkinkan, kita sebaiknya mengunakan ISO rendah (100 atau 200) karena kualitas foto akan memburuk seiring kita meningkatkan ISO. Di kamera digital SLR keluaran satu dua tahun terakhir, batasan antara foto yang baik dan foto yang buruk (karena banyaknya noise) berkisar antara ISO 800 dan 1600. Banyak keadaan dimana kita mau tak mau mengunakan ISO yang relatif  tinggi karena foto bisa blur atau terlalu gelap.
Ada beberapa skenario dimana ISO tinggi dibutuhkan:
1. Ketika kita berada di lingkungan cahaya yang agak gelap seperti di malam hari atau di dalam ruangan, dan kita tidak mengunakan tripod. Perhatikan shutter speed, bila shutter speed sudah kurang dari sekitar 1/30 atau 1/60 detik (tergantung lensa, makin panjang lensanya, shutter speed yang cepat makin penting), itu tandanya kita perlu menaikkan ISO supaya shutter speed bisa dipercepat.
2. Ketika memakai telefoto yang panjang seperti 200mm, kita butuh shutter speed yang lumayan cepat juga, yaitu sekitar 1/jarak fokal X crop factor sensor kamera. Contoh bila memakai kamera Canon 550D, maka 1/200 X 1.6 = 1/320 bila tidak gambar akan berpotensi kabur. Bila lensa tersebut memiliki teknologi peredam getar (IS/VR/SS/SR) maka shutter speednya tidak butuh 1/320 tapi sekitar 1/80 detik saja sudah cukup. Bila kita tidak mendapatkan shutter speed tersebut, kita perlu menaikkan ISO sampai shutter speed minimal terpenuhi.
3. Mirip seperti no. 1. Ketika kita foto subjek yang bergerak cepat dan cahaya yang ada agak gelap. Dengan menaikkan ISO, kita bisa mendapat shutter speed yang lebih cepat untuk membekukan foto.
4. Ketika mengunakan lampu kilat/flash dan kekuatan flash terlalu lemah untuk menerangi subjek dan latar belakang. Kita bisa menaikkan ISO supaya intensitas cahaya flash dan cahaya lingkungan lebih terekam.
5. Ketika kita mengunakan setting bukaan kecil seperti f/8 atau f/16 dan shutter speed yang digunakan terlalu lambat, maka kita perlu menaikkan ISO supaya kita bisa mempercepat shutter speed supaya foto tidak kabur.
6. Saat kita ingin foto kita memiliki efek artistik dengan adanya noise atau berpasir seperti foto hitam putih jaman dahulu.
Kalau melihat skenario-skenario diatas, maka bisa disimpulkan bahwa ISO sangat berkaitan dengan kondisi cahaya lingkungan dan shutter speed. Peran ISO disini memungkinkan kita memilih shutter speed yang lebih cepat supaya foto kita tidak kabur atau terlalu gelap.

Tips untuk foto grup / Keluarga

Liburan sebentar lagi, sebagian besar dari kita pasti bersilahturahmi dengan keluarga besar. Mengapa tidak mengabadikan momen ini untuk foto keluarga?
Supaya foto keluarganya keren, ada beberapa tips untuk teknik fotonya
1. Posisi kamera jangan terlalu dekat dengan subjeknya
Karena bila terlalu dekat, maka terpaksa kita akan zoom out atau memakai lensa yang terlalu lebar karena bila terlalu lebar, maka bentuk muka orang yang berada di pinggir akan distorsi / berubah bentuk. Bila tempat memungkinkan, usahakan memakai fokal lensa minimal 30-50mm.
2. Atur orang-orang dalam kelompok supaya berdekatan
Tujuannya supaya komposisinya lebih bagus dan tidak ada celah-celah antar orang. Selain itu juga berguna untuk membantu pemerataan distribusi cahaya bila memakai lampu kilat. Tapi awas bila terlalu dekat, ada potensi ada orang-orang yang tertutup bayangan.
3. Komposisi segitiga
Komposisi foto grup merupakan salah satu faktor penting yang membuat foto terlihat lebih baik. Salah satu komposisi yang saya pikir solid, adalah segitiga. Caranya, kita mengatur orang yang berpostur paling tinggi di tengah kemudian yang paling pendek di bagian pinggir.
4. Menyeimbangkan cahaya lingkungan dengan flash
Bila di dalam ruangan yang agak gelap, dan kita terpaksa mengunakan lampu kilat, jangan lupa untuk menyeimbangkan cahaya flash dengan ruangan. Bila tidak diseimbangkan, latar belakang akan terlalu gelap dan suasananya akan hilang. Caranya tidak susah, yaitu dengan melambatkan shutter speed sehingga cahaya lingkungan bisa terekam. Saat memakai shutter speed yang relatif lambat, jangan lupa memegang kamera dengan steady atau mengunakan penyangga seperti tripod.
5. Pakai teknik pantul
Bila memakai flash eksternal yang bisa diputar kepalanya, kita kemungkinan bisa mengunakan teknik pantul. Bila langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, kita bisa memantulkan cahaya sehingga cahaya yang jatuh ke subjek foto lembut.
6. Memisahkan flash dengan kamera
Lebih baik lagi bila kita bisa memisahkan flash dengan kamera. Dengan memisahkan flash dengan kamera, kita bisa mengarahkan cahaya sehingga wajah tampak berdimensi. Bila kita merasa cahaya yang jatuh terlalu keras, kita bisa memanfaatkan payung fotografi.
8. Di luar ruangan, cari tempat teduh
Bila kita berada di luar ruangan, jangan lupa mencari tempat yang teduh bagi semua orang sehingga jatuhnya cahaya ke wajah setiap orang sama / tidak belang-belang. Juga pastikan cahaya matahari tidak langsung menyinari wajah karena bisa menyilaukan. Bila cahaya matahari di belakang, seringkali kita perlu bantuan tambahan cahaya dari lampu kilat supaya subjek foto tidak menjadi gelap.
9. Di meja makan atau restoran
Bila kita foto grup di restoran. Hindari mengambil foto dari ujung meja, karena wajah orang yang dekat akan terlihat besar sekali dan yang jauh akan kecil sekali. Bila kita memakai flash, hal ini menjadi lebih bermasalah karena wajah orang yang dekat akan sangat terang dan yang jauh akan gelap. Dalam kasus seperti ini, lebih baik memanfaatkan bagian meja yang panjang sehingga jarak antara kamera dan setiap orang kurang lebih sama.
Angkatan 23 Kursus Basic fotografi: Flash di pisahkan dari kamera 
dan diletakkan disebelah kiri kamera. Flash didudukan di lighstand yang 
ditinggikan kurang lebih 1.8m. Saya juga mengunakan payung transparan 
dan saya arahkan ke ibu yang berjilbab biru.
Angkatan 23 Kursus Basic fotografi: Flash di pisahkan dari kamera dan diletakkan disebelah kiri kamera. Flash didudukan di lighstand yang ditinggikan kurang lebih 1.8m. Saya juga mengunakan payung transparan dan saya arahkan ke ibu yang berjilbab biru.
Selamat berliburan!