The Fifth Wonder World

Perjalanan wisata ke candi borobudur yang merupakan keajaiban dunia yang ke 5

Borobudur Temple

Nice viewer for enjoying time

Indrayanto Beach

One of a lot beautiful beach in jogja

Jogja APKOM

At jogja Computer exhibition day

Deep Struggle

One of Indonesian Struggle

Senin, 07 Mei 2012

KECERDASAN BUATAN

Tugas Kecerdasan Buatan klik disini
excel disini

Senin, 02 April 2012

Tugas TIK kelas XI

Silahkan klik disini

Kamis, 15 Maret 2012

Keunggulan dan kelemahan sistem kamera DSLR : Canon, Nikon, Sony, Pentax dan Olympus

Banyak yang menanyakan apa keunggulan dan kelemahan suatu sistem kamera DSLR. Pada umumnya, semua kamera DSLR hampir sama: memiliki sensor berukuran besar lebih besar dari kamera saku/ponsel, memiliki fungsi manual dan otomatis. Yang membedakan biasanya adalah desain, fitur dan koleksi lensa dan aksesorisnya.
Sulit mengatakan sistem mana yang terbaik karena masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Selain itu juga tiap model berbeda-beda dan punya keunggulan-kelemahan sendiri pula.
Menurut pengamatan saya selama dua tiga terakhir ini, saya akan ulas secara singkat beberapa keunikan sistem kamera DSLR yang populer.
canon-1000d
Canon 1000D, salah satu kamera pemula termurah saat ini
Canon: Salah satu sistem kamera DSLR kamera yang paling populer di dunia. Canon memiliki koleksi lensa yang lengkap dari yang berkualitas rendah sampai tinggi. Kamera-kameranya juga lengkap dari untuk pemula sampai yang sangat canggih untuk profesional kelas atas.
Saya menyukai kamera-kamera pemula merek Canon dibandingkan dengan merek lainnya karena kamera pemula Canon seperti 1000D, 500D dan 550D saya pikir mudah digunakan, antar muka dan menunya juga sangat rapi dan terorganisasi dengan baik. Kekurangan kamera pemula Canon yaitu bahannya agak murahan dan tidak begitu enak gengamannya.
Satu-dua tahun terakhir ini, Canon lebih fokus dalam pengembangan kamera DSLR yang bisa merekam video clip. Sampai saat ini, hampir semua kamera DSLR Canon melampaui pesaingnya dalam urusan merekam video.

Nikon D3S, kamera canggih idaman fotografer, terutama yang untuk 
event atau photojournalistik
Nikon D3S, kamera canggih idaman fotografer, terutama yang untuk event atau photojournalistik
Nikon: Sama seperti Canon, sistem Nikon bisa dibilang cukup komplit. Banyak lensa Nikon yang berkualitas tinggi dan lebih mahal dari Canon. Saya menyukai kamera Nikon terutama yang canggih (D300s, D700, D3) karena auto fokusnya bekerja sangat baik, mungkin yang terbaik dibandingkan merek lain. Pengendalian noise di ISO tinggi juga sekelas diatas merek lain, sehingga cocok digunakan untuk foto di kondisi ruangan yang gelap.
Tidak seperti Canon, saya tidak begitu menyukai kamera pemula Nikon (D40, D60, D3000, D3100) karena antar mukanya saya pikir kurang baik. Contohnya menu yang susunannya kurang rapi dan juga tombol-tombol yang tersedia kurang untuk mengakses settingan yang sering dipakai. Selain itu, kamera pemula Nikon tidak memiliki motor auto fokus sehingga untuk beberapa lensa lama, tidak bisa mengunakan auto fokus (hanya manual).
Sony: Sony adalah pendatang yang relatif baru, tapi teknologinya mengunakan teknologi Konica Minolta yang di akuisisi Sony beberapa tahun yang lalu. Sony cukup agresif dan banyak mengeluarkan model-model baru setiap tahunnya, tapi model-model kamera tersebut mirip-mirip. Sony juga memiliki deretan model kamera dari yang untuk pemula sampai untuk yang profesional, meski yang untuk profesional tidak secanggih dan sebanyak Canon & Nikon.
sony-nex-5
Sony NEX-5, kamera mirip SLR yang dikembangkan Sony satu tahun terakhir ini
Ada beberapa keunikan di kamera-kamera Sony dibanding Canon dan Nikon. Misalnya kamera-kameranya ada fitur built-in steady shot yang membantu mencegah foto blur karena getaran tangan kita (kalau Canon & Nikon fitur ini terletak di lensa). Lalu banyak kamera Sony juga memiliki dua sensor auto fokus sehingga auto fokus saat mode live view (seperti kamera saku) jauh lebih cepat daripada kamera merek lain. Selain itu, banyak model kamera Sony yang memiliki layar LCD yang bisa di putar sehingga memudahkan komposisi foto diatas kepala atau dibawah kaki.
Dalam perkembangannya, kamera pemula Sony tidak begitu berubah dalam fiturnya, paling hanya desain yang sedikit berubah. Untuk pilihan kamera canggihnya, Sony tidak menawarkan banyak, A700 dan A900 sudah cukup lama belum di perbaharui.
Di pihak lain, Sony gencar dalam memproduksi kamera-kamera mirip DSLR seperti Sony A55, A33, dan Sony NEX-5, NEX-3.
Pentax: Pentax bisa dibilang pemain kecil di kancah kamera DSLR, tapi desain kamera Pentax sebenarnya cukup baik. Fokus Pentax dalam beberapa tahun terakhir adalah tampil beda (Be Different). Kamera DSLR Pentax seperti km, kx kecil tapi kokoh dengan fitur yang cukup bersaing. Keunikan kamera ini adalah memakai batere AAA universal, sehingga kalau kehabisan batere, bisa langsung membeli di toko terdekat. Pentax k-x juga tersedia dalam berbagai warna seperti putih dan merah.
Warna warni Pentax k-x hanya tersedia di Jepang
Warna warni Pentax k-x. Sebagian besar hanya tersedia di Jepang
Lalu Pentax juga memiliki K7 dan K5, yaitu kamera SLR canggih yang berukuran tidak begitu besar, tapi tahan di cuaca yang buruk, termasuk di kondisi sangat dingin. Secara sistem, koleksi lensa Pentax tidak sebanyak the big three (Canon, Nikon, Sony) tapi Pentax memiliki lensa – lensa prime/fixed yang sangat kecil dan berkualitas tinggi seperti Pentax 70mm f/2.4, 31mm f/1.4 dan sebagainya. Seperti Sony, semua model kamera Pentax juga terdapat built-in peredam getar.
Olympus: Keunikan sistem DSLR Olympus terletak pada ukuran kamera dan lensa yang relatif lebih kecil dan kurus. Hal ini karena Olympus memakai sensor 4:3 (four thirds), yang lebih kecil dari DSLR yang ada diatas. Akibatnya kualitas foto maksimal dari sensor 4:3 ini agak kurang terutama di ISO tinggi. Namun demikian, kualitas foto Olympus jauh lebih baik dari kamera saku. Meski kecil, kamera Olympus kecuali model E-420, juga terdapat fitur built-in peredam getar.
Olympus E-620 termasuk salah satu kamera DSLR termungil
Olympus E-620 termasuk salah satu kamera DSLR termungil
Tahun lalu adalah tahun yang kurang menggembirakan dalam perkembangan sistem DSLR Olympus. Di tahun itu, Olympus mengumumkan akan mengkonsentrasikan diri ke pengembangan micro four thirds (kamera mirip DSLR yang berukuran lebih kecil) dan menghentikan pembaharuan lensa untuk DSLR.
Demikianlah sekilas pandang sistem kamera yang ada di pasaran saat ini, semoga bisa jelas dan membantu.

Street Photography


Bapak Street Photographer
Henri Cartier Bresson - Bapak Street Photographer
Street Photography atau fotografi jalanan adalah aliran fotografi yang menarik.  Sedikit berbeda dengan fotojurnalistik yang fokusnya mengabadikan momen puncak/klimaks . Street photography bertujuan untuk merekam kegiatan sehari-hari .  Foto biasanya diambil dari jarak dekat dan fotografer berada disekitar objek daripada dari jarak jauh.
Fotografer harus dapat mengambil gambar dengan diam-diam tapi bukan sembunyi dan melakukannya dengan cepat dan lugas.
Peralatan fotograferjuga harus menunjang. Kamera klasik yang sering digunakan adalah kamera film buatan Leica. Saat ini, kamera SLR digital pun sudah sering dipakai. Lensa yang dipakai biasanya lensa pendek atau wide angle. 28mm, 35mm and 50mm biasanya adalah favorit fotografer jenis ini.
Memilih kamera digital SLR untuk fotografi jalanan cukup menantang, pertama kita memerlukan kamera berukuran kecil, tapi enak digenggam dan cukup responsif dalam auto fokus maupun saat mengambil gambar. Kamera saku kurang ideal dalam fotografi jenis ini karena kamera ini memiliki jeda dalam pengambilan gambar/ shutter lag.  Kamera berukuran kecil penting karena kita tidak ingin orang-orang di jalan memperhatikan kamera kita.
Gaya street photografi dan fotojurnalisme sering dipadukan dalam meliput acara seperti pernikahan. Contoh legenda street photographer adalah Henri Cartier-Bresson.
Merekam momen kehidupan - Cartier Bresson
Merekam momen kehidupan - Cartier Bresson

Sifat yang diperlukan untuk menjadi fotografer yang sukses

Saat saya membaca kisah fotografer sukses, saya sering bertanya kepada diri sendiri, apakah ada sifat-sifat tertentu yang dimiliki seseorang yang bisa membuat mereka menjadi sukses? Setelah berpikir beberapa minggu terakhir ini, saya merasa ada tiga sifat utama yang menentukan kesuksesan seorang fotografer.
Sebelum lanjut, saya perlu menyampaikan definisi sukses versi saya. Kesuksesan seorang fotografer bukan karena fotografernya terkenal, atau kaya, tapi bagaimana karya-karyanya mampu membuat orang banyak terinspirasi dan bahkan bisa mengubah dunia.
Sifat pertama adalah keberanian
Keberanian penting sekali dan membedakan antara foto yang biasa-biasa saja dengan foto yang luar biasa. Keberanian bukan cuma berarti keberanian mengambil foto di daerah konflik / perang, demonstrasi dan tempat-tempat yang membahayakan jiwa. Tapi juga keberanian terhadap banyak hal yang lain.
Misalnya, keberanian untuk foto dari jarak dekat. Robert Capa, seorang fotojurnalis perang mengatakan bila foto Anda kurang bagus, berarti Anda kurang dekat. Misalnya banyak fotografer pemula malu-malu (terutama foto manusia) dan hanya mengambil foto dengan telephoto zoom dari jarak jauh.
Lalu, fotografer yang sukses juga harus berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh fotografer lainnya, seperti mengambil sudut pandang dari berbeda, mencoba komposisi dan eksposur yang baru, dan sebagainya. Karena takut akan hasil yang buruk, maka banyak fotografer meniru teknik foto fotografer lainnya, sehingga pemirsa menjadi bosan karena telah melihat foto semacam itu berulang kali.
Bila tertarik dengan subjek manusia, maka kita juga harus berani untuk meminta ijin orang untuk difoto. Sebagian besar fotografer pemula malu-malu untuk mendekati orang yang menarik untuk difoto karena takut ditolak. Karena itu banyak kesempatan foto bagus yang terlewatkan.
Terakhir, berani untuk melawan kepercayaan konvensional tentang profesi fotografer tidak bisa kaya dan dianggap kelas bawah dibanding dengan profesi lainnya seperti dokter, pengacara, bankir dan lain lain. Untuk menjadi fotografer yang sukses, memang awalnya dibutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. 
Sifat yang kedua adalah rasa keingintahuan (curiosity)
Memiliki keberanian dalam menekuni bidang fotografi ini tidak cukup, tapi seorang fotografer sukses harus selalu dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Misalnya selalu ingin tahu bagaimana bisa membuat hasil karya menjadi lebih baik lagi dengan membaca artikel baik di media cetak atau elektronik. Ingin mengetahui sepak terjang fotografer lainnya. Ingin mengetahui dan belajar dengan fitur-fitur baru kamera digital modern sehingga bisa memanfaatkan teknologi untuk mencetak hasil karya yang lebih baik lagi. Intinya sebagai fotografer yang sukses, kita tidak boleh ignorant (mengabaikan) perkembangan teknologi dan zaman.
Sifat yang ketiga adalah disiplin dan kegigihan
Meskipun seorang fotografer memiliki keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi, tapi bila tidak memiliki disiplin dan kegigihan, maka semua menjadi sia-sia. Fotografer yang berdisiplin akan memacu dirinya untuk belajar, praktek foto secara rutin, sehingga bisa mencapai kemajuan yang berarti.
Bagaimanapun hebatnya seorang fotografer dalam berteori, tanpa praktek, maka fotografer tersebut tidak akan sukses menelurkan karya-karya yang luar biasa. Dengan praktek, maka fotografer akan menemukan banyak wawasan baru yang tidak dapat dipelajari dari membaca buku atau belajar dari fotografer lain. Misalnya dengan memakai kamera dan lensa tertentu dalam waktu lama, maka seorang fotografer mengetahui benar bagaimana karakteristik kamera tersebut dan bisa mengoperasikannya dengan efektif dan efisien.
Kegigihan seorang fotografer juga penting, terutama sifat pantang menyerah. Membuat karya foto yang baik terkadang memerlukan waktu yang banyak, kadang juga ada faktor luck (untung). Fotografer perlu di tempat yang tepat untuk mengeksekusi foto yang luar biasa. Maka dari itu, jangan cepat menyerah apabila setelah berusaha sekian lama, ternyata karya foto masih kurang diapresiasi oleh teman atau khalayak ramai.
Disiplin dan kegigihan merupakan sifat pelengkap yang bila digabungkan dengan sifat-sifat diatas dapat membuat fotografer menjadi sukses.
Tanpa salah satu sifat diatas, saya sulit membayangkan bagaimana seorang fotografer bisa sukses.

Tips foto Potret untuk pemula

Foto potret adalah salah satu jenis fotografi yang paling diminati oleh fotografer setelah foto pemandangan. Dalam kehidupan sehari-hari, foto potret mungkin lebih populer daripada foto jenis apapun. Kalau kita melihat jejaring sosial seperti facebook dan myspace, kita akan melihat jutaan foto potret beredar dan terus bertambah dengan kecepatan eksponensial.
Maka itu, mengetahui foto potret yang baik  menurut saya sangat penting, terutama untuk mengabadikan momen-momen penting.
Inilah beberapa foto potret dengan berbagai tips and trik
1.

Masalah dengan foto diatas adalah kekuatan cahaya dari belakang yang jauh melebihi cahaya dari depan model. Maka dari wajah orang tersebut terlihat gelap, sedangkan latar belakang sangat terang.
2.

Solusi praktisnya adalah mengunakan lampu kilat / flash untuk menerangi bagian wajah. Kalau Anda memakai kamera saku, cari dan aktifkan fill in flash atau force flash. Kalau di kamera DSLR, biasanya Anda tinggal membuka lampu kilat tersebut.
3.

Selain mengunakan lampu kilat, mengubah rentang focal lensa (zoom length) juga sangat berpengaruh dalam foto potret. Di foto diatas, saya mengunakan Nikon D3000 dengan lensa 18-55mm, di posisi 35mm atau ekuivalen di 52mm di kamera film. Rentang lensa mendekati 50mm ini memiliki perspektif yang hampir sama seperti yang kita liat dengan mata kita.
4.

Foto diatas mengunakan rentang lensa 24mm (ekuivalen dengan 35mm). rentang lensa yang lebih lebar ini menimbulkan efek distorsi pada wajah.
5.

Foto diatas diambil dengan rentang lensa 24mm (ekuivalen dengan 35mm). Kita bisa melihat sedikit distorsi pada wajah, selain itu, ada masalah dengan cahaya terutama bagian kiri wajah. Bayangan sangat kasar. Solusi dari masalah diatas adalah dengan mencari posisi lain atau mengunakan reflektor untuk menerangi bayangan di sisi kiri wajah.
6.

Foto diatas masih memiliki masalah dengan bayangan yang kasar, hanya kini saya mengunakan rentang fokal 55mm (ekuivalen 82mm) dengan zoom sampai mentok lensa 18-55mm yang saya gunakan. Wajah model terlihat lebih menarik dengan rentang lensa ini karena efek kompresi wajah sehingga wajah tidak terdistorsi.
Selain itu, latar belakang juga menjadi lebih kabur dan objek di latar belakang terlihat lebih dekat dari yang sebenarnya.
7.

Di foto diatas diambil dengan lensa 85mm f/1.4. Dengan mengunakan bukaan maksimal di 1.4, saya bisa membuat latar belakang menjadi sangat kabur. Rentang lensa 85mm (ekuivalen dengan 135mm) menurut saya ideal untuk foto potret, terutama dengan tujuan keindahan (beauty shot).
8.

Seringkali foto candid seperti diatas lebih menarik daripada foto model yang melihat langsung ke lensa. Selain itu, saya juga menunjukkan bagaimana penyuntingan foto (photo editing) bisa secara signifikan mengganti suasana, warna, intensitas foto. Dengan foto editing, Anda dapat mengkomunikasikan dengan pemirsa bagaimana Anda melihat dunia.
9.

Sama dengan foto no.8 diatas, dengan mengunakan alat penyuntingan foto, Anda bisa mengubah foto biasa menjadi foto klasik. Foto potret tidak perlu selalu tajam sampai ke pori-pori, terutama foto wanita.
Semoga panduan dan contoh-contoh diatas dapat membantu Anda untuk menghasilkan karya foto potret yang baik, untuk keperluan profesional, hobi atau keluarga.

Belajar fotografi : Melihat cahaya


Fotografi pada dasarnya adalah proses membuat gambar dengan merekam cahaya, tapi banyak yang mengaku menguasai fotografi, tapi tidak peka dan tidak mengetahui bagaimana mengunakan cahaya. Fenomena ini ibaratnya seperti pelukis yang tidak bisa mencampur cat minyak dan menuangkannya kedalam kanvas saat dia melukis.
Hal ini tidak terlepas karena kemajuan teknologi kamera digital. Kamera di jaman sekarang hampir semua yang ada memiliki mode auto atau semi auto. Dimana kita membiarkan kamera untuk memutuskan berapa cahaya yang masuk. Saya tidak menyalahkan penggunaan teknologi yang membuat pengambilan foto menjadi lebih praktis dan akurat sesuai realitas yang ada, tapi bila Anda ingin foto Anda dapat menginspirasi banyak orang, maka Anda perlu belajar melihat cahaya.
Tanda-tanda bila Anda telah bisa melihat cahaya antara lain: Mampu melihat kontras (perbedaan intensitas cahaya dan warna) dan Mampu melihat arah cahaya (depan, belakang, samping, atas, bawah).
Sekilas, ini sederhana, tapi tanpa latihan, sulit menguasai ilmu ini. Saran saya adalah letakkan kamera Anda, dan pergilah jalan-jalan, amati baik-baik lingkungan Anda dari segi kontras dan arah cahaya. Coba visualisasikan foto yang ingin Anda ambil.
Selanjutnya, ambillah kamera Anda (yang ada mode manualnya). Set kamera itu ke manual (M) mode dan ambillah foto secara mengevaluasi cahaya yang ada. Mengapa mengunakan mode manual ? karena di mode ini Andalah yang membuat keputusan berapa besar dan berapa lama cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera.
Selanjutnya, ubahlah foto Anda ke foto hitam putih. Dan dari sana, coba perhatikan apakah foto itu menarik? bila foto tersebut memiliki kontras yang rendah, atau arah cahaya yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada, maka besar kemungkinan Anda belum berhasil dalam memgunakan cahaya dengan baik.
Selamat belajar!

Rabu, 14 Maret 2012

Fotografer profesi yang buruk?

Baru baru ini Koran Wall Street Journal mengeluarkan laporan tentang 200 profesi di Amerika dari yang  terbaik sampai terburuk. Kriteria penilaian tergantung kepada beberapa hal, antara lain lingkungan kerja, pendapatan, tingkat stres dan penggunaan kekuatan fisik.
Dari laporan tersebut, saya menemukan bahwa profesi fotografer ternyata berada di posisi ke-126 dan wartawan foto / fotojurnalis berada di posisi yang cukup menggenaskan yaitu ke-189. Ini berarti profesi fotojurnalis hanya lebih baik 1 tingkat dari profesi tukang jagal.
Sedangkan profesi populer seperti akunting atau aktuaris (penghitung resiko untuk perusahaan ansuransi / bank) menduduki posisi top 10.
Lalu pertanyaan yang saya lontarkan kepada diri sendiri adalah, apakah memang profesi fotografi begitu buruknya?
Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Pada umumnya, manusia bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, dan budaya dunia sekarang ini menilai bahwa pekerjaan yang terbaik adalah yang menghasilkan banyak uang, dan yang tidak memerlukan banyak tenaga fisik dan rendah stres.
Benar, bahwa hidup kita bisa lebih nyaman bila kita memiliki pekerjaan yang tidak memerlukan banyak tenaga fisik dan menghasilkan banyak uang, tapi uang tidak bisa membeli atau meningkatkan kualitas kehidupan di jangka panjang. Sebenarnya, manusia paling bahagia ketika mereka berkesempatan meningkatkan ilmu dan ketrampilan dan juga menjalani hidup yang cukup menantang.
Bila tidak ada tantangan, dan tidak ada peningkatan ilmu, maka hidup akan menjadi bosan. Meski kebosanan bisa dihentikan sementara dengan menghabiskan uang untuk membeli barang yang disukai atau untuk hiburan lainnya, tapi kesenangan tersebut tidak akan bertahan lama. Orang tersebut tidak akan mencapai kebahagiaan dalam hidup dan pekerjaannya, yang ada cuma rutinitas yang membosankan.
Profesi fotografer dan fotojurnalis adalah profesi memerlukan ketrampilan yang cukup kompleks dan tinggi. Biarpun demikian, setiap orang bisa belajar langkah demi langkah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan meningkatknya pengetahuan dan ketrampilan fotografi dan bisnis, orang tersebut merasakan kebahagiaan dalam setiap langkah dalam hidupnya.
Fotografer dan terutama fotojurnalis juga sering dituntut untuk memiliki fisik dan prima dan tidak jarang menerima stres/tekanan karena harus menepati tenggat waktu (deadline). Tuntutan-tuntutan tersebut adalah tantangan yang positif. Dengan adanya tantangan, kita bisa lebih maju dan bahagia. Tanpa tantangan, kita malas meningkatkan diri dan cepat bosan.
Oleh karena itu, profesi fotografer dan fotojurnalis seharusnya menempati posisi yang lebih tinggi di laporan tersebut. Sayangnya, budaya hedonistik (mementingkan kesenangan indra sesaat) mendikte manusia jaman sekarang memilih pekerjaan yang mudah dan yang berpotensi menghasilkan uang banyak. Tapi sayangnya, pilihan tersebut mungkin tidak akan membawa kebahagiaan dalam hidup.
ROUSTABOUT

Selasa, 06 Maret 2012

Alasan untuk pindah sistem digital SLR

Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.
Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali mempelajari dan membiasakan diri untuk memakai sistem yang baru ini. Kadang-kadang bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar terbiasa.
Lantas, banyak fotografer dari amatir sampai profesional pindah dari satu merek yang satu ke merek yang lain, tentunya masing-masing memiliki alasan sendiri sendiri. Ada alasan yang saya kira tepat, ada yang saya rasa kurang tepat.

Alasan yang saya kira tepat antara lain

  1. Bila tidak ada ada produk yang di tawarkan merek tersebut yang memenuhi syarat yang kita butuhkan padahal waktu mendesak
  2. Saat itu, saya memiliki kamera Canon 40D dan cukup banyak lensa dan aksesoris bermerek sama. Tapi akan ditugaskan untuk foto di keadaan yang gelap seperti foto tarian, foto candle lighting dan olahraga indoor dan lainnya yang tidak memperbolehkan penggunaan lampu kilat. Alhasil saya sempat melirik kamera Canon 5D mark II dan Nikon D700. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih kamera Nikon D700 karena auto fokusnya yang cepat dan juga kemampuannya di cahaya ruangan yang temaram. Selain itu Canon 5D mark II lebih mahal karena saat itu baru diluncurkan dan menurut tes, auto fokusnya tidak begitu baik. Kalau dihitung-hitung, akibat perpindahan ini, saya menderita kerugian sekitar $1500 (13.5 juta rupiah) . Kalau saya ada waktu untuk menunggu, saya tentu saja menunggu kamera Canon yang seperti Canon EOS 7D atau 1d mark IV.
  3. Sulit mencari pelayanan purna jual, lensa dan aksesoris
    Terkadang, Anda sulit menemukan aksesoris atau layanan purna jual di dekat tempat tinggal Anda. Hal ini tentu bisa mengesalkan terutama saat kamera Anda rusak atau ketika Anda ingin membeli lensa tertentu tapi tidak tersedia di daerah. Maka dari itu pertimbangkanlah untuk pindah ke merek yang memberikan layanan dan ketersediaan lensa dan aksesoris yang memadai
  4. Sistem yang Anda pakai sekarang sudah tidak sesuai dengan visi atau gaya fotografi Anda.
  5. Ada merek / system fotografi yang sasaran utamanya adalah mengembangkan produk untuk fotografer pemula dan amatir seperti Panasonic, Samsung, Pentax, dan Olympus sehingga bila Anda bertujuan untuk menjadi fotografer professional, terutama untuk fotojurnalistik, mungkin kurang tepat untuk memakai merek tersebut. Disisi lain, bila Anda mencari system yang ramah dengan pemula, memberikan nilai lebih dengan harga yang lebih murah, pertimbangkan untuk mencari merk-merk yang perhatian utamanya adalah pemula dan amatir. Salah satu contohnya adalah kini banyak sistem kamera yang berukuran kecil, seperti Panasonic GF1 dan Olympus PEN E-P1, bila gaya fotografi Anda lebih ideal mengunakan sistem seperti ini, mengapa tidak pindah?
  6. Sponsor
  7. Produsen kamera selalu mencari fotografer berbakat untuk disponsori, bila Anda merupakan salah satu fotografer yang beruntung itu, kenapa tidak menerimanya? Namun sebaiknya Anda sudah mencoba merek tersebut dan produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda, sehingga tetap bisa berkarya dengan baik dan tidak dicap munafik oleh fans dan khalayak umum.

Alasan yang kurang tepat untuk pindah sistem

  1. Merk lain lebih popular
  2. Kadang kita merasa minder karena banyak teman-teman atau khayalak ramai mengunakan merek kamera yang lebih populer. Hal ini kadang membuat kita ingin pindah. Tapi renungkan terlebih dahulu apakah memang merek yang anda punya tidak bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda? Dengan memakai system kamera yang berbeda, justru bisa membuat karya Anda menjadi unik. Jangan kuatir tampil beda.
  3. Fotografer atau teman yang dikagumi pindah sistem
  4. Kadang-kadang ada fotografer terkenal yang ganti merek dari satu ke yang lain. Jangan jadikan ini alasan kenapa pindah, karena kita seringkali tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka pindah. Seringkali fotografer terkenal dan berpengaruh di incar oleh produsen alat fotografer untuk memakai produk mereka secara gratis dan mempromosikan produk mereka. Oleh sebab itu jangan menjadi korban iklan dan tidak perlu tergesa-gesa untuk pindah ke merek lain. Selain itu, mungkin mereka memiliki dana yang besar sehingga ongkos perpindahan tidak menjadi masalah untuk mereka. Dan lagi, kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan kebutuhan Anda.
  5. Produk merk lain lebih baik
  6. Seperti kata pepatah yaitu rumput tetangga selalu lebih hijau. Seringkali kita melihat keunggulan kamera atau lensa merek lain dan hanya melihat kekurangan kamera kita sendiri. Hal ini menjebak kita untuk berpikiran tidak objektif. Kita juga kadang tidak sabar untuk menunggu model baru dari merek yang kita pakai dalam mengeluarkan produk yang memiliki fitur yang tidak dimiliki model saat ini, tapi dimiliki oleh produk merek lain. Contohnya beberapa tahun yang lalu kamera Nikon tidak memiliki sensor full frame sedangkan Canon telah memiliki Canon 5D, tapi beberapa tahun kemudian Nikon mengeluarkan Nikon D3 dan selanjutnya D700, yang merupakan full frame dengan kualitas yang lebih baik terutama di foto di kondisi pencahayaan yang kurang bersahabat. Selanjutnya, Canon berhasil meningkatkan kualitas perekaman video ke full HD, tapi kamera Nikon masih di HD 720p. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan Nikon mengungguli Canon dalam hal ini. Oleh sebab itu, daripada buru-buru pindah merek dan kehilangan banyak uang, maka lebih baik sabar menunggu.

Wedding foto videografi – dulu dan sekarang

Beberapa saat yang lalu, saya mengikuti dan mengamati fotografi dan videografi liputan di hari pernikahan (hari H). Terus terang saya cukup terkejut dengan perkembangan fotografi pernikahan saat ini khususnya di Jakarta, Indonesia untuk masyarakat golongan ekonomi menengah.
Dulu, crew liputan wedding itu hanya sekitar 2-3 orang, tapi sekarang, tidak terlalu mengherankan bila ada 4-5 orang crew video dan foto. Biasanya 2 orang mengambil foto, 2 orang video dan satu asisten untuk membantu fotografer/videografer dalam urusan peralatan dan lampu. Jumlah ini belum termasuk bila ada anggota keluarga, teman atau staf dari wedding organizer yang juga ikut mengabadikan momen pernikahaan ini.

Menurut pandangan saya, hal ini dipacu oleh beberapa faktor

Karena dibayar cukup mahal (yang biasanya tidak kurang dari puluhan juta per paket foto-video), jadi para crew juga dengan semangat memberikan yang terbaik, dengan meningkatnya jumlah crew foto video, diharapkan maka liputan akan menjadi lengkap dan komplit, gak ada secuil pun detil yang terlewatkan. Selain itu, jumlah crew yang banyak mungkin juga memenuhi harapan pengantin, karena merasa sudah membayar jasa dengan harga yang tinggi.
Kedua, karena peningkatan teknologi digital dalam foto video, yang mana banyak kamera digital SLR yang mampu merekam video, membuka peluang untuk meliput acara pernikahaan tersebut dalam bentuk foto fusion atau video clip. Hal ini bisa terbilang baru populer dalam beberapa tahun terakhir dan otomatis menambah jumlah crew. Biaya mengambil foto juga relatif lebih murah dengan jatuhnya harga digital SLR dibandingkan jaman kamera analog yang memerlukan biaya film dan cuci cetak. Kini, kita bisa mengambil ribuan foto tanpa takut akan biaya cuci cetak yang menggunung.

Intrusif

Dengan banyaknya jumlah crew yang terlibat, tidak bisa dihindari kalau acara pernikahan menjadi mirip acara pembuatan film, dimana banyaknya moncong lensa mengarah ke pengantin, keluarga dan para tamu. Bila pengantin terbiasa menjadi sorotan, misalnya adalah seorang selebriti atau model mungkin ini tidak ada masalah, tapi bila pengantin dan keluarga tidak terbiasa dengan kehadiran foto-videografer dengan peralatan-peralatannya, maka ini menjadi suatu kendala. Mereka menjadi tegang dan curiga kepada kita. Hal ini diperparah bila lokasi pernikahan di ruangan tertutup yang sempit.
Akibatnya adalah, gaya-gaya dan ekpresi yang tidak alami tidak hanya pengantin, tapi juga anggota keluarga yang lain, karena merasa seperti di “paparazzi.” Hal ini semakin parah bila anggota crew tidak menjalin suatu hubungan baik dan kepercayaan antara pengantin dan anggota keluarga lainnya.
Sebuah scene pernikahaan, terlihat 2 kamera, 1 video dan 1 lampu kilat mengarah ke pengantin yang sedang wedding dance. 2 kamera lainnya (termasuk yang mengambil foto) tidak terlihat. Total: 5 kamera dan 1 lampu kilat
Sebuah scene pernikahaan, terlihat 2 kamera, 1 video dan 1 lampu kilat mengarah ke pengantin yang sedang wedding dance. 2 kamera lainnya (termasuk yang mengambil foto) tidak terlihat. Total: 5 kamera dan 1 lampu kilat

Yang ideal?

Tidak ada pendekatan yang sempurna, seperti yang diulas diatas, banyak crew membuat suasana menjadi tidak begitu enak, tapi kalau kurang crew, bagaimana jika ada detil yang tidak terekam (miss the moment)? Adakah situasi yang ideal?
Menurut pandangan saya adalah kualitas lebih penting dari kuantitas, maka itu saya cenderung setuju dengan konsep “less in more” dalam fotografi pernikahaan. Daripada “capture it all (menangkap semua momen)” lebih baik menangkap “the defining moment (saat saat yang menentukan).” Tentunya untuk menangkap the defining moment, diperlukan latihan, pengalaman, dan keinginan untuk belajar mengembangkan diri secara terus menerus.
Dan lagi, semakin rileks dan enjoy pengantin, keluarga dan tamu-tamu, semakin percaya dengan kita, tentunya semakin banyak foto yang bagus. Bagaimana pendapat teman-teman yang lain?
www.infofotografi.com

Bagaimana cara menjadi fotografer profesional

Bagi yang hobi fotografi, tentunya kadang berpikir bagaimana memanfaatkan hobi dan ketrampilan foto ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan, bahkan ada yang bercita-cita ingin menjadi fotografer profesional.
Apa saja sih yang dibutuhkan untuk menjadi fotografer profesional?

SEBAGAI FOTOGRAFER

Setiap usaha perlu modal, tak terkecuali menjadi fotografer profesional. Pertama-tama kita perlu alat foto. Alat foto bisa berarti kamera lensa, dan aksesoris lain yang mendukung. Karena jenis fotografi dan gaya tiap orang cukup beragam, maka alat foto juga beragam.
Secara umum, semakin mahal kamera atau lensa, semakin baik performa dan kualitasnya. Maka dari itu, tentukan anggaran yang cukup untuk pembelian peralatan yang sesuai untuk jenis fotografi yang ditekuni. Tapi jangan mengeluarkan semua uang Anda untuk membeli yang paling canggih dan paling mahal, karena masih akan ada biaya yang tidak sedikit untuk menjalani bisnis fotografi.
Salah satu alternatif bagi yang anggarannya sedikit adalah dengan cara menyewa kamera dan lensa berdasarkan pekerjaan yang didapat.
Modal tidak berarti uang saja, tapi yang penting juga penguasaan teori, praktek, kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah. Peralatan yang bagus saja tidak menjamin bisa menghasilkan karya yang baik dan layak jual.
Memiliki peralatan yang sesuai dan menguasai pengunaan peralatan fotografi hanya 1/3 dari ketrampilan yang diperlukan untuk menjadi fotografer profesional yang sukses. Lalu, apa yang dibutuhkan lagi?

SEBAGAI MANAGER

Sebagai pemilik usaha fotografi, kita harus mempelajari dan menguasai aspek manajerial yang baik. Aspek manejerial antara lain seperti pembukuan/akuntansi, kontrol kualitas , organize jadwal dan juga masalah berkaitan dengan SDM bila memiliki pegawai.
Dengan memiliki sistem pembukuan yang baik, kita memiliki acuan apakah bisnis kita menghasilkan atau merugi, bagaimana posisi keuntungan dibanding dengan periode yang lampau. Dengan mendapatkan informasi ini, kita bisa merancang rencana kedepannya.
Selain itu, kualitas kontrol juga sangat penting tapi ini cukup sulit karena fotografi ini bersifat seni. Walaupun sulit, kita juga harus mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas foto kita.

SEBAGAI ENTREPRENEUR (WIRAUSAHA)

Ketrampilan lain yang dibutuhkan yaitu kemampuan wirausaha. Ketrampilan wirausaha ini mencakupi kemampuan memiliki visi, kemampuan melihat peluang-peluang baru, dan kreatifitas di dalam pemasaran.
Bila salah satu pilar diatas tidak ada atau kurang, maka sulit bagi seorang fotografer untuk sukses di bisnis yang penuh persaingan ini. Tapi jangan terlalu kuatir bila Anda hanya punya salah satu dari keahlian diatas, Anda bisa mencari partner usaha yang bisa mengisi kekurangan Anda.
Pilihan lain adalah untuk mempelajari aspek lain yang kita belum kuasai. Contohnya bila menguasai aspek fotografer dengan baik, tapi tidak mengenal aspek manajerial dan wirausaha, kita bisa belajar aspek tersebut dari teman atau kuliah formal/informal.
Atau, bila Anda tidak memiliki dan tidak mau belajar, Anda bisa bekerja untuk pengusaha di bidang fotografi daripada membuka usaha sendiri tapi akhirnya rugi dan gagal.
Maka dari itu penting bagi tiap orang untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Setelah mengetahui, kita bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita.
Mudah-mudahan posting ini bisa memberikan info bagi pada para fotografer amatir yang ingin menjelajah ke wilayah bisnis foto.

Kamis, 01 Maret 2012

Peran kamera ponsel dalam perkembangan fotografi

Smartphone, atau ponsel pintar, semakin lama semakin populer sebagai alat untuk fotografi terutama untuk 1-2 tahun terakhir ini. Hampir semua ponsel cerdas memiliki kamera, dari 2 MP sampai 12 MP. Semakin lama, kualitas foto pun sudah semakin tinggi dan ada yang sudah melampaui kamera saku, misalnya kamera Nikon N8.
Kamera seperti Nokia N8, kualitas fotonya sudah melebih banyak 
kamera saku dipasaran tahun 2010 ini
Kamera seperti Nokia N8, kualitas fotonya sudah melebih banyak kamera saku dipasaran tahun 2010 ini
Selain kualitas foto yang semakin meningkat, ponsel pintar juga jauh lebih praktis daripada membawa kamera saku secara terpisah. Ponsel cerdas bisa digunakan untuk merias foto, bisa juga langsung diunggah ke jejaring sosial seperti Facebook untuk dibagikan kepada teman-teman lain. Tentunya ponsel cerdas ini bisa melakukan hal-hal lain seperti menelepon, chatting, browsing dan sebagainya.
Dengan mengunakan aplikasi instagr.am di ponsel cerdas iPhone, 
Anda bisa mengubah nuansa foto menjadi klasik dengan mudah
Dengan mengunakan aplikasi instagr.am di ponsel cerdas iPhone, Anda bisa mengubah nuansa foto menjadi klasik dengan mudah
Dibandingkan dengan kamera saku biasa, kamera ponsel cerdas memang masih memiliki kekurangan-kekurangan. Tapi diantaranya malah merupakan kelebihan yang terselubung.
Misalnya kamera ponsel tidak memiliki lensa zoom seperti kamera saku, tapi justru karena tidak ada zoom, maka kita “dipaksa” untuk mengunakan kaki kita untuk zoom, akibatnya sudut pengambilan foto akan lebih baik.
Selain itu, banyak mengeluhkan kualitas foto yang dihasilkan oleh ponsel, tapi seperti yang disebut diatas, ponsel cerdas keluaran tahun 2010 ini, seperti Apple iPhone 4 dan Nokia N8, sudah bisa disejajarkan atau bahkan melebihi kualitas kamera saku. Dan lagi, untuk keperluan online seperti Facebook, sebenarnya foto berukuran 0.3 MB saja sudah cukup besar.
Yang terakhir yaitu kamera saku memiliki fungsi atau kontrol yang terbatas, seperti tidak memiliki fungsi manual. Tapi karena kesederhanaan fungsi tersebutlah yang membuat kita terfokus dengan komposisi dan aspek estetika lainnya.
best-cameraMaka dari itu, kamera cerdas saat ini lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kamera saku untuk membuat foto. Bahkan banyak fotografer profesional yang mengunakan kamera ponsel untuk kegiatan kesehariannya seperti Chase Jarvis dan bukunya yang berjudul “The Best Camera is the one that’s with you

www.infofotografi.com

Tips dalam memilih acara untuk memperdalam ilmu fotografi

Belakangan ini saya perhatikan banyak sekali yang sangat peduli dengan peralatan fotografi seperti kamera, lensa dan aksesoris. Misalnya lensa mana yang bagus buat pemandangan, potret atau wedding. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemilihan alat yang tepat merupakan hal yang penting. Tapi jangan abaikan meningkatkan ilmu dan pengalaman juga.
Banyak orang membeli alat foto berjuta-juta untuk membeli kamera yang lebih canggih, lensa yang lebih berkualitas, tapi hanya sedikit yang bersedia menginvestasikan uang dan waktu untuk belajar ilmu fotografi itu sendiri. Padahal, banyak alat fotografi bisa rusak dan tidak bisa dipakai lagi dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan. Tapi ilmu fotografi tidak. Dalam kurun 100 tahun lebih, dasar ilmu fotografi tetap sama.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, alat fotografi itu sebenarnya murah, karena bisa langsung beli, sedangkan untuk belajar fotografi, selain biaya, kita perlu waktu, dan bagi sebagian besar orang, waktu itu sangat berharga.
Untuk itu, ada beberapa tips yang saya ingin bagikan tentang memilih kursus/seminar/workshop yang cocok untuk Anda sekalian.

1. Sesuaikan tingkat ilmu Anda dengan bahan/topik seminar

Misalnya Anda baru saja membeli kamera digital dan awam terhadap dasar fotografi, maka sebaiknya mengambil kursus pemula, bukan advanced. Ada baiknya juga menanyakan kepada penyelenggara atau instruktur tentang materinya terlebih dahulu karena judul saja biasanya tidak pas dengan tingkat ilmu Anda.
Contohnya, dulu saya pernah ikut kursus yang diberi judul “Basic Lighting“, materinya tentang lighting (indoor studio), produk, fashion, interior dan beberapa yang lain. Ada beberapa yang ikut baru membeli kamera, dan sepertinya tidak ada “clue” tentang dasar fotografi sehingga kebingungan sepanjang kursus. Alhasil, waktu dan uang terbuang percuma.

2. Lihat karya instrukturnya

Bila karyanya sesuai dengan apa yang ingin Anda capai dan raih, tentunya ikuti acaranya, sebaliknya bila gaya instrukturnya tidak sesuai dengan apa yang Anda ingin capai, sebaiknya mencari lagi acara yang sesuai dengan tujuan fotografi Anda.
Setelah menemukan instruktur yang karyanya Anda suka, siapkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana proses pembuatan fotonya. Instruktur yang baik biasanya akan senang hati  membagikan proses pembuatan fotonya.

3. Harga murah vs mahal

Acara yang  murah dan mahal ada positif negatifnya. Acara yang harganya murah biasanya diikuti oleh banyak orang, yang gratis bisa ratusan. Sedangkan yang mahal biasanya kelasnya cukup kecil (dibawah 10 orang), tapi yang mahal memberikan kesempatan interaksi yang lebih besar dengan instruktur, sehingga penyerapan ilmu lebih tinggi. Kesempatan untuk praktek juga lebih tersedia. Kalau yang murah, biasanya objek dan alat-alat fotonya terbatas dan harus gantian dan keroyokan, sehingga hasil kurang maksimal.
Ada pula acara pelatihan yang disponsori oleh perusahaan tertentu. Biasanya harganya murah, tapi di dalam acaranya diselipkan pesan-pesan dari sponsor. Acara ini cukup baik sebenarnya untuk meningkatkan wawasan, tapi jangan telan bulat-bulat pendapat instrukturnya. Kita harus bersikap kritis dan bisa membedakan mana yang mengandung promosi mana yang tidak. Misalnya, bila acaranya disponsori oleh merek Nikon, dan di dalam acaranya instrukturnya mengatakan hasil kamera Nikon lebih tajam dan bagus, jangan dipercaya sebelum meneliti terlebih dahulu.
Acara foto gratis dengan model ini untuk mempromosikan Toyota 
Yaris. Makin murah acaranya makin rame, tapi makin sedikit ilmu dan 
pengalaman yang bisa didapatkan di acara model seperti ini.
Acara foto gratis dengan model ini untuk mempromosikan Toyota Yaris. Makin murah acaranya makin rame, tapi makin sedikit ilmu dan pengalaman yang bisa didapatkan di acara model seperti ini.

4. Sertifikat

Ada kursus yang bersertifikat, ada yang tidak. Ada yang harus menyelesaikan beberapa tugas / PR sebelum diberikan sertifikat, ada yang langsung diberikan ketika acara usai. Saya pikir jangan mengikuti suatu acara berbasiskan ada sertifikat atau tidak, yang penting kita dapat ilmunya. Kecuali memang bila sertifikat itu suatu syarat untuk naik jabatan di perusahaan tertentu.
Demikian lah tips-tips saya sebelum memilih acara fotografi. Semoga membantu dan tetap semangat!

www.infofotografi.com

Rabu, 29 Februari 2012

Hasrat (Desire)

Sebagai manusia, kita punya banyak hasrat (keinginan yang kuat), demikian juga di dalam bidang fotografi. Pada dasarnya kita ingin bisa membuat foto yang bagus. Tapi banyak orang yang mengira mengunakan kamera yang mahal berarti meningkatkan kualitas foto dan otomatis membuat kita menjadi seorang fotografer yang lebih handal.
Pemikiran tersebut sayang sekali sangat keliru.
P1080475
Iklan kamera baru di media cetak: Murni hasrat untuk meningkatkan fotografi atau sebagai mainan baru saja?
Memang benar kamera yang canggih, lensa yang mahal akan membuat foto kita lebih tajam, kontras, dengan banyak detil meskipun di zoom sampai berulang-ulang kali. Atau foto lebih jelas dan terang saat mengunakan ISO tinggi di dalam ruangan. Tetapi masalahnya itu semua tergantung dari visi sang fotografer itu sendiri. Misalnya bila jenis foto yang disukai seperti hasil kamera Polaroid yang sketchy, maka kamera DSLR canggih sepertinya kurang pas. Kamera iPhone (dengan apps instamatic) atau toy camera mungkin lebih pas.
Ada juga bahayanya mengunakan kamera yang terlampau canggih ketika kita baru belajar fotografi. Karena kamera canggih memiliki fungsi otomatis yang sudah cukup baik. Fungsi-fungsi tersebut membuat kita cenderung mengandalkan kamera untuk membuat foto. Kemudian lensa-lensa mahal yang canggih bila dipakai oleh pemula, malah bisa menjadi bumerang. Lensa mahal yang tajam, malah bisa menonjolkan kesalahan kita, atau menyembunyikan kesalahan kita. Misalnya lensa berbukaan besar membuat latar belakang menjadi kabur, sedemikian kaburnya sehingga kesalahan kita memilih latar belakang tertutupi.

Ditambah lagi dengan fungsi-fungsi perbaikan seperti active d-lighting, crop, filter effects dan ditambah dengan kehandalan Photoshop atau software lainnya dalam memoles foto berupaya menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita.
Secanggih apapun fungsi otomatis kamera, kamera tidak tahu foto seperti apa yang kita inginkan. Kamera juga tidak bisa mengkomposisikan (mengatur elemen-elemen visual dalam foto) sehingga foto kita bercerita dengan efektif. Orang-orang yang baru membeli kamera dan lensa mahal lalu pun sering bingung, mengapa foto-fotonya tidak menarik seperti yang dia harapkan sebelum membeli kamera dan lensa tersebut.
Untuk menghasilkan foto-foto yang lebih baik dan artistik, intinya tetap tergantung pada fotografernya sendiri. Penting bagi kita untuk memahami dasar fotografi dan memiliki visi artistik. Lalu mengambil kendali atas kamera kita (bukan dikendalikan fungsi auto atau mengandalkan photoshop), kemudian baru menentukan alat yang paling cocok untuk jenis fotografi tersebut.
Maka dari itu, sebelum membeli kamera dan lensa yang terbaru dan termahal, penting menanyakan kepada diri sendiri, foto seperti apa yang saya ingin hasilkan? Kalau belum yakin, cobalah beberapa jenis fotografi dengan kamera yang kita punyai. Investasikan diri sendiri dengan belajar melalui membaca buku, blog, atau menghadiri kursus, seminar, workshop dan tentunya banyak latihan.

www.infofotogtrafi.com

Tips membuat foto yang indah dan cantik

Sebagian besar dari kita bertujuan membuat foto yang indah dan cantik. Jika kita lihat foto-foto yang beredar di internet seperti foto model, fashion, wedding, dan iklan, biasanya terfokus pada keindahan atau kecantikan.
Lalu bagaimana kita bisa membuat foto yang indah? Tentunya kita harus mempelajari apa yang dipersepsikan indah dan cantik oleh orang-orang kebanyakan.
beauty-01-chris-willis
Cantik = Model yang berawajah cantik dan berkulit putih mulus - Foto oleh Chris Willis, Creative Commons
Dalam sebuah riset di bidang psikologi, didapatkan bahwa orang-orang cenderung menyukai foto yang  terang dan kontrasnya tinggi. Selain itu biasanya orang-orang menyukai foto yang kaya warna, seperti pemandangan alam, sunset dan sunrise.
Orang-orang juga menyukai foto yang terlihat tajam, sehingga perdebatan antara lensa atau merek kamera yang mana yang membuat foto lebih tajam selalu ramai di forum-forum fotografi.
Di dalam foto portrait (foto orang), sebagian orang pun menyukai foto model yang cantik. Wajah yang cantik biasanya memiliki bentuk yang simetri dan proporsional. Wajah yang cantik juga memiliki kulit yang bebas jerawat atau bintik-bintik pada wajah dan tentunya mulus. Maka dari itu, banyak fotografer mengunakan pengolah gambar untuk memuluskan wajah manusia yang biasanya tidak sempurna.
Di foto portrait wanita, biasanya orang-orang menyukai model yang tinggi semampai dengan kaki yang panjang, pinggang yang ramping tapi berukuran dada yang besar. Sedangkan untuk pria, orang-orang menyukai dada dan perut yang berotot, tinggi dan berbahu lebar.
Tapi hati-hati juga karena setiap daerah dan budaya berbeda-beda. Misalnya saja, di Indonesia, wanita cantik itu berkulit putih seperti bule, sedangkan di negeri barat, malah kulit yang kecoklat-coklatan atau sawo matang justru lebih cantik daripada kulit pucat. Maka dari itu bule-bule suka ke pantai untuk “menggosongkan kulit mereka.”

Membuat foto cantik itu gak sesukar yang dibayangkan:

1. Komposisi foto yang baik
2. Pengunaan / penempatan sumber cahaya/lighting yang tepat untuk menonjolkan hal-hal yang indah dan menutupi hal yang kurang indah
3. Penguasaan digital imaging untuk membuat gambar lebih cantik lagi (tapi awas berlebihan!)
4. Less is more : Fokus ke yang cantik & indah saja
5. Cari pemandangan atau orang yang cantik untuk di foto
6. Kuasai dasar fotografi dan pengunaan lensa yang tepat
7. Perhatikan harmoni dan keseimbangan : Warna, tekstur dan hubungan antara subjek dan latar belakang perlu dipertimbangkan.
Indah = Pemandangan alam yang kaya warna - foto oleh Kevin Cole - 
Creative Commons
Indah = Pemandangan alam yang kaya warna - foto oleh Kevin Cole - Creative Commons
Nah gampang kan membuat foto yang cantik dan indah? Tapi fotografi bukan terbatas hanya membuat foto yang cantik dan indah saja. Fotojurnalisme misalnya, justru sengaja menghindari yang cantik-cantik dan indah-indah. Malahan mencari kondisi kehidupan yang kurang baik, misalnya korban perang, gempa bumi dan lain-lain.
Ada pula human interest yang fokus kepada adegan-adegan dan realita kehidupan yang  alami.  Selain itu ada fotografer yang memfokuskan untuk mengabadikan hal-hal yang sering dijumpai sekitar rumah. Meski bagi sebagian orang akan menganggap fotografi yang tidak indah dan tidak cantik membosankan, tapi dengan komposisi dan pencahayaan tertentu, foto bisa terlihat lebih menarik.

www.infofotografi.com

Q&A Rasio foto yang bagus dan jelek

Ada pertanyaan dari peserta kusus, Terry yang sebagai berikut:
Pak ini saya dari 200an gambar yg saya ambil hanya ada 20 gambar yang saya nilai baik. Dari 200an gambar hanya ada 5 yang No edit + No crop. Langsung dari kamera format JPEG. Apa setiap fotografer memang seperti ini (hanya 10% dari jepretan yg terpakai)?
Jawabannya adalah tergantung pada fotografernya dan jenis fotografi yang digeluti. Misalnya kalau kita foto subjek yang terus-menerus bergerak, seperti satwa liar, acara olahraga, maka memang rasio gambar yang diambil dan gambar yang bagus bisa sangat ekstrim. Misalnya dalam 100 foto, mungkin hanya ada 5-10 foto yang dikategorikan sangat baik.
Pengalaman saya sendiri, foto liputan acara, bila saya mengambil 100 kali, biasanya ada 25 yang baik. Tapi kalau still life (foto benda mati yang menarik dan ditata sedemikian rupa), rasio foto yang baik mungkin lebih tinggi lagi, misalnya dalam 10 jepretan, ada 7-8 yang baik.
Sebenarnya tidak perlu terlalu dipusingkan dengan rasio ini, dan ini tidak menentukan fotografer itu jago atau tidak. Yang penting kita berusaha sebaik mungkin saat menjepret. Tidak ada gunanya menjepret berulang-ulang kali dengan sudut yang sama, setting yang sama, karena hasilnya sama aja. Jadi jangan menjepret seperti machine gun (senapan mesin) terus menerus, sebaiknya setiap menjepret 2-3 foto kita evaluasi apa yang diperlukan supaya foto yang kita ambil lebih baik lagi.

www.infofotografi

Belajar melihat, merasakan dan berpikir

Ketika kita kecil, kita belajar dengan meniru orang. Dengan meniru perkataan orang tua kita, kita belajar bicara. Dengan meniru gambar kartun, kita belajar menggambar Mickey Mouse atau tokoh kartun idola kita yang lain. Lama-lama, kita merasa meniru itu merupakan suatu cara yang efektif atau cara pintas untuk belajar sesuatu.
Di dalam fotografi, pemula banyak yang menganggap kegiatan meniru ini bisa membuat foto kita tambah bagus. Salah satu contohnya, saya pernah disarankan untuk menyertakan info teknis pembuatan foto di buku yang akan terbit akhir bulan Maret 2011 ini:
Mas enche, mohon disertakan terus contoh – contoh foto beserta spesifikasinya (merek kamera & ukuran lensa, speed, ISO, dan bukaan, waktu pengambilan gambar). Kadang saya belajar manual settingnya ngintip dari hasil tersebut.
Informasi setting kamera, merek kamera, lensa, waktu pengambilan gambar dll sebenarnya memberikan informasi yang sangat sedikit, dan malah bisa menyesatkan.
Pertama, pemula tersebut akan berpikir bahwa dengan meniru setting tersebut, maka dia akan mendapatkan hasil yang sama dengan foto tersebut. Kedua, pemula akan berpikir bahwa dengan menggunakan kamera dan lensa merek dan jenis tertentu akan menghasilkan hasil foto yang baik.
Apa yang diberitahukan setting kamera (ISO, bukaan, shutter speed) adalah tentang ukuran pencahayaan yang ada pada keadaan sekejab. Keadaan cahaya terutama di luar ruangan selalu berubah, jadi bila kita meniru setting tersebut, akan terjadi masalah dengan gelap terangnya (eksposur) foto. Selain itu, kita tidak mengetahui posisi fotografer dengan subjek utama dan latar belakang, kita juga tidak mengetahui alat-alat lain yang digunakan untuk pembuatan foto (seperti tripod, filter). Kita juga tidak tahu kalau foto itu sudah mengalami pengeditan dalam pengolah foto tidak, dan apa saja yang di ubah dalam proses tersebut.
Informasi jenis kamera, lensa yang dipakai juga akan menyesatkan. Misalnya, pemula bisa beranggapan bahwa harus mengunakan kamera yang canggih dan lensa yang mahal-mahal untuk membuat foto tersebut. Setelah membeli alat-alat sesuai dengan spesifikasi, bila tidak menghasilkan foto yang diinginkan bisa kecewa berat.
Daripada meniru setting di foto tertentu, jenis kamera dan lensa yang dipakai, lebih baik belajar memahami dengan benar tentang segitiga emas fotografi dan teknik-teknik dasar lainnya terlebih dahulu.
Nikon D40, Lensa 16-85mm VR, ISO 200, 85mm, f8, 1/125 detik : 
Apakah info ini membantu? Saya rasa tidak.. hmm.. tunggu dulu, mungkin 
kita belajar satu hal, kamera murah dan hanya 6 megapiksel bisa membuat 
foto sebagus ini. Foto oleh Camella Kusumo
Nikon D40, Lensa 16-85mm VR, ISO 200, 85mm, f8, 1/125 detik : Apakah info ini membantu? Saya rasa tidak.. hmm.. tunggu dulu, mungkin kita belajar satu hal, kamera murah keluaran 5 tahun lalu yang hanya beresolusi gambar 6 megapiksel bisa membuat foto sebagus ini. Foto oleh Camella Kusumo
Daripada sibuk menerjemahkan dan belajar dari spesifikasi foto yang ada, mendingan kita belajar melihat (to see) Melihat itu tidak sama dengan memandang atau menengok (to look). Saat kita melihat, kita memberikan waktu kepada mata dan pikiran kita untuk memperhatikan detail-detail yang tidak pernah kita lihat sebelumnya dengan hanya memandang sekilas.
Lalu kita harus belajar merasakan (to feel). Dengan bisa merasakan suasana pemandangan yang kita lihat, baru kita bisa mengkomunikasikan dengan efektif suasana (mood) atau atmosfer yang ada kepada orang yang melihat foto kita.
Setelah kita melihat dan merasakan, saatnya kita berpikir, (to think) berpikir kamera, lensa, setting kamera, pengolahan foto yang bagaimana yang bisa membantu kita membuat kita bisa meneruskan, mengkomunikasikan suasana yang kita lihat ke pemirsa foto secara efektif.

www.infofotografi.com

Mengapa saat ini saat yang oke masuk ke bisnis fotografi?

Saat sekarang adalah saat yang tepat untuk masuk ke bisnis fotografi, mengapa?
  • Untuk memasuki bisnis fotografi tidak sulit, tidak seperti bisnis lain yang perlu harus punya modal relatif besar, tidak harus punya izin khusus atau punya sumber daya tertentu. Pokoknya kalau menguasai fotografi, bisa langsung terjun di bisnis ini (peralatan bisa disewa).
  • Belajar fotografi kini juga sangat mudah, banyak kursus betebaran di kota-kota, dan juga banyak buku-buku, internet (video dan tulisan) dan juga ada komunitas-komunitas tempat menggali ilmu. Dahulu, tidak begitu mudah untuk mendapatkan ilmu fotografi karena masih ekslusif dan peralatannya masih primitif dan lebih sulit dikuasai.
  • Belajar fotografi juga tidak memerlukan waktu yang lama, asal intensif dan serius, fotografi dapat di pelajari dalam waktu beberapa bulan sampai satu tahun. Tidak seperti karir lain yang memerlukan kuliah sampai 4-7 tahun atau memerlukan bakat yang luar biasa di bidangnya untuk bisa sukses.
  • Beberapa jenis fotografi tidak terancam resesi, misalnya foto portrait, wisuda, acara-acara liputan pernikahan, ulang tahun, dan fotografi komersial (iklan), fashion dan sebagainya.
  • Fotografi merupakan karir yang kreatif yang lebih menyenangkan bagi banyak orang daripada kerja kantoran biasa yang membosankan.
  • Di bisnis fotografi, kita mengontrol nasib kita sendiri, menjadi bos bagi diri sendiri daripada ditentukan oleh orang lain/perusahaan.
  • Fotografi merupakan bisnis yang fleksibel, mau kerja akhir pekan saja, bisa, mau kerja setiap hari, bisa, mau kerja 10 hari setahun, juga bisa. Intinya bisa jadi pekerjaan full time atau part time.
Nah untuk memasuki bisnis fotografi, kita mempunyai dua pilihan / dua jalan utama. Jalan pertama yang paling sering ditempuh fotografer pemula adalah menjadi fotografer lepas atau freelance.
evolusi-fotografer-profesional
Evolusi fotografer
Mengapa bekerja sebagai fotografer lepas itu relatif mudah?
Jawabannya sederhana sih, yaitu karena kita bisa fokus ke fotografi saja, dan tidak direpotkan dengan ngurusin sisi bisnis seperti: mendapatkan pelanggan, mengurusi jadwal, membayar gaji dan ongkos, mengurusi marketing, manajemen, akuntansi, sales dan sebagainya. Pokoknya muncul di jadwal yang sudah ditentukan dan kemudian kerja, setelah selesai di kasih bayaran sesuai dengan kesepakatan.
Meski terdengar enak, tapi masalahnya menjadi fotografer lepas juga banyak kekurangannya
  • Pertama, orang lain mendapatkan keuntungan yang tidak jarang lebih besar dengan menjual jasa kita
  • Seringkali, kita kehilangan hak atas foto-foto, misalnya tidak boleh dijual ke pihak lain, dan batasan lainnya
  • Kita tidak mendapatkan pemasukan tambahan dari foto-foto tersebut karena kita sudah menjual kepada Bos / perusahaan
  • Insentif untuk melakukan yang terbaik tidak terlalu kuat, karena bayaran kita kurang lebih sudah tetap berdasarkan kesepakatan awal.
  • Biasanya kita bekerja mengikuti aturan atau gaya perusahaan tertentu yang kadang kala tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
  • dan yang terakhir, dan mungkin paling penting adalah, kita kemungkinan tidak akan menjadi kaya dengan hanya bekerja untuk orang lain.
Jadi, masing-masing jalan entah menjadi fotografer bebas atau mengelola bisnis fotografi sendiri memang ada positif negatifnya, tinggal kita pilih saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Semoga sukses!
Artikel yang berhubungan dengan bisnis fotografi: Bagaimana menjadi fotografer profesional
www.infofotografi.com

Perbedaan tukang foto dengan fotografer

Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini.
Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya.
Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.
Lalu apa beda tukang foto dengan fotografer?
Kalau tukang foto lebih bersifat reaktif terhadap suatu keadaan, fotografer pendekatannya lebih berbeda. Seorang fotografer menghabiskan banyak waktunya tidak di dalam sesi pemotretan saja, tetapi sebagian besar lebih ke pembuatan konsep & ide, perencanaan, persiapan, dan setelah selesai foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan.
Banyak yang harus dipikirkan untuk menjadi fotografer, apalagi fotografer profesional yang bertarif tinggi. Ide kreatif, eksekusi dan hasil foto lah yang membuat seorang fotografer dibayar jauh lebih tinggi nilainya daripada aksi motret itu sendiri.

www.infofotografi.com

Tips untuk memperoleh kamera dan lensa idaman

Seringkali, untuk mendapatkan kamera, lensa atau peralatan kamera yang kita inginkan, kita merasa sulit sekali mendapatkannya, terutama karena dana kita yang terbatas. Sebenarnya, tidak perlu jadi orang kaya untuk bisa memperoleh kamera dan lensa idaman kita. Tips-tips dibawah ini mungkin bisa membantu.
Penghasilan tambahan
Pertama-tama, kita perlu mendapatkan penghasilan yang lebih dari pengeluaran kita, bila tidak, maka kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar kita dan selalu tidak ada dana untuk membeli peralatan fotografi baru.
Mencari penghasilan tambahan merupakan salah satu solusi yang baik. Pekerjaan tersebut tidak perlu dari fotografi. Lebih baikmelalui hal-hal lain yang lebih Anda lebih kuasai. Contohnya, bila Anda seorang guru, Anda bisa memberikan les privat.
Hidup hemat
Kecenderungan manusia bila memiliki penghasilan berlebih yaitu pengeluarannya juga biasanya meningkat seiring dengan penghasilan. Untuk itu memiliki gaya hidup hemat itu penting. Hemat bisa berarti banyak hal, tapi menurut versi saya, hemat adalah mengeluarkan biaya sedikit mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Namun.. jangan terjebak dengan harga yang terlalu murah. Biasanya harga yang terlalu murah dari pasaran itu memiliki resiko tinggi, misalnya mungkin itu penipuan, atau barang second yang sudah agak rusak.
Ganti sistem
Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau, tapi jangan tergiur untuk cepat-cepat upgrade dan pindah sistem/merek kamera sebelum memang benar-benar membutuhkannya. Bukan karena biaya pindah dan upgrade mahal, tapi juga otomatis kita perlu belajar ulang tata letak dari kamera baru tersebut. Butuh waktu yang lumayan lama untuk beradaptasi dengan mulus dengan sistem atau kamera baru.
Lensa lebih tahan lama daripada kamera
Dalam membeli lensa, membeli lensa second atau bekas biasanya termasuk keputusan yang cukup baik, asal memang kita bisa menguji lensa atau lensanya telah diuji oleh pihak yang berpengalaman. Beberapa lensa saya adalah lensa bekas dan saya cukup senang karena mendapatkan lensa yang nyaris baru tapi harganya berbeda hampir 1.5 juta Rupiah dari yang baru.
Membeli lensa yang berkualitas tinggi lebih baik daripada yang tanggung-tanggung, karena kualitas lensa yang tinggi itu jarang turun harganya, sebagian besar naik mengikuti inflasi dan juga kelangkaan barang.
Beli kamera model lama
Kamera DSLR dirilis cukup sering, dalam satu-dua tahun, biasanya model kamera DSLR baru beredar. Nah, biasanya kamera yang baru dirilis itu akan membuat kamera model yang lama menjadi turun harganya, karena toko-toko ingin menghabiskan stok lama dan mengisinya dengan kamera model baru. Kalau memang kamera model lama mencukupi kebutuhan kita, kenapa tidak memanfaatkan keadaan ini?
Awas akan tawaran bonus atau paket
Hati-hati dengan salesman yang membujuk-bujuk kita membeli paket bundel, misalnya kamera dengan lensa tertentu atau bonus-bonus seperti tas kamera, kartu memori atau batere tambahan. Biasanya bonus-bonus yang diberikan kualitasnya kurang baik dan sudah termasuk di dalam harganya. Jangan terbujuk karena bonusnya saja.
Jual yang lama sebelum beli baru
Kalau memang kita memang membutuhkan peratalan baru, tidak ada salahnya juga menjual peralatan lama yang fungsinya mirip atau memang jarang sekali kita gunakan (misalnya selama ½ tahun tidak pernah memakainya). Nah, dengan penjualan barang lama, bisa membuat dana kita lebih besar untuk membeli peralatan baru yang lebih berkualitas.
Kerja di bidang fotografi
Bekerja di bidang fotografi juga bisa memberikan kesempatan kita untuk memakai dan mengunakan peralatan fotografi baru. Misalnya fotojurnalisme atau fotografer wedding, tinggal pesan dari kantor saja, beres deh.
Semoga berhasil mendapatkan apa yang diidamkan.
www.infofotografi.com

Beli lensa atau beli lampu kilat / flash?

Salah satu pertanyaan menarik yang saya dapat dari komentar di blog ini adalah apakah lebih baik membeli flash dulu atau membeli lensa yang lebih baik kualitasnya daripada lensa kit (lensa bawaan saat membeli kamera untuk pertama kali).
Apa yang saya baca dari laman InfoFotografi di facebook, jauh lebih banyak yang memprioritaskan lensa daripada lampu kilat. Saya sendiri pada awalnya juga begitu. Dahulu, saya sering ditugaskan sebagai fotografer dokumentasi acara. Saya pikir lensa yang berkualitas tinggi dan berbukaan besar akan bisa memecahkan masalah saya. Tapi lensa sendiri, baik yang kualitasnya tinggi sekalipun, gagal memecahkan masalah saya dalam pencahayaan.
Seringkali di ruangan, cahaya lingkungan bercampur baur dari cahaya dari lampu di dalam ruangan yang kadang berwarna tidak sama, dan matahari dari luar yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela. Selain itu, cahaya di dalam ruangan biasanya sangat sedikit, sehingga meski saya mengunakan lensa dengan bukaan sangat besar pun masih harus menaikkan ISO cukup tinggi, akibatnya kualitas foto menurun karena noise yang tinggi dan saturasi warna yang hilang.
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan 
investasi yang sangat baik
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan investasi yang sangat baik
Setelah menghabiskan puluhan juta untuk membeli lensa, akhirnya saya membeli lampu kilat pertama saya yang seharga dua jutaan. Dengan lampu kilat ini, kualitas foto saya secara konsisten meningkat dari acara ke acara.
Dari sini saya menyadari bahwa, mengandalkan lensa dan cahaya lingkungan semata, sering sekali sulit mendapatkan hasil foto sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, lampu kilat merupakan suatu investasi yang sangat baik untuk saya.
Beberapa tahun belakangan ini, saya semakin menyadari bahwa dengan mengunakan lampu kilat, saya bisa belajar banyak tentang pencahayaan (salah satu pilar utama fotografi) dan saya berharap membeli lampu kilat jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu kenapa sebagian besar dari kita berbondong-bondong memilih lensa berkualitas tinggi daripada lampu kilat? Ada beberapa asumsi yang terbersit di benak saya diantaranya:
  • Lampu kilat apalagi lampu studio itu mahal
  • Lampu kilat susah dipakai (tekniknya sulit dipelajari)
  • Sulit mendapatkan foto yang alami dengan lampu kilat

Sebenarnya asumsi itu tidak semuanya benar, misalnya lampu kilat itu sebenarnya tidak begitu mahal relatif dibandingkan dengan lensa dengan kualitas tinggi yang lebih dari 10 juta rupiah. Dengan 10 juta, Anda bisa mendapatkan 2 set lampu studio lengkap dengan payung, tas, dan sebagainya (buatan Cina tentunya hehe). Lampu kilat portable (yang bisa dipasang di atas kamera) rata-rata hanya dua jutaan per lampu.
Lalu, apakah lampu kilat susah dipakai? Nah untuk yang ini saya rasa ada benarnya. Bila kita mengunakan lampu kilat, eksposur cahaya tidak hanya bergantung pada bukaan, shutter speed dan ISO saja, tapi sudah ada variabel baru yaitu kekuatan flash, jarak flash terhadap subjek dan overlap antara cahaya flash dan cahaya lingkungan.
Dan apakah memakai flash membuat foto kelihatan tidak alami? Nah ini tergantung, flash bisa merusak foto bila tidak digunakan dengan baik, tapi akan menjadi luar biasa bila digunakan dengan benar. Untuk ini memang harus di pelajari tekniknya (lihat poin diatas).
Balik ke topik utama
Siapa yang memerlukan lensa, siapa memerlukan flash? Saya pikir ini balik lagi ke kepribadian dan jenis foto yang disukai:
  • Bila Anda menyukai suka foto di luar ruangan secara alami seperti pemandangan/landscape, street photography maka kemungkinan besar flash bukan aksesoris yang penting. Aksesoris seperti tripod yang kokoh, atau filter yang berkualitas mungkin lebih penting.
  • Bila Anda menyukai bekerja di dalam ruangan (studio) sehingga bisa bekerja kapan saja baik siang, malam, subuh, dan menyukai kemampuan mengendalikan pencahayaan secara total maka investasi ke sistem lampu kilat lah yang lebih penting daripada lensa.
  • Ada juga yang suka-dua-duanya atau campuran, yaitu fotografer yang menyukai mengunakan cahaya alami dan dipadu dengan lampu kilat. Untuk golongan ini, saya sarankan untuk mengatur dana yang cukup seimbang untuk lensa dan lampu kilat.

www.infofotografi.com

Segitiga emas fotografi

Kunci dari mendapatkan foto yang ideal tergantung dari segitiga emas fotografi. Segitiga emas fotografi adalah bukaan (aperture), kecepatan rana (shutter speed) dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan gelap terangnya sebuah foto.

BUKAAN / APERTURE

Aperture adalah bukaan lensa kamera dimana cahaya masuk. Bila bukaan besar, akan banyak cahaya yang masuk dibandingkan dengan bukaan kecil. Selain merupakan salah satu cara mengendalikan cahaya yang masuk, bukaan di gunakan juga untuk mengendalikan kedalaman ruang (depth of field / dof).
Dalam prakteknya, jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.
Bukaan juga bisa digunakan untuk mengendalikan kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.
Hal yang unik dan sering membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil. Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya
Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti f/3.5-5.6 berarti makimum bukaan bervariasi antara f/3.5 sampai f/ 5.6.

SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera bukan dari lensa.
Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:
  1. Kecepatan rana yang cepat membekukan (freeze) objek yang bergerak.
  2. Kecepatan rana yang lama menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.
Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.
ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.
Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.
Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Anda akan bisa membuat foto Anda menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Anda.
www.infofotografi.com

Mengendalikan Eksposur

Kadang saya mendapatkan pertanyaan dari murid saya, bagaimana cara memulai untuk setting bukaan, shutter speed dan ISO? nah tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang memiliki gaya dan kebiasaan yang berbeda-beda apalagi di jaman sekarang, dimana setiap kamera sudah punya banyak mode-mode otomatis dan semi otomatis yang canggih.
Nah, bagaimanakah gaya jaman orang dulu? sebelum kamera digital yang serba otomatis ini dibuat?
Pertama-tama adalah dengan menentukan ISO. Di jaman dulu, ISO disebut juga dengan ASA, yaitu tingkat kepekaan film. Nah, kita pertama-tama memilih film dengan ASA sesuai dengan kondisi cahaya tempat kita memotret. Di keadaan yang terang, kita memakai film dengan ASA 100 atau 200. Di kondisi yang agak gelap, kita memakai ISO 400 atau 800. Di tempat yang gelap sekali, kita memakai ISO 1600.
Hal ini bisa diaplikasikan juga di era fotografi digital. Kamera mode yang kita pakai adalah manual, supaya bisa mengendalikan nilai-nilai bukaan, shutter speed dan ISO.
Pertama-tama kita menetapkan ISO berdasarkan kondisi cahaya yang ada. Kemudian, tinggal mengatur bukaan yang dikehendaki sesuai dengan seberapa blur latar belakang yang diinginkan. Terakhir, kita tinggal mengatur shutter speed sesuai dengan kondisi cahaya yang ada.
Cara lain yang saya pakai dengan kamera Nikon adalah memanfaatkan fungsi auto ISO.
Kamera Nikon yang saya pakai D90 dan D700, dan sepertinya hampir semua kamera DSLR Nikon memiliki fungsi auto-ISO yang canggih. Ini bisa sangat membantu bila dimanfaatkan dengan baik.
auto-iso-nikonPertama-tama kita mengatur batas maksimum ISO yang dikehendaki. Semakin tinggi nilai ISOnya, fotonya akan semakin buruk, tapi ISO tinggi penting juga untuk mencegah foto terlalu gelap atau shutter speed menjadi terlalu rendah sehingga gambar blur. Biasanya saya set ISO minimum ke 200 dan maksimum ke ISO 1600. Hal ini karena ISO 3200 kualitas fotonya sudah terlalu buruk menurut saya untuk kamera Nikon D90. Untuk kamera full frame seperti Nikon D700, saya berani memakai sampai ISO 4000.
Kemudian saya mengatur minimum shutter speed minimum. Nah nilai ini tergantung dari lensa yang dipakai. Kalau lensanya panjang atau saya foto benda yang bergerak, saya set minimumnya agak cepat misalnya 1/250 detik supaya foto tidak blur.
Setelah itu, saya tinggal memakai mode kamera A/Av alias aperture priority untuk mengatur bukaan, kamera akan secara otomatis mencari nilai shutter speed dan ISO yang dikehendaki.
Keuntungan memakai cara ini dibanding cara tradisional adalah kita tidak usah repot mengubah setting shutter speed dan ISO dan juga tidak takut foto menjadi blur. Lalu keuntungan lainnya  adalah kita mendapatkan foto dengan nilai ISO yang lebih optimal daripada tetap di satu nilai saja.
Selamat berkreasi. Kalau bingung, silahkan baca-baca Segitiga emas fotografi atau ikuti kursus kilat fotografi untuk pemula.
www.infofotografi.com

Fashion Photography vs Portrait Photography

Sekilas, fashion photography dan portrait photography terlihat memiliki persamaan, sama-sama subjek fotonya adalah orang, dan kedua jenis foto berusaha membuat fotonya terlihat menarik. Kesuksesan sebuah foto juga tergantung pada keterampilan fotografer, pengetahuan fotografer atas gaya pakaian, make-up dan juga tim yang menunjang, seperti make-up artist, hair stylist, koreografer dan sebagainya.
Tapi banyak perbedaan mendasar antara fotografi portrait dengan fotografi fashion:
Fashion photography bertujuan untuk membuat baju yang di desain terlihat menarik sehingga orang ingin membelinya, sedangkan portrait fotografer bertujuan untuk menonjolkan karakter dan kepribadian dari subjek foto. Dalam upayanya, pengetahuan fotografer akan pencahayaan menjadi penting. Misalnya untuk menonjolkan tekstur sebuah baju, fotografer mengunakan cahaya yang cukup keras dengan kontras yang cukup tinggi. Sedangkan untuk memunculkan karakter lembut dari subjek foto portrait, fotografer mengunakan cahaya yang lembut. [ Baca: Beda cahaya keras dan lembut ]
Foto fashion oleh Javier Valhonrat. Fotografer ini mengunakan 
cahaya dan warna dengan baik sehingga pakaian model terlihat menarik
Foto fashion oleh Javier Valhonrat. Fotografer ini mengunakan cahaya dan warna dengan baik sehingga pakaian model terlihat menarik
Fashion fotografer biasanya berganti-ganti gaya mengikuti tren, karena fashion sendiri merupakan sesuatu yang sangat trendy, yaitu berubah-ubah dengan cepat. Sulit bagi seorang fotografer fashion yang tidak mengikuti trend, karena bila gayanya sama terus, maka kemungkinan fotografer fashion tidak akan dipakai oleh sebagian besar desainer.  Sedangkan sebagai portrait fotografer gayanya cenderung lebih sama, dan biasanya justru seorang fotografer portrait mendapat pekerjaan karena gayanya yang unik dan konsisten.
Untuk model fashion, pose pose ditujukan lebih untuk menonjolkan fitur pakaian yang dikenakan, tapi di portrait photography, pose-pose yang alami yang bisa memunculkan kepribadian subjek foto yang lebih penting.
Potret pelukis Henri Matisse oleh Henri Cartier-Bresson. Pose-pose
 alami lebih mudah didapatkan bila subjek foto berada di lingkungan yang
 nyaman dan familiar
Potret pelukis Henri Matisse oleh Henri Cartier-Bresson. Pose-pose alami lebih mudah didapatkan bila subjek foto berada di lingkungan yang nyaman dan familiar. Gaya fotografi Bresson juga tidak banyak berubah seiring waktu berjalan.
Ada juga fotografer yang menggabungkan kedua teknik fashion dan portrait, contohnya foto glamor, dimana fotografer berusaha membuat subjek foto terlihat cantik dan juga berusaha menonjolkan kepribadiannya.
Annie Leibovitz, fotografer portrait untuk majalah Vogue, memiliki
 gaya yang pencahayaan yang khas dan foto-foto potraitnya terkenal 
memunculkan kepribadian dan jiwa dari subjek fotonya
Annie Leibovitz, fotografer portrait untuk majalah Vogue, memiliki gaya yang pencahayaan yang khas dan foto-foto potraitnya terkenal memunculkan kepribadian dan jiwa dari subjek fotonya
Nah dari perbedaan-perbedaan diatas, saya tarik kesimpulan bahwa masing-masing jenis fotografi membutuhkan skill/keterampilan yang sedikit berbeda. Untuk menjadi fotografer portrait maupun fashion yang baik, dibutuhkan wawasan dan ketrampilan. Kemampuan menjalin hubungan yang baik dan membuat subjek foto nyaman dan mengambil momen yang tepat menjadi suatu yang sangat penting bagi fotografer portrait, dan pengetahuan akan gaya pakaian, tren fashion, penguasaan pencahayaan alami+buatan dan fleksibilitas dalam berganti gaya foto merupakan kemampuan yang penting bagi fotografer fashion.
www.infofotografi.com

Foto editing bagaimana yang bagus?

Sebagian foto yang tersebar di internet sudah melalui proses edit foto, biasanya melalui software pengolah foto seperti Adobe Photoshop. Lalu bagaimana edit foto yang baik dan benar? Karena foto editing ini seni, maka gak ada yang benar dan salah. Tapi tentunya ada juga editing yang lebih enak dilihat dan ada yang melewati batas kewajaran dan tidak begitu enak di pandang.
Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk mengedit foto. Bagi saya editing itu bertujuan untuk :
  1. Memperbaiki foto yang ada mungkin karena kamera dan lensa kita tidak bisa menangkap foto dengan baik. Misalnya lensa foto kita kurang tajam, atau perbedaan terang-gelap yang terlalu ekstrim sehingga tidak bisa ditangkap dengan baik oleh sensor kamera
  2. Membuat suasana/mood yang berbeda, misalnya membuat mood terkesan tua, suram, atau sebaliknya, semangat, antusias, heboh dan lain lain
  3. Membuat orang yang melihat foto kita fokus ke satu subjek daripada subjek yang lain atau latar belakang
Soal batasan, setiap jenis fotografi memiliki batasan-batasan tertentu, ada yang longgar, ada yang cukup ketat.
Jenis fotografi yang memiliki aturan ketat adalah fotojurnalisme, dimana seorang fotografer harus menampilkan foto apa adanya sesuai realitas yang ada. Tapi ada juga jenis fotografi komersial yang justru mengunakan editing dan manipulasi foto untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Fotografi komersial seperti untuk iklan. Manipulasi foto justru dianjurkan karena efisiensinya.
Contohnya daripada harus membawa model ke pantai, atau lokasi tertentu, maka fotografer komersial akan foto subjek tersebut di studio dan kemudian di gabungkan dengan foto pantai sebagai latar belakangnya. Hal ini menghemat ongkos, tenaga dan waktu.
Untuk foto travel / jalan-jalan, editing yang sukses adalah bisa memberikan kesan suasana atau mood tertentu. Misalnya foto bangunan kuno biasanya lebih bagus dan dramatis bila saturasi warnanya rendah atau monokrom. Bila kita foto acara budaya dengan pakaian tradisional yang berwarna-warni, maka editan dengan saturasi tinggi tentunya lebih cocok.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna 
monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Untuk foto portrait/model, editan yang bagus mempertimbangkan karakter subjek yang difoto, dan keseluruhan suasana foto baik subjek maupun latar belakangnya.
Sebenarnya bebas-bebas saja dalam mengedit foto, yang penting editan kita harus bisa memperkuat foto kita dan mengambarkan suasana/mood yang sesuai. Bila tidak, foto yang sudah baik malah menjadi tidak begitu baik dan membingungkan.
Setiap foto juga membutuhkan perlakuan yang berbeda, kita tidak bisa memaksakan perlakuan yang sama untuk semua foto dan mengharapkan mendapatkan foto yang bagus. Bagi fotografer pemula yang kurang pede, yang penting jangan terjebak dengan tren edit gaya tertentu dan ikut-ikutan. Kita punya pilihan untuk mengedit sesuai indentitas kita dan mengembangkan gaya sendiri.
Oke, daripada saya berteori ria terus, mari kita lihat contoh-contoh editan hehe
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak 
detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang 
bolong
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang bolong
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, 
menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi
 warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuannya
 adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana 
adem dan kesan tua.
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuan editing untuk foto ini adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana adem dan kesan tua.
Editing foto memberikan kesan yang berbeda pada foto portrait, perhatikan kedua foto dibawah ini
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi
 warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model 
yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga
 membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan 
tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Mungkin itu yang 
ingin disampaikan Harianto
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Yang kurang dari foto ini mungkin sayapnya aja. Mungkin itulah kesan yang ingin disampaikan Harianto
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, 
Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini 
relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan 
agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol 
merepresentasikan jiwa pemberontak. Hanya yang disayangkan, bila warna 
bajunya merah, tentuya lebih melengkapi suasana foto yang ingin 
disampaikan Hendra
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol merepresentasikan jiwa pemberontak. Komposisi foto satu badan menonjolkan keseksian daripada karakter/kepribadian. Hanya yang disayangkan, bila warna bajunya merah, tentunya lebih melengkapi suasana foto yang ingin disampaikan Hendra
Dari contoh diatas, kita bisa melihat dari satu foto model yang sama di komposisikan berbeda dan di edit dengan gaya yang berbeda. Yang mana yang terbaik tergantung dari apa yang ingin disampaikan fotografernya.
www.infofotografi.com