Setelah pengumuman Nikon D800 dan D800E, Nikon mengedarkan dokumen e-book Nikon D800 technical guide. Isi dari panduan ini adalah berisi aturan disiplin pembuatan foto, supaya pemakainnya bisa mendapatkan hasil foto yang baik.
Mengapa panduan ini diedarkan dengan D800/D800E?
Hal ini disebabkan oleh resolusi kamera yang sangat besar, yaitu 36MP. Sekitar 2-3 tahun yang lalu, kamera DSLR masih banyak yang beresolusi sekitar 12MP saja. Dengan resolusi kamera yang besar, secara teori kita bisa mendapatkan hasil foto yang sangat detail, dan jika dicetak dalam ukuran besar tidak pecah. Tapi resolusi yang sangat besar juga menimbulkan masalah baru yaitu jika pemakai kamera ini tidak disiplin, maka kualitas fotonya bukannya baik malah memburuk dibandingkan jika memakai kamera dengan resolusi lebih kecil seperti Nikon D40.
Beberapa tips dari panduan tersebut:
- Untuk benda tidak bergerak, gunakan tripod, live view supaya foto tidak blur karena getaran tangan.
- Jangan mengunakan bukaan/aperture yang terlalu kecil seperti f/20, karena akan mengurangi ketajaman (karena difraksi lensa)
- Saat foto portrait, fokus jangan sampai meleset
- Gunakan nilai aperture yang tidak terlalu besar seperti f/4 dan shutter speed yang cepat supaya foto tajam dan detail wajah jelas.
- Jika lensa memiliki fungsi stabilizer, jangan lupa digunakan saat mengunakan kamera dengan tangan.
- Mengunakan lensa yang berkualitas tinggi untuk mendapatkan hasil yang tajam
Untuk mendownload, silahkan klik link Panduan Nikon D800/D800E ini dalam bahasa Inggris.

Lensa fix hanya bisa bikin blur background?
Saya pernah beberapa kali menerima pertanyaan apakah mengunakan lensa fix sepperti 35mm, 50mm dan 85mm berbukaan besar (f/1.4 atau f/1.8) hasil fotonya akan selalu menyebabkan latar belakangnya blur?
Jawabannya adalah tidak benar, karena bukaan lensa tersebut bisa kita kecilkan ke f/8 atau lebih kecil lagi. Akibatnya ruang tajam akan luas sehingga foto akan tajam dari ujung ke ujung.
Kebanyakan pemula yang saya amati mengunakan bukaan yang besar-besar seperti f/1.8 di setiap jepretan. Masalahnya, tidak semua foto optimal dengan setting bukaan f/1.8.
Nikon 35mm f/1.8 DX
F/1.4 – F/2 saya pakai untuk membuat latar belakang sangat blur dan hanya bagian yang saya fokus saja yang tajam, misalnya mata.
Bagian telinga, hidung, rambut biasanya sudah blur. Saya akan sangat berhati-hati mengunakan bukaan sebesar ini karena meleset sedikit fokusnya, maka foto menjadi tidak tajam.
F/2.8 sering saya gunakan untuk portrait karena ruang tajamnya lebih luas, sehingga seluruh wajah orang terlihat tajam.
F/4 saya gunakan untuk memastikan foto dua orang dalam satu frame tajam/fokus.
F/8 atau lebih kecil saya gunakan untuk foto kelompok (lebih dari 4 orang) atau foto pemandangan.
Jadi, jangan hanya mengunakan lensa fix di bukaan yang terbesarnya saja, tapi cobalah bukaan-bukaan yang lain sesuai kondisi dan keinginan Anda.
www.infofotografi.com
Menghadapi pemandangan yang kontras
Rentang dinamis sensor kamera digital terbatas dan tidak seperti mata manusia, maka dari itu jika kita memprioritaskan bagian yang gelap, bagian yang terang menjadi terlalu terang, dan sebaliknya jika kita memprioritaskan bagian yang terang, bagian yang gelap menjadi terlalu gelap.
Pertama-tama, pilihan format foto yang saya pakai berbentuk RAW supaya saya bisa menyelamatkan di daerah terang dan gelap tanpa mengurangi kualitas foto secara berlebihan. Tentunya setelah memotret, dibutuhkan langkah tambahan yaitu kita harus mengedit foto lagi.
Biasanya saya memprioritaskan pada bagian yang terang karena lebih sulit menyelamatkan detail di daerah yang terlalu terang daripada membuat daerah yang gelap menjadi terang.
Contohnya, di mode program (P), saya akan mengunakan metering mode spot/partial lalu saya akan arahkan ke bagian yang terang dan kemudian mengingat setting bukaan dan shutter speed yang dipilih kamera. Lalu saya akan mengunakan mode manual dan menetapkan setting yang saya catat dalam pikiran saya, merekomposisi foto dan kemudian memotret.
Jika kita memilih untuk mengunakan format JPG, kita bisa mengatur keseimbangan kontras antara highlight dan shadow dengan mengaktifkan fitur Active D-Lighting (Nikon) atau Auto Lighting Optimizer (Canon). Dengan fitur ini, kita bisa mengurangi kontras antara bagian yang terang dan gelap. Akibatnya, detail di bagian terang dan gelap, serta pencahayaan yang lebih seimbang bisa didapatkan. Jangan aktifkan fitur ini jika kita justru ingin foto yang memiliki kontras yang tinggi (saat kita ingin bagian yang gelap, gelap total).
Ada fitur yang dinamakan highlight tone priority. Fitur ini terdapat di kamera DSLR Canon. Fitur ini diaktifkan di menu custom function. Fungsinya adalah untuk menyelamatkan detail bagian yang terang (highlight). Fitur ini cocok untuk subjek foto yang berwarna putih seperti baju pengantin. Dengan aktifnya fitur ini, detail-detail dari gaun pengantin akan terjaga. Namun ada kelemahan fitur ini, yaitu saat fitur ini aktif, ISO 100 dan 12800 tidak bisa digunakan. Selain itu, bagian yang gelap (shadow) akan lebih gelap. Karena kelemahan itu, gunakan fitur ini jika benar-benar dibutuhkan.
www.infofotografi.com
ASPEK RATIO, sangat pentingkah ?
Aspek rasio adalah rasio panjang dan lebar sebuah foto. Jika panjang dan lebar foto sama, maka aspek rasionya 1:1. Di kamera digital saku, aspek rasionya biasanya adalah 4:3, demikian juga kamera micro four thirdsnya Olympus atau Panasonic. Di kamera DSLR Canon, Nikon, Sony, Pentax, aspek rasionya 3:2. Pilihan aspek rasio sangat mempengaruhi komposisi foto, tapi ironinya banyak orang yang menyepelekannya.
Biasanya, kita akan mengkomposisikan foto sesuai dengan apa yang sudah di set kamera kita, sehingga komposisi foto jadi kurang pas. Di beberapa kamera, kita bisa mengganti aspek rasio, di sebagian lain tidak bisa, tapi kita bisa mengkrop foto di software pengolah foto seperti Photoshop.
3:2 adalah aspek rasio yang biasa kita dapati di kamera DSLR digital. Aspek rasio ini umumnya baik untuk foto horizontal seperti pemandangan.
4:3 adalah aspek rasio yang di cap paling alami dan paling enak di lihat baik secara horizontal dan vertikal. Tidak seperti 3:2, saat foto vertikal, aspek rasio ini tidak terlalu tinggi, sehingga tidak melelahkan mata. 4:3 cocok dipakai untuk foto berorientasi portrait.
1:1 adalah aspek rasio bujursangkar. Di masa lalu, aspek rasio ini ditemukan di kamera large format. Aspek rasio ini cocok untuk foto pola dan detail. 1:1 disebut juga aspek rasio yang netral karena tidak berorientasi horizontal atau vertikal.
16:9 adalah aspek rasio yang sering kita jumpai di film. Aspek rasio ini terkesan lebar dan agak pendek. Biasanya cocok untuk foto pemandangan atau membuat foto berkesan sinematik (seperti film).
5:1 adalah aspek rasio yang disebut juga panorama karena cakupannya yang sangat lebar. Biasanya cocok untuk foto pemandangan.
Dengan menyadari aspek rasio mempengaruhi komposisi, kita bisa memilih aspek rasio yang tepat sehingga foto kita lebih enak dilihat.
www.infofotografi.comBiasanya, kita akan mengkomposisikan foto sesuai dengan apa yang sudah di set kamera kita, sehingga komposisi foto jadi kurang pas. Di beberapa kamera, kita bisa mengganti aspek rasio, di sebagian lain tidak bisa, tapi kita bisa mengkrop foto di software pengolah foto seperti Photoshop.
3:2 adalah aspek rasio yang biasa kita dapati di kamera DSLR digital. Aspek rasio ini umumnya baik untuk foto horizontal seperti pemandangan.
4:3 adalah aspek rasio yang di cap paling alami dan paling enak di lihat baik secara horizontal dan vertikal. Tidak seperti 3:2, saat foto vertikal, aspek rasio ini tidak terlalu tinggi, sehingga tidak melelahkan mata. 4:3 cocok dipakai untuk foto berorientasi portrait.
1:1 adalah aspek rasio bujursangkar. Di masa lalu, aspek rasio ini ditemukan di kamera large format. Aspek rasio ini cocok untuk foto pola dan detail. 1:1 disebut juga aspek rasio yang netral karena tidak berorientasi horizontal atau vertikal.
16:9 adalah aspek rasio yang sering kita jumpai di film. Aspek rasio ini terkesan lebar dan agak pendek. Biasanya cocok untuk foto pemandangan atau membuat foto berkesan sinematik (seperti film).
5:1 adalah aspek rasio yang disebut juga panorama karena cakupannya yang sangat lebar. Biasanya cocok untuk foto pemandangan.
Dengan menyadari aspek rasio mempengaruhi komposisi, kita bisa memilih aspek rasio yang tepat sehingga foto kita lebih enak dilihat.
Aspek rasio 1:1
Aspek rasio 4:3
Aspek rasio 16:9
Foto yang bagus ?
Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) dan kemudian merangkainya dengan komposisi (aturan sepertiga, garis, perspektif, fokus, bingkai, dll).
Tulisan yang dianggap baik adalah tulisan yang tidak bertele-tele, melainkan jelas dan dapat dimengerti oleh pembacanya. Tulisan yang bagus memiliki ide & makna yang menarik. Tulisan yang baik memiliki organisasi tata bahasa yang rapi sehingga mudah dibaca dan dipahami.
Sama dengan tulisan yang bagus, fotografi yang baik perlu suatu subjek dan ide yang jelas serta tidak ada elemen yang mengganggu. Fotografi yang baik memiliki organisasi komposisi elemen-elemen visual dengan baik.
Intinya foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan niat kita masing-masing. Contohnya, jika kita ingin membuat suasana yang misterius dan angker, foto dengan nuansa yang gelap lebih cocok daripada nuansa yang terang. Jika ingin foto kita membuat perubahan, misalnya kita ingin orang peduli dengan lingkungan hidup, maka foto kita harus bisa memotivasi orang-orang untuk go green dan seterusnya.
Singkatnya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya foto kita bagus:
1. Apakah foto memiliki ide/cerita/makna?
2. Apakah terang gelap / exposure foto sesuai?
2. Apakah komposisi foto sesuai?
3. Apakah pilihan pencahayaan tepat?
4. Apakah timing saat menjepret tepat?
Intinya, foto yang bagus itu subjektif karena niat setiap fotografer berbeda, demikian juga penikmat foto/audiensnya. Foto yang menurut sebagian orang bagus belum tentu menarik bagi kelompok yang lain. Maka itu, jangan terlalu kuatir dan terus berlatih.
Foto ini menggambarkan keceriaan anak remaja di kampung terapung di danau Tonle Sap. Secara komposisi, saya menempatkan subjek utama ditengah. Saya juga menyertakan sedikit latar belakang/lingkungan untuk memberikan kesan tempat. Kepala perahu disebelah kanan atas dan tiang-tiang rumah panggung mengarah ke anak tersebut. Hujan deras memberikan kesan tersendiri dan konversi hitam putih membuat fokus mata kita tertuju kepada ekspresi anak tersebut. Silahkan klik foto diatas untuk melihat ukuran yang lebih besar.
www.infofotografi.com
Komposisi Foto
Saya melihat teman-teman yang lain pada sudah foto-foto. Tentunya objeknya kereta api. Oke deh, ikut foto juga. Saya foto kereta api itu secara keseluruhan, tampak depan dan tampak samping. Hasilnya mirip dengan foto dokumentasi saja. Tidak ada nilai seninya sama sekali, feeling belum muncul (hihihi… mungkin memang ga pinter foto kali ye…).
Saya pun mulai eksplorasi lagi, kalau foto kereta api saya tidak menarik, mungkin saya bisa mencoba foto yang lebih luas (kereta api + keadaan sekeliling). Saya pun mencoba mengambil foto kereta api dengan memposisikan kereta api di tengah dan juga ikut mengambil bangunan dan tiang yang disamping. Pemikiran saya sih mau mengambil gambar seperti sedang berada di stasiun kereta api. Namun, foto saya sepertinya belum mencerminkan apa yang ingin saya capai. Masih kaku abis (gagal x_x).

Setelah itu, saya melihat ada rel yang melengkung. Jika bisa mengambil foto jalur rel makin lama makin kecil dan berliku-liku, pastilah bisa menggambarkan perjalanan kehidupan yang penuh liku-liku. Kesan yang ingin saya tampilkan sih seperti itu kira-kira. Tapi lihatlah hasil fotoku. Masih jauh banget dari apa yang kuinginkan. Tidak ada yang spesial (gagal lagi).

Ketika berpindah ke tempat yang lain. Saya ingin shoot sebuah gerbong dengan memasukkan kesan klasik (didukung oleh berkaratnya gerbong tersebut). Akan tetapi, bagaimanapun saya memposisikan diriku saat mengambil foto, lampu yang terletak di atas gerbong selalu ikut terekam dalam gambar. Soalnya saya ambil gambar dari bawah. Kalo bisa ambil dari atas, mungkin bakal lebih bagus. Tapi ga mungkin tinggiku bisa melebihi tinggi kereta api. Wkwkwkwk. Gagal lagi de.

Apa lagi si yang mesti difoto?
Tiba-tiba terdengar percakapan Enche dengan seseorang. Dia memperlihatkan gambarnya kemudian menjelaskan foto detail juga bagus. Nah loh, foto detail itu kayak gimana si? Berkat kepintaran nguping dan ngintip, saya mendapat ilmu dari Enche, saya jadi tahu, ga mesti foto kereta api secara keseluruhan. Foto bagian-bagian kecil dari kereta api itu(detail) misalnya roda, pintu, jendela, dll juga menarik untuk difoto. Nah… dimulailah petualanganku…
Detail pertama yang saya ambil adalah foto roda kereta api. Akan tetapi, kalau roda itu cuma difoto dari depan, ga ada menariknya sama sekali. Saya geser posisi saya agak ke samping dan saya mendapatkan gambar perspektif dari roda roda kereta api (dari bulatan yang besar kemudian mengecil). Masalahnya adalah gimana memposisikan roda itu dalam frame. Awalnya, saya mencoba memasukkan semua roda tersebut. Hasilnya kepanjangan. Kemudian saya memilih memasukkan 3 roda. Ternyata kependekan.
Akhirnya, 4 roda yang saya rasa paling pas. Tentu saja, coba-coba saya tidak berhenti sampai tahap itu. Saya pun mengkomposisikan 4 roda itu sedemikian rupa, misalnya foto roda pertama yang terpotong sedikit, terpotong separuh, atau hampir terpotong secara keseluruhan, ataupun coba coba foto roda terakhir yang terpotong separuh, dstnya. Meskipun ternyata dari puluhan foto yang terambil, foto pertama saya yang paling saya senangi, tapi saya juga menikmati proses pencarian tersebut.

Detil kedua yang saya tangkap dari antena saya adalah foto dibawah ini (ga tau apa namanya). Tak ada alasan mengapa mau ambil foto itu, insting aja kayaknya bisa menarik. Dengan memposisikannya menjadi rule of third, saya pun foto.

Ketika mau beranjak ke tempat yang lain ternyata ada pesawat jet yang lewat. Saat jet tersebut lewat, ingin sekali mengabadikan moment tersebut. Namun kurang cepat, kayaknya si kurang pengalaman dan kurang sigap menghadapi moment yang super cepat seperti itu. Untung saja, ada kesempatan kedua, karena tidak lama kemudian jet yang kedua pun meluncur. Karena sudah ready dari ketinggalan yang pertama tadi, yang kali ini saya tinggal jepret saja. Hoki ^^V

Kemudian, saya melihat ada papan rambu-rambu, maunya si sekedar dokumentasi saja, mungkin suatu saat bisa berguna. Seharusnya si foto harus diambil dari depan, namun untuk menghindari kekakuan, saya coba ambil dari samping saja. Hehe.. Hasilnya malah makin jelek. Saya tidak sempat mengambil lagi dari depan, karena saya uda ditinggal rombongan.

Setelah itu, kami berteduh di dekat pepohonan. Eits, ternyata ada yang menarik. Cabang pohon bisa dibuat frame (menyerap pelajaran dari Kursus pemula). Dari celah cabang pohon tersebut, saya coba mengambilnya dengan fokus di sebuah lampu sebagai objek penarik perhatian. Mungkin kalau foto itu diambil di malam hari dan lampu itu menyala, bakalan bagus ne (hehe… berandai-andai, dengan kemampuanku sekarang ini, belum tentu saya bisa menangkap foto yang terlalu kontras terang gelapnya, apalagi dengan mode Av). Ataupun foto yang sama tapi ada pasangan kekasih sebagai pengganti lampu (imajinasi tingkat tinggi XD – mungkin suatu saat nanti bisa diterapkan untuk foto prewed). Makin seru hunting kali ini, pikirku.

Setelah foto bersama, kami pun pindah ke lokasi lain. Di tempat ini, dengan berbagai imajinasi, saya mengambil beberapa foto.
Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu.
Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu.
Foto hoki yang kedua di hari itu. Sebenarnya cuma mau ngambil gambar 2 pintu yang berbeda warna. Pas jepret, ada tangan anak yang muncul karena sedang bermain di sana. Hoki dech. Dapat foto "Haunted Train".
Dari semua foto yang saya ambil hari itu, saya paling suka dengan foto gembok ini. Mungkin daya imajinasi dan kadar romantisme yang terlalu tinggi di hari itu, saat melihat gembok, langsung terpikir suatu scene. Cerita penantian si gembok yang setia menunggu kedatangan si kunci sampai berkarat. Oleh sebab itu, saya memposisikan gembok itu agak ke samping, supaya saya masih bisa memasukkan kutipan.


Saking bangganya dengan foto itu, saya post di fb dan jadiin profile pic. Trus saya menelepon mama saya supaya dia bisa mengecek hasil foto saya. Semoga dapat pujian, pikirku dalam hati. Ternyata perkiraanku meleset. Mama bilang, “Aduh apa-apaan sih, gembok berkarat kok difoto?” Gubrak… wkwkwkwk… mau nangis apa ketawa y?
Ternyata kalau mau buka mata buka telinga (sekalian buka hati), apapun yang dilihat bisa kita potret dan bisa kita komposisikan menjadi suatu foto yang menarik dan bercerita (ditambah dengan daya imajinasi). Tentu saja, tidak semua foto yang kita ambil dapat menyenangkan semua orang. Namun, tidak penting berapa banyak orang yang akan menyukai foto kita atau berapa orang yang akan mengkritik foto kita, yang penting kita terus berkarya. Saya yakin dengan latihan yang terus menerus, foto yang diambil akan makin bagus. Begitu juga dengan komposisi, lama kelamaan, tanpa disadari, kita akan punya feeling sendiri dan tangan kita akan bergerak dengan sendirinya untuk memposisikan kamera dan membidik.






